Aku pingin banget memanfaatkan hobi menulisku menjadi sebuah hasil.
Tapi ternyata menulis novel itu tidak semudah yang dibayangkan. Kalo cerpen, jujur aja sih aku dah berhasil nulis banyak cerpen. Cuman ya sama aja, nggak menghasilkan, cuma jadi konsumsi pribadi dan temen2 deket doang. Saat ini aku pingin nulis yang sekalian panjang, ya novel gitu.
Aku kalau menulis di blog gini, atau cerita ke temen2 tentang kejadian apapun, aku bisa lancar nggak berhenti2. Tapi ketika aku punya niat untuk memulai menulis novel, entah kenapa susah banget buat menjaga konsistensi. Sering banget cerita itu berhenti dengan sedirinya di halaman ke sekian belas. Dan akhirnya aku lupa kalo aku harus menulis.
Ada banyak ide yang ingin ku tuangkan di novelku nanti. Tapi untuk saat ini aku pingin fokus ke satu ide ini dulu. Ide ini udah aku bikin ringkasan ceritanya, karakter pemeran utamanya, bahkan aku sudah buat endingnya kayak gimana.
Nah kan tinggal nulis aja tuh.
Butuh support nih. Semoga aku berhasil konsisten dengan tulisanku ya gaes. Aku sih pinginnya nulis di hp aja. Biar aku bisa nulis dimana aja. Trs klo ada ide apapun, bisa langsung ditulis lewat hp.
Semoga aku bisa menyelesaikan novelku ya.
Doakan doakan. X-)
Minimal kelar aja deh. Urusan diterbitin atau enggak, itu urusan nanti. Tapi ya harus diterbitin dong kalo kelar. Hehe. Tapi ya itu tadi, yang penting kelar dulu sampe ending.
Aamiin. Bismillah.
Quote gak jelas tapi penting
Ini tulisan
Restu Dinda Kurnia
on Minggu, September 18, 2016
/
Comments: (0)
#edisimalesnulis
Beres-beres mau pulang.
A: Ada yg ketinggalan gak?
B: Hatiku ketinggalan. Tapi biarin deh ditinggal, udah remuk ini.
#embuhdeh
Kalo piring pecah, boleh lah dibiarin gitu aja. Bahkan kalo perlu dibuang aja.
Tapi kalo hati pecah, pungutlah pecahan-pecahan hati itu sedikit demi sedikit walau sakit, siapa tau nanti ada yang bantu untuk merakitnya kembali.
#galautiadaakhir
Galau itu adalah tahap menuju kedewasaan. Hanya bagaimana cara menyikapinya. Kalo meleset ya jadinya alay.
Temukan teman bicara yang baik menurutmu, bukan hanya sekedar loyal terhadapmu. Bisa saja itu hanya kedok. Jangan biarkan masa mudamu habis buat hal yang tidak penting. Pilahlah. Lalu buatlah hal baik menjadi menyenangkan.
#motivasidadakan
Beres-beres mau pulang.
A: Ada yg ketinggalan gak?
B: Hatiku ketinggalan. Tapi biarin deh ditinggal, udah remuk ini.
#embuhdeh
Kalo piring pecah, boleh lah dibiarin gitu aja. Bahkan kalo perlu dibuang aja.
Tapi kalo hati pecah, pungutlah pecahan-pecahan hati itu sedikit demi sedikit walau sakit, siapa tau nanti ada yang bantu untuk merakitnya kembali.
#galautiadaakhir
Galau itu adalah tahap menuju kedewasaan. Hanya bagaimana cara menyikapinya. Kalo meleset ya jadinya alay.
Temukan teman bicara yang baik menurutmu, bukan hanya sekedar loyal terhadapmu. Bisa saja itu hanya kedok. Jangan biarkan masa mudamu habis buat hal yang tidak penting. Pilahlah. Lalu buatlah hal baik menjadi menyenangkan.
#motivasidadakan
Ini Tentang Balas Budi
Ini tulisan
Restu Dinda Kurnia
on Senin, Mei 23, 2016
Kategori
cerita hidup,
curhat,
pengalaman
/
Comments: (0)
Aku selama ini berusaha berbuat baik walaupun semuanya tidak berbalik padaku.
Aku pikir semua pasti ada hikmahnya.
Tapi semua berubah setelah kejadian kemarin.
Aku berteman dengan dua orang yang sedang merintis bisnis mereka. Kebetulan kami kenal lumayan baik.
Aku sangat iri dengan mereka.
Posisi kami ada di suatu stand pameran di kawasan Jogja. Stand kami jadi satu, sehingga kami bisa bercerita dengan sangat intens.
Salah satunya (sebut saja Andin) cerita padaku kalau dia sedang sakit perut karena dismenore (nyeri haid).
Tapi dia bela-belain dateng karena dia tidak enak dengan partnernya (sebut saja Sofia).
Sofia telah susah payah mengurusi stand yang mereka sewa di suatu pameran.
Dan demi Andin yang sedang nyeri haid pun Sofia bela-belain datang awal membawa semua barang yang akan mereka jual di pameran itu. Padahal barangnya tidak sedikit. Itu saja masih harus membantu stand sebelah yang juga temannya.
Aku pikir Andin akan tidak datang. Tapi ternyata dia datang. Dengan perut yang nyeri, dia datang, merampungkan semuanya, membiarkan Sofia yang sudah riweuh dari tadi untuk istirahat.
Satu hal lagi yang membosankan di telingaku adalah, kata-kata "terimakasih" dan "maaf" nggak pernah lupa mereka ucapkan. Sampai tak terhitung kata-kata itu sampai berapa kali terucap.
Aku melihat feedback yang sempurna di persahabatan mereka.
Aku kulik lagi tentang mereka.
Aku mendapati cerita dari Andin, dia selalu memuji-muji Sofia dengan semua hal positif. "Dia itu baik banget mbak, untungnya dia pengertian. Kalau aku sedang riweuh, dia mau dateng ke tempatku. Padahal rumah kami berjarak sekitar 8 km."
Aku penasaran juga dengan pendapat Sofia, "Andin itu baik banget. Dia selalu ngerti kalau aku nggak selalu bisa ke tempatnya, jadi dia mau bela-belai dateng ke rumahku. Jemput aku. Gitu juga sebaliknya."
KLOP!
Ungkapan yang sama dan feedback yang sempurna.
Aku iri banget.
Walau berbuat baik itu harusnya tanpa pamrih, tapi alangkah indahnya jika feedback itu ada.
Tidak selalu ingin dimengerti, tapi juga berusaha mengerti orang lain.
Minimal jika tidak bisa melakukan hal itu untuk membalas, cobalah melakukan hal lain yang setara nilainya.
Tidak cuma dengan hal yang berbau "fisik" tapi juga "mental".
Ingat lah dulu siapa saja yang membuatmu jadi bahagia (misalnya) seperti sekarang ini. Ucapkan terima kasih, atau lakukan sesuatu untuk membalasnya walau dia tidak mau.
Paling tidak, agar tidak ada rasa "negative thinking" tentangmu yang bisa saja dicap "nggak tau diuntung".
