RSS
Tampilkan postingan dengan label belajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label belajar. Tampilkan semua postingan

Long Time No See..

 Ini sudah tahun 2026.

Aku sudah melewati banyak hal, pelajaran hidup, maupun pengalaman berharga.

Tahun 2019 aku menikah.

Tahun 2020 aku sibuk menata hidup saat Covid melanda.

Tahun 2020 pula aku positif hamil.

Tahun 2021 bapakku meninggal dunia, lalu anakku lahir, lalu bapak mertuaku juga meninggal dunia.

Tahun 2022 kucing kesayangan bapak (si Cimung) mati.

Tahun 2023 ibuku meninggal dunia. Dunia berubah. Aku harus belajar membuat keputusan, apapun masalahnya. Tidak ada lagi seseorang yang bisa membelaku saat aku tersudut.

Tahun 2024 gejolak kehidupan semaki nyata.

Tahun 2025 aku masih menata hidup dengan segala upaya. Semakin ke sini, biaya semakin mencekik. Status pekerjaan yang semakin di ujung tanduk juga menambah bumbu kepasrahan.

Tahun 2026. Tahun ini. Aku sedang memproses segalanya agar aku bisa melangkah tanpa beban.

Roller coaster yang aku rasakan.

...

Aku tak peduli dengan orang-orang yang menanyakan, "kapan punya anak kedua?"

Mereka mungkin tidak tahu apa yang aku alami, mereka pikir aku sudah cukup mampu untuk punya anak 5 sekalipun. Aku hanya mengamini. Tapi realitanya tidak. UMR Jogja sudah mulai di luar nalar dengan biaya hidup yang semakin menjulang.

Doaku hanyalah, semoga kami dimampukan dalam segala hal dan diberikan keikhlasan atas segala ketentuan-Nya.

...

Tahun ini anakku masuk TK.

Alhamdulillah aku punya hobi menabung sejak dari kecil. Anakku pun aku ajarkan menabung. Aku buatkan rekeningnya sendiri. Itu semua membantu. Kami terhindar dari hutang. Walau kami pas-pasan.

Mungkin mulai dari tahun ini, aku akan mulai aktif menulis blog ini lagi.

Temanya akan sedikit berbeda dari 8 tahun lalu.

...

Insya Allah aku akan lebih sering menulis tentang cara bertahan hidup di Jogja dengan gaji "cukup".

Cukup dalam menghidupi. Artinya tidak kurang dan tidak lebih, syukur bisa ditabung sedikit.


Bismillah..


See you next time :)

Cheers.

AKU STRESS...



Oke, tahun ini aku fix pingin kuliah lagi. Aku rencana mau ambil Psikologi Sains UGM. Padahal S1 ku itu Biologi, dan kenapa aku malah pilih Psikologi? Soalnya aku merasa itu lebih ke arah passion. Aku suka memperhatikan tingkah orang, dan aku sering menebak-nebak apa yang orang lain rasakan ketika ada sesuatu terjadi padanya. Yaa cuma dari situ sih alasannya, tapi apa salahnya kalau kebiasaan itu bisa dilandasi dengan ilmu yang sesuai. Oke kan??

Kalau kuliah di Psikologi Sains nanti akhirnya bukan jadi psikolog, tapi tetep jadi ilmuwan. Karena basisnya adalah penelitian. Bukan ke arah profesi psikolog. Mungkin kalau diterka ya semacam bikin kuisioner dan hasilnya ditelaah sesuai prosedur keilmuan yang ada. Sehingga bisa menghasilkan suatu teori baru mengenai permasalahan yang telah ada. Wediaaaaannn.. Omong opo aku.. Hahaa..

Oke!

- Niat buat kuliah udah ada.
- Semangat buat nyari persyaratan udah ada.
- Semangat buat nanya-nanya tentang yang tidak aku tahu, udah ada.

Kurang apa lagi?

Yak benar!! Duit!

Semuanya pasti ujung-ujungnya duit. Kemarin aku ke kampus Psikologi buat nanya-nanya tentang prosedur dan persyaratan. Ada matrikulasi dan sebagainya. 