Tapi kayaknya emang semuanya harus pelan-pelan. #sigh
Pertanyaannya: Pernahkah kamu membalas budi?
Aku pikir semua pasti ada hikmahnya.
Tapi semua berubah setelah kejadian kemarin.
Aku berteman dengan dua orang yang sedang merintis bisnis mereka. Kebetulan kami kenal lumayan baik.
Aku sangat iri dengan mereka.
Posisi kami ada di suatu stand pameran di kawasan Jogja. Stand kami jadi satu, sehingga kami bisa bercerita dengan sangat intens.
Salah satunya (sebut saja Andin) cerita padaku kalau dia sedang sakit perut karena dismenore (nyeri haid).
Tapi dia bela-belain dateng karena dia tidak enak dengan partnernya (sebut saja Sofia).
Sofia telah susah payah mengurusi stand yang mereka sewa di suatu pameran.
Dan demi Andin yang sedang nyeri haid pun Sofia bela-belain datang awal membawa semua barang yang akan mereka jual di pameran itu. Padahal barangnya tidak sedikit. Itu saja masih harus membantu stand sebelah yang juga temannya.
Aku pikir Andin akan tidak datang. Tapi ternyata dia datang. Dengan perut yang nyeri, dia datang, merampungkan semuanya, membiarkan Sofia yang sudah riweuh dari tadi untuk istirahat.
Satu hal lagi yang membosankan di telingaku adalah, kata-kata "terimakasih" dan "maaf" nggak pernah lupa mereka ucapkan. Sampai tak terhitung kata-kata itu sampai berapa kali terucap.
Aku melihat feedback yang sempurna di persahabatan mereka.
Aku kulik lagi tentang mereka.
Aku mendapati cerita dari Andin, dia selalu memuji-muji Sofia dengan semua hal positif. "Dia itu baik banget mbak, untungnya dia pengertian. Kalau aku sedang riweuh, dia mau dateng ke tempatku. Padahal rumah kami berjarak sekitar 8 km."
Aku penasaran juga dengan pendapat Sofia, "Andin itu baik banget. Dia selalu ngerti kalau aku nggak selalu bisa ke tempatnya, jadi dia mau bela-belai dateng ke rumahku. Jemput aku. Gitu juga sebaliknya."
KLOP!
Ungkapan yang sama dan feedback yang sempurna.
Aku iri banget.
Walau berbuat baik itu harusnya tanpa pamrih, tapi alangkah indahnya jika feedback itu ada.
Tidak selalu ingin dimengerti, tapi juga berusaha mengerti orang lain.
Minimal jika tidak bisa melakukan hal itu untuk membalas, cobalah melakukan hal lain yang setara nilainya.
Tidak cuma dengan hal yang berbau "fisik" tapi juga "mental".
Ingat lah dulu siapa saja yang membuatmu jadi bahagia (misalnya) seperti sekarang ini. Ucapkan terima kasih, atau lakukan sesuatu untuk membalasnya walau dia tidak mau.
Paling tidak, agar tidak ada rasa "negative thinking" tentangmu yang bisa saja dicap "nggak tau diuntung".
Tapi kayaknya emang semuanya harus pelan-pelan. #sigh
Pertanyaannya: Pernahkah kamu membalas budi?
Aku menangis untuk ke sekian kalinya
Ini tulisan
Restu Dinda Kurnia
on Selasa, April 26, 2016
/
Comments: (0)
Lagi-lagi aku menangis.
Ya!
Rasanya aku memang nggak mau buka sosmed lagi. Tapi demi bisnis kecilku yang bener-bener nggak seberapa, aku harus beranikan diri buat buka sosmed.
Aku melihat mereka sudah memiliki kesuksesan mereka masing-masing.
Sukses berkeluarga.
Sukses bekerja.
Sukses sekolah lagi.
Sukses berbisnis.
Memiliki teman-teman baru.
Sedangkan aku yang gini-gini aja.
Aku tau kalau jodoh dan rejeki sudah ada yang ngatur. Setelah aku mulai anteng dengan kegelisahan itu, sambil ikhtiar aku terus berusaha menggapai kedua hal itu.
Tapi, ternyata belum selesai disitu, aku menguak lagi beban yang ada. Ternyata bukan cuma dua hal itu, tapi juga tentang pertemanan.
Semakin kesini aku semakin sulit mendapat teman, sulit menemukan cinta, sulit menerima keadaan.
Semakin kesini pula aku semakin dijauhi teman, bukan karena apa-apa, tapi karena mereka jelas punya kepentingannya masing-masing. Sehingga, mana peduli dengan kepentinganku yang sebenarnya butuh mereka.
Semakin tua umur ini, semakin aku tak mau menua, semakin aku tak bisa berpikir jernih.
Yang ku tau, aku hanyalah menjalani hidup, dan hidup aja gitu.. Hidup yang cuma hidup aja, kayak monyet gitu katanya.
Semakin banyak aku bercerita tentang pelampiasan rasa sepiku, semakin menghindarlah mereka yang katanya teman itu.
Hari ini aja aku udah melihat nyata bahwa teman-temanku telah menemukan "teman" baru sehingga mereka melupakan teman bodoh sepertiku.
Aku mungkin butuh waktu yang cukup lama untuk menemukan teman-teman seperti mereka. Secara aku adalah orang yang besar dengan rasa krisis kepercayaan yang tinggi. Aku nggak mudah mempercayai orang untuk menjadi teman. Dan ternyata, semakin tua, aku semakin tidak bisa mempercayai orang lain.
Maka, sendiri lah aku di sini.
Tanpa siapa-siapa.
Bahagiaku akan tumbuh ketika aku bersama kalian, wahai teman.
Teman yang mungkin tak lagi menganggapku sebagai teman.
Umurku memang segini, tapi aku nggak tau kenapa, perasaan mentalku stuck di umur 17 tahun.
Apa yang salah dari ku?
Apa yang sebenarnya akan ditunjukkan padaku?
Aku masih belum menemukannya.
Dan kini aku masih terus menangis. Terlihat ataupun tidak.
Nyatanya, nggak ada yang bisa menenangkan ku ketika aku menangis.
Yang mereka pikirkan, "Aku terlalu drama."
Hahahaha... BUAT APAAA??
"Kalau memang nggak ingin melihat orang bahagia, ya nggak usah buka sosmed lah."
Ya!
Rasanya aku memang nggak mau buka sosmed lagi. Tapi demi bisnis kecilku yang bener-bener nggak seberapa, aku harus beranikan diri buat buka sosmed.
Aku melihat mereka sudah memiliki kesuksesan mereka masing-masing.
Sukses berkeluarga.
Sukses bekerja.
Sukses sekolah lagi.
Sukses berbisnis.
Memiliki teman-teman baru.
Sedangkan aku yang gini-gini aja.
Aku tau kalau jodoh dan rejeki sudah ada yang ngatur. Setelah aku mulai anteng dengan kegelisahan itu, sambil ikhtiar aku terus berusaha menggapai kedua hal itu.
Tapi, ternyata belum selesai disitu, aku menguak lagi beban yang ada. Ternyata bukan cuma dua hal itu, tapi juga tentang pertemanan.
Semakin kesini aku semakin sulit mendapat teman, sulit menemukan cinta, sulit menerima keadaan.
Semakin kesini pula aku semakin dijauhi teman, bukan karena apa-apa, tapi karena mereka jelas punya kepentingannya masing-masing. Sehingga, mana peduli dengan kepentinganku yang sebenarnya butuh mereka.
Semakin tua umur ini, semakin aku tak mau menua, semakin aku tak bisa berpikir jernih.
Yang ku tau, aku hanyalah menjalani hidup, dan hidup aja gitu.. Hidup yang cuma hidup aja, kayak monyet gitu katanya.
Semakin banyak aku bercerita tentang pelampiasan rasa sepiku, semakin menghindarlah mereka yang katanya teman itu.
Hari ini aja aku udah melihat nyata bahwa teman-temanku telah menemukan "teman" baru sehingga mereka melupakan teman bodoh sepertiku.
Aku mungkin butuh waktu yang cukup lama untuk menemukan teman-teman seperti mereka. Secara aku adalah orang yang besar dengan rasa krisis kepercayaan yang tinggi. Aku nggak mudah mempercayai orang untuk menjadi teman. Dan ternyata, semakin tua, aku semakin tidak bisa mempercayai orang lain.
Maka, sendiri lah aku di sini.
Tanpa siapa-siapa.
Bahagiaku akan tumbuh ketika aku bersama kalian, wahai teman.
Teman yang mungkin tak lagi menganggapku sebagai teman.
Umurku memang segini, tapi aku nggak tau kenapa, perasaan mentalku stuck di umur 17 tahun.
Apa yang salah dari ku?
Apa yang sebenarnya akan ditunjukkan padaku?
Aku masih belum menemukannya.
Dan kini aku masih terus menangis. Terlihat ataupun tidak.
Nyatanya, nggak ada yang bisa menenangkan ku ketika aku menangis.
Yang mereka pikirkan, "Aku terlalu drama."
Hahahaha... BUAT APAAA??
Status orang yg berbuah pemikiran (masih tentang 'itu')
Kapan itu aku liat status orang di fb lagi share video ttg peristiwa ijab qabul yg lucu-lucu gt. Terus aku liat komentar yang ada di bawahnya, "Wah, udah mulai share kayak gini nih, tanda-tanda udah mau rencana.. Hbs itu mulai share ttg polah bayinih pasti."
Dari komentar itu, jadi terbesit pemikiran yang menyatakan bahwa aku setuju sama pernyataan itu. Bener juga ya, kebanyakan orang yang ngeshare video atau artikel kayak gitu, pasti sedang mengalaminya atau minimal akan mengalaminya.
Misal, baru mau nikah, share artikel prewed, atau gaun-gaun, atau desain undangan, sovenir unik, atau apapunlah.. Habis nikah, ntar share ttg keluarga, suami-istri, cara mengerti pasangan, atau apapun itu.
Yang ketara bgt itu adalah ketika udah mulai hamil, statusnya udah mulai share ttg kehamilan, atau treatment-treatment selama 9 bulan, dan sebagainya. Lalu dilanjutkan setelah melahirkan, share ttg polah lucu bayi atau cara merawat bayi yang benar menurut pakar, atau pakaian-pakaian lucu bayi..
Itu selalu terjadi, dan home fb ku udah mulai penuh dengan hal-hal itu. Ini tandanya sebagian banyak temenku udah siap menikah dan bahkan udah menikah dan punya anak. Kecuali yang bisa menahan diri, mereka nggak akan share hal-hal seperti itu (mungkin).
Sejauh pengamatanku sih kayak gitu. Dan sejauh yang kurasakan juga, aku belum sampai tahap yang pertama. Hmmm... kini aku mulai berpikir, lalu apa yang terjadi padaku? Sepertinya aku menjadi minoritas yang tidak memikirkan itu.
Atau sebenarnya sudah terbesit, tapi aku termasuk yang menahan diri?
Entahlah..
Lalu, apa artinya aku ngeshare tulisan kayak gini? Hmmm.. ini masih menjadi misteri..
.
.
.
Dari komentar itu, jadi terbesit pemikiran yang menyatakan bahwa aku setuju sama pernyataan itu. Bener juga ya, kebanyakan orang yang ngeshare video atau artikel kayak gitu, pasti sedang mengalaminya atau minimal akan mengalaminya.
Misal, baru mau nikah, share artikel prewed, atau gaun-gaun, atau desain undangan, sovenir unik, atau apapunlah.. Habis nikah, ntar share ttg keluarga, suami-istri, cara mengerti pasangan, atau apapun itu.
Yang ketara bgt itu adalah ketika udah mulai hamil, statusnya udah mulai share ttg kehamilan, atau treatment-treatment selama 9 bulan, dan sebagainya. Lalu dilanjutkan setelah melahirkan, share ttg polah lucu bayi atau cara merawat bayi yang benar menurut pakar, atau pakaian-pakaian lucu bayi..
Itu selalu terjadi, dan home fb ku udah mulai penuh dengan hal-hal itu. Ini tandanya sebagian banyak temenku udah siap menikah dan bahkan udah menikah dan punya anak. Kecuali yang bisa menahan diri, mereka nggak akan share hal-hal seperti itu (mungkin).
Sejauh pengamatanku sih kayak gitu. Dan sejauh yang kurasakan juga, aku belum sampai tahap yang pertama. Hmmm... kini aku mulai berpikir, lalu apa yang terjadi padaku? Sepertinya aku menjadi minoritas yang tidak memikirkan itu.
Atau sebenarnya sudah terbesit, tapi aku termasuk yang menahan diri?
Entahlah..
Lalu, apa artinya aku ngeshare tulisan kayak gini? Hmmm.. ini masih menjadi misteri..
.
.
.
YA ampun gue sensi banget....!
Masih perihal curhatan masa kini. Umur-umur segini emang banyak sensi. Katanya, aku jadi lebih sensi setelah masuk umur 25. (yaiyalah)
Tapi seandainya tuntutan dari segala arah nggak ada, mungkin aku nggak se-sensi ini.
Apa yang membuatku sensi saat ini adalah:
1. Kerja di mana?
2. Kapan nikah?
Aku santai dengan ini, sebelumnya, karena aku punya pegangan bahwa rejeki dan jodoh itu udah ada yang ngatur.
Tapi coba bayangkan...
Jika kamu adalah:
- anak perempuan,
- bungsu,
- punya satu kakak yang udah jauh merantau dgn keluarganya,
- umur 25 hampir 26,
- sarjana tapi belum juga dapet kerja tetap,
- JOMBLO,
- merupakan cucu paling tua yang belum nikah (baik dari pihak keluarga ibu atau bapak),
- dicerca dua pertanyaan tadi (plus turunannya) oleh pihak manapun yang ada di depanmu.
- dan statement: "Keluarga udah siap sama panitia mantennya."
Coba apa yang kamu rasakan?
Nggak bisa membayangkan kan?
Merasa nggak peduli kan?
Atau merasa itu hal sepele?
Persis sama tanggapanku ke orang yang sering cerita tentang kehidupannya dan aku gak peduli. Karena aku cuma ngrasa itu hanyalah teori, tulisan belaka, nggak terjadi di hidupku.
Aku masih berusaha menerima cerita-cerita dari berbagai pihak, tapi aku lebih bisa memahami jika aku pernah merasakan itu.
Semua kesensianku muncul dari pertanyaan lubuk hati: "Kenapa harus aku yang begini tapi mereka nggak? Kan jadi nggak ada yang tau perasaanku."
Tapi seketika sensiku memudar ketika ada seorang teman bilang, "Semangat Ni, kamu bisa melaluinya lebih baik dari aku. Kamu juga akan dapat rejeki yang sesuai dengan usahamu. Masalah jodoh, serahkan saja sama Allah. Semoga mendapatkan yang terbaik buat kamu."
Sepatutnya teman memang harusnya begitu.
Bukan datang memberi kabar bahagia lalu pergi dengan tidak menghibur teman yang sedang sedih.
Mungkin itu yang buat aku sensi saat ini...
Silakan berucap tentang kehidupan kalian, tapi jangan lupa doakan teman yang sedang berjuang. Nggak boleh gengsi ya, Nia!
Makasih buat semua pihak yang mengingatkan.
(makasih juga yaa buat kamu yang kuharapkan nggak cuma jadi teman. hahaha)
Tapi seandainya tuntutan dari segala arah nggak ada, mungkin aku nggak se-sensi ini.
Apa yang membuatku sensi saat ini adalah:
1. Kerja di mana?
2. Kapan nikah?
Aku santai dengan ini, sebelumnya, karena aku punya pegangan bahwa rejeki dan jodoh itu udah ada yang ngatur.
Tapi coba bayangkan...
Jika kamu adalah:
- anak perempuan,
- bungsu,
- punya satu kakak yang udah jauh merantau dgn keluarganya,
- umur 25 hampir 26,
- sarjana tapi belum juga dapet kerja tetap,
- JOMBLO,
- merupakan cucu paling tua yang belum nikah (baik dari pihak keluarga ibu atau bapak),
- dicerca dua pertanyaan tadi (plus turunannya) oleh pihak manapun yang ada di depanmu.
- dan statement: "Keluarga udah siap sama panitia mantennya."
Coba apa yang kamu rasakan?
Nggak bisa membayangkan kan?
Merasa nggak peduli kan?
Atau merasa itu hal sepele?
Persis sama tanggapanku ke orang yang sering cerita tentang kehidupannya dan aku gak peduli. Karena aku cuma ngrasa itu hanyalah teori, tulisan belaka, nggak terjadi di hidupku.
Aku masih berusaha menerima cerita-cerita dari berbagai pihak, tapi aku lebih bisa memahami jika aku pernah merasakan itu.
Semua kesensianku muncul dari pertanyaan lubuk hati: "Kenapa harus aku yang begini tapi mereka nggak? Kan jadi nggak ada yang tau perasaanku."
Tapi seketika sensiku memudar ketika ada seorang teman bilang, "Semangat Ni, kamu bisa melaluinya lebih baik dari aku. Kamu juga akan dapat rejeki yang sesuai dengan usahamu. Masalah jodoh, serahkan saja sama Allah. Semoga mendapatkan yang terbaik buat kamu."
Sepatutnya teman memang harusnya begitu.
Bukan datang memberi kabar bahagia lalu pergi dengan tidak menghibur teman yang sedang sedih.
Mungkin itu yang buat aku sensi saat ini...
Silakan berucap tentang kehidupan kalian, tapi jangan lupa doakan teman yang sedang berjuang. Nggak boleh gengsi ya, Nia!
Makasih buat semua pihak yang mengingatkan.
(makasih juga yaa buat kamu yang kuharapkan nggak cuma jadi teman. hahaha)
Sakit itu tak selalu nampak
Ini tulisan
Restu Dinda Kurnia
on Sabtu, Maret 26, 2016
Kategori
cerita hidup,
curhat,
friendship
/
Comments: (0)

Aku hanya menceritakan tentang perasaan terdalam ku, sebagai cewek yang ditinggal teman terdekatnya. Ditinggal demi orang lain yang telah berkomitmen untuk masa depannya.
Aku kadang mbatin, jangan-jangan hanya aku yang mikir kayak gini. Ternyata beberapa teman dan sepupuku merasakan hal yang sama. Ketika aku menanyakan, "Apa yang sebenarnya kalian rasakan ketika satu teman dekat kalian nikah, padahal seharusnya kalian masih bisa menikmati hari menyenangkan bersama?"
Jawabannya sama. "Itu sangat menjengkelkan dan membuat jarak yang jauh secara tiba-tiba."
Ketika kami yang sedang bahagia-bahagianya mempunyai teman dekat, dan secara dini ada teman dekat menikah. Menikah di saat kami belum siap untuk menemukan teman baru... Itu terkadang yang membuat kami benci dengan pernikahan. Selain sebal, nggak jarang juga jadi bahan perbandingan di keluarga. "Itu si X udah nikah, kamu kapan?"
Yakk. Hal itu terjadi padaku.
Tp bukan kebencian ini yang akan aku bahas. Melainkan perasaan yang ditinggal nikah.
Aku sebagai pengamat yang baperan ini, telah merasakan rasa sakit hati yang sepedih ini setidaknya dua kali.
Pertama saat ada teman seangkatan wisuda lebih dulu (dan pamer toga di sosmed). Kedua, saat teman dekat menikah lebih dulu (yang kemudian pamer kemesraan di sosmed).
Kami (para teman yang ditinggal nikah) merasakan hal yang pedih bertubi-tubi. Pertama ketika mendengar rencana pernikahan, menerima undangan, dan kenyataan bahwa akan terjadi jarak di antara kita. (Cieee. Ups. Ini serius.)
Kata salah satu teman, "Aku paling nggak suka kalo ada temen yang udah nikah duluan. Semuanya pasti bakal beda. Misal diajak ngumpul, bilangnya pasti selalu 'sorry aku gak bisa, aku harus nunggu suami pulang' atau kalo enggak 'wah mau dong ikut, tapi istriku ikut ya.' Itu bikin maless."
Sepupuku bahkan bilang gini, "Dia sadar dia udah nikah duluan, sedangkan kami yang ngajak ngumpul belum pada nikah dan masih gini-gini aja. Dipikir kami gak cemburu? Kami sebel dan cemburu. Mana pake pamer suap-suapan pula. Nggak sopan!"
Aku nggak nyangka ternyata ada juga orang lain yang berpikiran sama denganku.
Jodoh memang sudah ditentukan. Tapi perasaan dan persahabatan bisa saja rusak karena adanya ikatan pernikahan.
Aku pernah dimarahi sama temen sendiri gara-gara aku menyakiti perasaan orang hamil. Dan memang orang yang udah nikah dan hamil atau punya anak itu pasti akan memiliki kehidupan barunya (juga lebih diperhatikan -- ya sama pasangan, sama teman, sodara, mertua, semua..).
Dan mereka sudah tidak mempedulikan kami yang merasa ditinggalkan, yang sebenarnya masih butuh seorang teman yang seperti mereka.
Teman yang sama, bukan teman yang tiba-tiba berubah jadi orang tua yang sok ngatur kayak yang ada di rumah.
Ada satu teman lagi bilang, "Emang ya, kalo udah emak-emak itu temennya ya sama emak-emak yang lain. Bukan sama kita yang masih ngunyah permen karet."
"Dan pemikiran orang yang udah kerja juga jadi beda, udah nggak seasik dulu lagi. Mereka jadi sok nasehati gitu." lanjutnya.
Umur udah tua, tapi jodoh ada yang ngatur. Maka sempurna lah kesakitan ini akan terus menggerus, karena semakin lama, akan semakin banyak teman-teman yang meninggalkanku.
Aku akan semakin jauh dengan mereka, dan aku cuma bisa ngomong sama tembok (lagi).
Aku bisa sangat memaklumi semua yang telah terjadi. Karena ini lah kenyataannya. Tapi aku sangat tidak terima jika, aku harus selalu memahami keadaan mereka sedangkan mereka tidak memahami keadaanku (keadaan kami untuk pada umumnya).
Mungkin mereka hanya menganggap kami sebagai pengacau dan pembuat onar di kehidupan rumah tangga teman kami sendiri. Tapi sebenarnya.... kami tak sudi teman kami direbut orang yang baru saja dikenalnya lalu diajak menikah lalu semena-mena menjauhkan kami dengan teman kami.
Kami juga punya hati.
#suarahatiyangditinggalpergi
Ini yang harus disiapkan kalo mau ganti kelas bpjs kesehatan
Ini tulisan
Restu Dinda Kurnia
on Selasa, Maret 15, 2016
Kategori
curhat,
jogja,
pengalaman
/
Comments: (0)
Yang butuh ganti kelas di bpjs, saya bakal kasih infonya.. Terutama di kota Jogja. Semoga di kota-kota lain juga sama.
Oiya, sebelumnya, udah tau kan kalo mulai april 2016 iuran bpjs mau naik? Naiknya jauh banget pulaa..
Tapi sebenernya saya mau ganti kelas bukan karena iuran yang naik, tapi karena di faskes saya itu kalopun saya pake bpjs kelas 1, nantinya saya tetep dapet kelas 2. Kenapa? Karena antri ruangan inapnya puanjangg..
Eee... Tapi kok ternyata ada berita bahwa iuran bakal naik, ya sekalian aja. Biar nggak terlalu kaget besoknya.
Syarat buat yang mau ganti kelas bpjs:
1. Masa aktif harus sudah 1 tahun. Cek di kartu bpjs mu, di bawah barcode itu ada tanggalnya. Biar gak sia-sia pas udah antri ke kantor bpjs, eee kok ternyata belum bisa diproses.. Ini lah yang terjadi padaku. Kurang seminggu doank padahal.
2. Bawa kartu bpjs. Buat jaga-jaga sekalian bawa fotokopiannya juga.
3. Bawa ktp dan fotokopinya.
4. Bawa kartu keluarga dan fotokopinya. Klo ini kyknya yg asli gak usah dibawa gak papa. Tapi apa salahnya jaga-jaga. Daripada bolak balik gt.
5. Bawa buku tabungan yang buat bayar iuran dan fotokopinya. Ini penting karena mengubah kelas itu kaitannya sama iuran alias duit. (Ini aku tadi lupa, jadi aku harus balik ke rumah lagi gt.)
6. Dateng ke kantor bpjs pagi-pagi, kalo perlu sebelum kantornya buka. Yakin deh, pasti udah banyak yang ngantri sebelum kamu dateng. Khusus kota Jogja: kalo yang bpjs mandiri, kantornya di utara balai kota. Kalo yang pns dan instansi, kantornya di gedongtengen.
Jangan kaget juga kalo pas ngantri, walaupun kamu dapet antrian nomor awal (nomor 3 misalnya), kamu bakal tetep nunggu lamaaa... Karena satu kostumer paling cepet dilayani selama 15 menit.
Dah itu aja deh ceritaku. Ini pengalamanku waktu pingin ganti kelas dari kelas 1 ke kelas 2. Semoga bermanfaat..
Oiya, sebelumnya, udah tau kan kalo mulai april 2016 iuran bpjs mau naik? Naiknya jauh banget pulaa..
Tapi sebenernya saya mau ganti kelas bukan karena iuran yang naik, tapi karena di faskes saya itu kalopun saya pake bpjs kelas 1, nantinya saya tetep dapet kelas 2. Kenapa? Karena antri ruangan inapnya puanjangg..
Eee... Tapi kok ternyata ada berita bahwa iuran bakal naik, ya sekalian aja. Biar nggak terlalu kaget besoknya.
Syarat buat yang mau ganti kelas bpjs:
1. Masa aktif harus sudah 1 tahun. Cek di kartu bpjs mu, di bawah barcode itu ada tanggalnya. Biar gak sia-sia pas udah antri ke kantor bpjs, eee kok ternyata belum bisa diproses.. Ini lah yang terjadi padaku. Kurang seminggu doank padahal.
2. Bawa kartu bpjs. Buat jaga-jaga sekalian bawa fotokopiannya juga.
3. Bawa ktp dan fotokopinya.
4. Bawa kartu keluarga dan fotokopinya. Klo ini kyknya yg asli gak usah dibawa gak papa. Tapi apa salahnya jaga-jaga. Daripada bolak balik gt.
5. Bawa buku tabungan yang buat bayar iuran dan fotokopinya. Ini penting karena mengubah kelas itu kaitannya sama iuran alias duit. (Ini aku tadi lupa, jadi aku harus balik ke rumah lagi gt.)
6. Dateng ke kantor bpjs pagi-pagi, kalo perlu sebelum kantornya buka. Yakin deh, pasti udah banyak yang ngantri sebelum kamu dateng. Khusus kota Jogja: kalo yang bpjs mandiri, kantornya di utara balai kota. Kalo yang pns dan instansi, kantornya di gedongtengen.
Jangan kaget juga kalo pas ngantri, walaupun kamu dapet antrian nomor awal (nomor 3 misalnya), kamu bakal tetep nunggu lamaaa... Karena satu kostumer paling cepet dilayani selama 15 menit.
Dah itu aja deh ceritaku. Ini pengalamanku waktu pingin ganti kelas dari kelas 1 ke kelas 2. Semoga bermanfaat..
Mereka pikir aku....
Mereka pikir aku pengecut..
Mereka pikir aku nggak mau berubah..
Mereka pikir aku payah..
Mereka pikir aku penakut...
Dan semua kata-kata mereka tentang aku yang masih aja di Jogja sampai saat ini.
Bahkan mereka pikir aku terlalu menutup diri buat lingkungan baru.
Mereka tidak tahu betapa sulitnya menjadi aku yang tidak bisa sebebas mereka.
Tinggal lama di Jogja memang nyaman. Sekaligus membuatku menjadi kurang pengalaman di bidang perbolangan.
Cari kerja di Jogja sangat sulit, maka mereka yang bilang aku pengecut itu memilih untuk melenggang jauh dari Jogja. Demi materi.
Aku ingin seperti mereka, aku sangat mampu. Tapi aku tak bisa.
Ketidakbisaanku ini bukan tanpa alasan. Dan kebanyakan mereka tidak menerima alasanku.
Aku anak terakhir yang sangat sayang orang tua. Yang tidak tega meninggalkan orang tua sendiri di rumah.
Apa jadinya jika mereka tanpa aku. Yaa kurang lebih seperti itu.
Kalian yang sudah pergi keliling dunia itu pastilah telah mendapat ijin untuk pergi, berbuat yang membanggakan. Apa jadinya jika orang tua kalian tidak memberi ijin? Atau memberi ijin, tapi terpaksa. Dengan kata-kata khas orang tua, "Ya udah sana terserah."
Bagiku, itu bukan artinya memberi ijin. Itu sulit dimengerti. Dan itu yang membuatku akhirnya tetap tinggal di Jogja, dengan tumpukan lamaran kerja yang tak kunjung mendapat jawaban. Bahkan jika terjawab pun, hanya sampai di tahap wawancara, dan tidak lolos.
Aku nggak ngerti ya, mereka pikir aku harus kerja di luar Jogja dengan pendidikanku yang seperti ini. Tapi aku tidak ingin. Aku nggak mau menyia-nyiakan kebersamaanku dengan keluarga. Menurutku, kebahagiaan orang tua dan berpiknik bersama mereka itu melebihi dari semua materi yang ada. Aku nggak mau pergi dari rumah ini. Biarkan aku besar di rumah kecil ini, asalkan aku selalu bersama orang tua ku. Setelah kakakku satu-satunya berhijrah ke kota orang, tinggal lah aku di sini yang harus menjaga mereka.
Intinya mah... Why? Mengapa? Mengapa cari kerja di Jogja susah banget sihh...
Mereka pikir aku nggak mau berubah..
Mereka pikir aku payah..
Mereka pikir aku penakut...
Dan semua kata-kata mereka tentang aku yang masih aja di Jogja sampai saat ini.
Bahkan mereka pikir aku terlalu menutup diri buat lingkungan baru.
Mereka tidak tahu betapa sulitnya menjadi aku yang tidak bisa sebebas mereka.
Tinggal lama di Jogja memang nyaman. Sekaligus membuatku menjadi kurang pengalaman di bidang perbolangan.
Cari kerja di Jogja sangat sulit, maka mereka yang bilang aku pengecut itu memilih untuk melenggang jauh dari Jogja. Demi materi.
Aku ingin seperti mereka, aku sangat mampu. Tapi aku tak bisa.
Ketidakbisaanku ini bukan tanpa alasan. Dan kebanyakan mereka tidak menerima alasanku.
Aku anak terakhir yang sangat sayang orang tua. Yang tidak tega meninggalkan orang tua sendiri di rumah.
Apa jadinya jika mereka tanpa aku. Yaa kurang lebih seperti itu.
Kalian yang sudah pergi keliling dunia itu pastilah telah mendapat ijin untuk pergi, berbuat yang membanggakan. Apa jadinya jika orang tua kalian tidak memberi ijin? Atau memberi ijin, tapi terpaksa. Dengan kata-kata khas orang tua, "Ya udah sana terserah."
Bagiku, itu bukan artinya memberi ijin. Itu sulit dimengerti. Dan itu yang membuatku akhirnya tetap tinggal di Jogja, dengan tumpukan lamaran kerja yang tak kunjung mendapat jawaban. Bahkan jika terjawab pun, hanya sampai di tahap wawancara, dan tidak lolos.
Aku nggak ngerti ya, mereka pikir aku harus kerja di luar Jogja dengan pendidikanku yang seperti ini. Tapi aku tidak ingin. Aku nggak mau menyia-nyiakan kebersamaanku dengan keluarga. Menurutku, kebahagiaan orang tua dan berpiknik bersama mereka itu melebihi dari semua materi yang ada. Aku nggak mau pergi dari rumah ini. Biarkan aku besar di rumah kecil ini, asalkan aku selalu bersama orang tua ku. Setelah kakakku satu-satunya berhijrah ke kota orang, tinggal lah aku di sini yang harus menjaga mereka.
Intinya mah... Why? Mengapa? Mengapa cari kerja di Jogja susah banget sihh...
BEGOO!!
Ini tulisan
Restu Dinda Kurnia
on Senin, Februari 22, 2016
/
Comments: (0)
Akhir-akhir ini aku merasa sangat sedih... Kenapa? Karena aku sangat bodoh tidak bisa menerima kebahagiaan orang lain.
Aku ngrasa ketika mereka bahagia dan aku sedang tidak bahagia, itu semuanya tidak adil. Apalagi mereka yang sering menunjukkan kebahagiaannya di sosmed atau apapun itu.
Aku masih ngrasa bodoh ketika semua kebaikanku yang kuberikan ke mereka, malah aku ungkit-ungkit demi feedback dari mereka. Kata Egha, temen seperjuanganku, mengharapkan feedback dari oranglain atas kebaikan kita adalah mitos.
Dan bodohnya lagi, ketika aku mengatakan pada orang bahwa hidup janganlah idealis. Nyatanya akulah orang paling idealis di kehidupanku sendiri. Menghadapi diri sendiri adalah hal terberat bagiku.
Seketika semua kebodohanku muncul, orang lain di sekitarku pun mengatakan hal yang sama. Bahwa aku BEGO!!
Sampai sini aku masih belum bisa menerima keadaan. Semua keadaan yang ada di hadapanku. Yang kurasa itu adalah malapetaka bagiku. Nggak bisa!
Aku sudah mulai gila sekarang. Dari dalam diriku mengolok-olokku, ditambah orang lain yang dengan semena-menanya menjatuhkanku. Kubenturkan kepala ke tembok. Aku berharap amnesia. Lupa dengan semua keadaan. Sehingga semua orang memaklumi keadaanku.
Oke. Ini titik paling berat dalam hidupku.
Dari semua yang terjadi, aku tak mendapatkan hikmah apapun KECUALI kesabaranku sedang diuji. Dengan sikap yang masih seperti ini, tidak mungkin Allah memberikan amanah apapun padaku.
Maka, aku harus lalui semua ini dengan tegar dan selalu berusaha. Aamiin..
Walau ketegaran itu tak selamanya menyenangkan.
NB: ngomong-ngomong mataku kok gini amat ya
(Nulis di tablet)
Aku ngrasa ketika mereka bahagia dan aku sedang tidak bahagia, itu semuanya tidak adil. Apalagi mereka yang sering menunjukkan kebahagiaannya di sosmed atau apapun itu.
Aku masih ngrasa bodoh ketika semua kebaikanku yang kuberikan ke mereka, malah aku ungkit-ungkit demi feedback dari mereka. Kata Egha, temen seperjuanganku, mengharapkan feedback dari oranglain atas kebaikan kita adalah mitos.
Dan bodohnya lagi, ketika aku mengatakan pada orang bahwa hidup janganlah idealis. Nyatanya akulah orang paling idealis di kehidupanku sendiri. Menghadapi diri sendiri adalah hal terberat bagiku.
Seketika semua kebodohanku muncul, orang lain di sekitarku pun mengatakan hal yang sama. Bahwa aku BEGO!!
Sampai sini aku masih belum bisa menerima keadaan. Semua keadaan yang ada di hadapanku. Yang kurasa itu adalah malapetaka bagiku. Nggak bisa!
Aku sudah mulai gila sekarang. Dari dalam diriku mengolok-olokku, ditambah orang lain yang dengan semena-menanya menjatuhkanku. Kubenturkan kepala ke tembok. Aku berharap amnesia. Lupa dengan semua keadaan. Sehingga semua orang memaklumi keadaanku.
Oke. Ini titik paling berat dalam hidupku.
Dari semua yang terjadi, aku tak mendapatkan hikmah apapun KECUALI kesabaranku sedang diuji. Dengan sikap yang masih seperti ini, tidak mungkin Allah memberikan amanah apapun padaku.
Maka, aku harus lalui semua ini dengan tegar dan selalu berusaha. Aamiin..
Walau ketegaran itu tak selamanya menyenangkan.
NB: ngomong-ngomong mataku kok gini amat ya
(Nulis di tablet)
Kalut
Aku bakal menghindari hari dimana aku memasuki batas umur paling sensitif bagiku. Dan itu akan terjadi 12 hari lagi.
Beberapa hari lalu aku insomnia dan waktu menunjukkan pukul 00.30 WIB. Entah angin apa, ibuku bangun dan mengucapkan kalimat pematik kegalauan.
"Bentar lagi umurmu 25, gaji bapak dan mama bakal dipotong."
Oh my---
Aku masih belum ada kerjaan tetap, dan masih jomblo.
Ah sudah lah, nggak usah dibahas lebih jauh. Cukup! Cukup!
Beberapa hari lalu aku insomnia dan waktu menunjukkan pukul 00.30 WIB. Entah angin apa, ibuku bangun dan mengucapkan kalimat pematik kegalauan.
"Bentar lagi umurmu 25, gaji bapak dan mama bakal dipotong."
Oh my---
Aku masih belum ada kerjaan tetap, dan masih jomblo.
Ah sudah lah, nggak usah dibahas lebih jauh. Cukup! Cukup!
Kunto Aji - Sudah Terlalu Lama Sendiri
Ini tulisan
Restu Dinda Kurnia
on Senin, September 21, 2015
Sudah terlalu lama sendiri
Sudah terlalu lama aku asyik sendiri
Lama tak ada yang menemani rasanya
Pagi ke malam hari tak pernah terlintas di hati
Bahkan di saat sendiri aku tak pernah merasa sepi
Sampai akhirnya kusadari aku tak bisa terus begini
Aku harus berusaha tapi mulai darimana
Sudah terlalu lama sendiri
Sudah terlalu lama aku asyik sendiri
Lama tak ada yang menemani rasanya
Sudah terlalu asyik sendiri
Sudah terlalu asyik dengan duniaku sendiri
Lama tak ada yang menemani rasanya
Teman-temanku berkata yang kau cari seperti apa
Ku hanya bisa tertawa nanti pasti ada waktunya
Walau jauh dilubuk hati aku tak ingin terus begini
Aku harus berusaha tapi mulai dari mana
Sudah terlalu lama sendiri
Sudah terlalu lama aku asyik sendiri
Lama tak ada yang menemani rasanya
Sudah terlalu asyik sendiri
Sudah terlalu asyik dengan duniaku sendiri
Lama tak ada yang menemani rasanya
Jauh di lubuk hati aku tak ingin sendiri
#lubukhatipalingdalam
Sudah terlalu lama aku asyik sendiri
Lama tak ada yang menemani rasanya
Pagi ke malam hari tak pernah terlintas di hati
Bahkan di saat sendiri aku tak pernah merasa sepi
Sampai akhirnya kusadari aku tak bisa terus begini
Aku harus berusaha tapi mulai darimana
Sudah terlalu lama sendiri
Sudah terlalu lama aku asyik sendiri
Lama tak ada yang menemani rasanya
Sudah terlalu asyik sendiri
Sudah terlalu asyik dengan duniaku sendiri
Lama tak ada yang menemani rasanya
Teman-temanku berkata yang kau cari seperti apa
Ku hanya bisa tertawa nanti pasti ada waktunya
Walau jauh dilubuk hati aku tak ingin terus begini
Aku harus berusaha tapi mulai dari mana
Sudah terlalu lama sendiri
Sudah terlalu lama aku asyik sendiri
Lama tak ada yang menemani rasanya
Sudah terlalu asyik sendiri
Sudah terlalu asyik dengan duniaku sendiri
Lama tak ada yang menemani rasanya
Jauh di lubuk hati aku tak ingin sendiri
#lubukhatipalingdalam
Berburu Yotsuba
Ini tulisan
Restu Dinda Kurnia
on Kamis, September 10, 2015
Pada tau nggak apa itu Yotsuba?
Itu lhooo.. Komik yang unyu banget...
Ya udah sih yaa... Gak usah dijelaskan apa itu Yotsuba, yang jelas aku disini mau cerita tentang perjuanganku mencari komik Yotsuba sampe lengkap.
Pada awal tau ada komik Yotsuba itu waktu aku di tempat rental komik deket rumah (yang sekarang udah tak terlihat keberadaannya). Pas direkomendasiin sama masnya yang jaga, aku jadi penasaran buat baca. Ternyata ini lucu banget dan aku enjoy banget pas baca.
Dan pada akhirnya kuputuskan untuk mengoleksinya.. (yeaaahh..!!)
Yotsuba 1 terbit saat aku SMA kelas 3 (2009), dan aku langsung membelinya. Untungnya masih belum banyak yang minat membelinya.
Yotsuba 2 terbit tidak jauh dari yang pertama. Masih aman, peminat masih dikit.
Dan di tahap ini usaha dalam hal "berburu koleksi" terhenti seketika karena UAN (belajar donk yaaa..)
UAN kelar, ada ujian masuk perguruan tinggi, les dan les dan bla bla bla.
Habis itu ospek dan lalalala..
Oke setelah kerempongan itu terlewati dengan lancar, aku melanjutkan perburuan. (yeeaaahh!!)
Jalan-jalan ke toko buku diskon terdekat, dan trerereng~~~ YOTSUBA UDAH SAMPE 7 !!!
Lalu, mana volume 3-6 nya? HABIS !!! T_____T
Oh my... aku kecolongan.. Yotsuba ku diambil orang! Tidak bisa kubiarkan..!!
Aku cari ke toko buku bukan diskon pun tak ada. Aku harus berbuat apa ini?
Oke baiklah...
Yotsuba 7 terbeli T_T ~~ dan aku nggak mau kecolongan lagi. Aku rutin ngecek di twitternya toko buku biar gak ketinggalan volume. Alhasil....
Yotsuba 8 sampe 12 kebeli dengan diskon dari toko buku diskon *bangga*
Aku harus bagaimana ini? Aku harus mencari kemana lagi Yotsuba 3-6 ? :'(
Kesabaran menjawab semuanya (halaaah~)
Awal tahun 2015 dikabarkan bahwa Yotsuba bakal terbit ulaaaaang!!! It's something!!
Mari berburu lagi~~~
Yotsuba 3 terbeli dengan mulus.
Yotsuba 4 terbeli dengan ihwaow.
Yotsuba 6 terbeli dengan beruntung.
Lalu Yotsuba 5 ?
KELEWAT LAGI ~~~ udah kehabisan T_T
Aku searching pake komputer pencarian di toko buku, ada stoknya tapi tinggal satu. Apakah ini dapat dipercaya? Apa salahnya dicari?
Aku mencari mencari dan mencari~
Akhirnya ketemu!! Tapiiii.... udah rusak T_T
Nggak mungkin aku beli harga baru tapi kondisi rusak :(
Baiklah, mungkin aku harus bersabar lagi.. :')
#ceritatidakpenting
[[UPDATE]]
Gue udah dapet Yotsuba 5 yeaaayy!!!
Beli di toko buku bukan diskon, tinggal satu juga tapi masih segelan.. Yesss!!!
Mari kita ucapkan Alhamdulillah :)
Tumblr - Yotsuba, setelah nananina yang melelahkan
Ini tentang KEGALAUAN yang terus berulang
Ini tulisan
Restu Dinda Kurnia
on Rabu, Juli 01, 2015
Kategori
cerita hidup,
curhat,
kerja
/
Comments: (0)
Gue nganggur dan gue jomblo... eh... bukan.. TAPI
"Gue produktif tanpa gaji dan gue belum dipertemukan dengan jodoh."
Bukan gue yang galau, tapi emak gue.
Aku sekarang udah nggak terlalu galau dengan masalah jodoh dan rejeki. Semua sudah diatur sama Allah. Jadi kita hanya berusaha saja sebisa mungkin. Tapi kayaknya emak nggak gitu.
Ibuku selalu menggalau kalo aku belum juga keterima kerja. Menggalau kalo ngeliat fakta bahwa aku masih jomblo. Kalo aku mah, mengganggap ini adalah suatu proses perjalanan hidup. Oke, aku jadi ikut galau ketika ibuku sedang galau. Ah sudahlah..
Yang paling kzl adalah ketika aku cerita tentang temenku yang udah nikah. Ibuku sangat amat membencinya. Ibuku sangat benci dengan temanku yang sudah nikah. Kemarin temenku ada yang dateng ke rumah dan bawa suaminya. Dan.. ibuku benci itu. Entah salah apa, tapi selalu kayak gitu. Ibuku juga sangat benci kalo aku cerita tentang keberhasilan temenku. Dia benci semua orang seumuranku yang bisa "lebih baik" dari aku. Awalnya aku nggak tau kenapa. Tapi sekarang aku tau kenapa.
Ibuku sudah terbiasa dengan kelancaran hidup kakakku, baik jodoh ataupun kerjaan. Ibuku juga sudah terbiasa dengan istilah "mencari kerja dari orang dalam". Yang notabene aku sangat tidak suka itu. Ibuku juga terbiasa dengan "kerja adalah duduk di kantor dengan berbagai macam rapat di dalamnya".
Mindset ini yang nggak bisa aku ubah. Dan aku serasa disetir harus mengikuti mindset semacam itu.
Nggak cuma itu, babeku pun kadangkala menambah runyam ide-ide indahku.
Ketika aku punya ide dahsyat untuk aku terapkan dalam kehidupanku, yang ide itu selalu tak wajar bagi orang awam, babe pasti menertawakan dengan tatapan mengejek. Itu sangat membuatku down. Babeku nggak menyadari bahwa anak ceweknya ini punya kelebihan dalam hal ide gila. Aku hanya ingin mereka (orangtuaku) saja yang tau. Tapi mereka sangat tidak menerimanya.
LALU dengan seenaknya, tadi ibuku menanyakan tentang CITA-CITAku. Aku dengan lemas menjawab, "nggak ada."
Kan dengan pikiran kolot mereka, aku nggak mungkin bilang kalau sebenarnya cita-citaku adalah "melakukan hobi dan digaji." Kan kerjaan paling enak kata Ridwan Kamil tuh.
Nggak gampang buat kerja yang sesuai dengan hobi. Harus dari nol. Tapi ya, aku harus jauh dari orang tua dulu. Biar nggak ada lagi yang menyetirku. Tapi apa daya, aku nggak bisa dilepas semudah itu. Istilahnya, gue telah tersegel.
Kalo masalah jodoh..... ah mbuh deh.
Kegiatan sebelum Ramadhan di rumah: Desain Baju buat Lebaran (LOL)
Ini tulisan
Restu Dinda Kurnia
on Sabtu, Juni 27, 2015
Kategori
gambarku,
hobby,
pengalaman
/
Comments: (0)
Sudah bertahun-tahun rutinitas ini dilakukan aku dan ibuku.
Kami memang senang mendesain baju, terutama baju untuk diri sendiri.
Barusan bajuku yang buat lebaran nanti udah jadi. Hasil desainku sendiri dibantu oleh ibuku. Ibuku juga mendesain bajunya sendiri. (Tapi desainnya niruin desain baju yang aku buat khusus untuk aku dateng kondangan. :p) Kata penjahitnya, "Bagus ya jadinya.." Ahahaha.. Alhamdulillah.
Hampir semua baju kondangan dan baju lebaran kami, kami yang desain. Jadi kadang kala kembar gitu. Tapi ya tetep sesuai umur donk ya.. Ahahaha...
Jadi kalian kalo pernah liat aku pake baju kondangan, itu gue yang desain lhoh.. XD
Emang kata ibu bener, "Kalau mau pas, baju tu ya desain sendiri. Nggak beli jadi. Atau didesainin sama orang lain."
Padahal ibuku cuma punya kain batik harga murah bingit, terus kami modif dengan desain gila kami, akhirnya jadi deh baju yang pantas buat dipake ke kondangan :)
Mari kita ucapkan, Alhamdulillah :)))
Kami memang senang mendesain baju, terutama baju untuk diri sendiri.
Barusan bajuku yang buat lebaran nanti udah jadi. Hasil desainku sendiri dibantu oleh ibuku. Ibuku juga mendesain bajunya sendiri. (Tapi desainnya niruin desain baju yang aku buat khusus untuk aku dateng kondangan. :p) Kata penjahitnya, "Bagus ya jadinya.." Ahahaha.. Alhamdulillah.
Hampir semua baju kondangan dan baju lebaran kami, kami yang desain. Jadi kadang kala kembar gitu. Tapi ya tetep sesuai umur donk ya.. Ahahaha...
Jadi kalian kalo pernah liat aku pake baju kondangan, itu gue yang desain lhoh.. XD
Emang kata ibu bener, "Kalau mau pas, baju tu ya desain sendiri. Nggak beli jadi. Atau didesainin sama orang lain."
Padahal ibuku cuma punya kain batik harga murah bingit, terus kami modif dengan desain gila kami, akhirnya jadi deh baju yang pantas buat dipake ke kondangan :)
Mari kita ucapkan, Alhamdulillah :)))