"Untuk biaya pendaftaran berapa ya, Pak?"
"Pendaftaran Rp 750.000,00 dibayar lewat BNI. " 
"Lalu untuk biaya matrikulasi berapa ya, Pak?"
"Ya sama kayak biaya semester, Rp 9.000.000,00."
"Oh. Baiklah. Makasih Pak." (heavy breath) 

Emang sih, biaya kuliah S2 emang sekitaran segitu. Bahkan kalau S2 di Biologi pun mencapai 10 jeti.
Tapi kalau dipikir-pikir, dengan ekonomi yang kayak gini, mana tega aku minta dibayarin ortu segitu banyaknya. Gaji berapa bulan tuh segitu, masa iya cuma buat biayain aku kuliah. (heavy breath again)

Oke, mau nggak mau aku kudu nyari beasiswa. Semoga ada yang nyantol beasiswanya. Kalau enggak ada yang lolos, aku nggak jadi kuliah S2. Mungkin aku lebih milih kursus menjahit atau malah kuliah S1 lagi di tempat yang lain.

Tapi tetep disambi nyari kerja yang bener. Iya, bener!!


Bismillah. Semua ini udah jalannya. Mungkin emang harus gini dulu buat mencapai sukses dunia akhirat. Aamiin..

______________________---_____________

UPDATE

Aku gak jd S2. Beasiswa semakin susah syaratnya. Dan otakku udah mulai njeblug. Maka saya pilih bekerja saja. S1 saja cukup kok gaes. Aamiin. Wkwk.

Impian yang belum tercapai

Aku pingin banget memanfaatkan hobi menulisku menjadi sebuah hasil.
Tapi ternyata menulis novel itu tidak semudah yang dibayangkan. Kalo cerpen, jujur aja sih aku dah berhasil nulis banyak cerpen. Cuman ya sama aja, nggak menghasilkan, cuma jadi konsumsi pribadi dan temen2 deket doang. Saat ini aku pingin nulis yang sekalian panjang, ya novel gitu.

Aku kalau menulis di blog gini, atau cerita ke temen2 tentang kejadian apapun, aku bisa lancar nggak berhenti2. Tapi ketika aku punya niat untuk memulai menulis novel, entah kenapa susah banget buat menjaga konsistensi. Sering banget cerita itu berhenti dengan sedirinya di halaman ke sekian belas. Dan akhirnya aku lupa kalo aku harus menulis.

Ada banyak ide yang ingin ku tuangkan di novelku nanti. Tapi untuk saat ini aku pingin fokus ke satu ide ini dulu. Ide ini udah aku bikin ringkasan ceritanya, karakter pemeran utamanya, bahkan aku sudah buat endingnya kayak gimana.

Nah kan tinggal nulis aja tuh.

Butuh support nih. Semoga aku berhasil konsisten dengan tulisanku ya gaes. Aku sih pinginnya nulis di hp aja. Biar aku bisa nulis dimana aja. Trs klo ada ide apapun, bisa langsung ditulis lewat hp.

Semoga aku bisa menyelesaikan novelku ya.

Doakan doakan.  X-)

Minimal kelar aja deh. Urusan diterbitin atau enggak, itu urusan nanti. Tapi ya harus diterbitin dong kalo kelar. Hehe. Tapi ya itu tadi, yang penting kelar dulu sampe ending.

Aamiin. Bismillah.

Catatan Hati Seorang Guru Privat: Widi

Kali ini aku mau cerita tentang murid privatku yang paling besar, namanya Widi. Widi adalah seorang cewek kelas X (1 SMA). Konon katanya dia mengeluhkan penjurusan yang sudah harus ditentukan sejak kelas satu. Karena di kurikulum 2013 memang harus gitu. Dia memilih jurusa IPA. Yang dia pikirkan hanyalah, IPA adalah jurusan yang keren. Tapi sekarang dia agak menyesal. Karena setelah setahun, ternyata dia lebih tertarik dalam hal hapal menghapal seperti pada pelajaran IPS.

Widi memiliki tingkat logika yang menurutku kurang. Dia selalu minta didikte kalau belajar. Kalau ngapalin Biologi saklek, gue juga gak bisa kali, dek... Aku kan ngapalin Biologi dengan logika. Biar terus menancap. Yaaa walaupun nggak nancap-nancap amat sih.. hahaha.

Yang paling disayangkan dari anak satu ini adalah, dia punya banyak buku pelajaran, tapi nggak pernah dia baca. Jadi, tiap les, aku harus mendikte materi-materi yang ada di buku. Dengan bahasaku sendiri tentunya. Kupikir, dia akan pusing kalau harus mengubah bahasa buku menjadi bahasa hapalan. Ternyata, dia benar-benar menjiplak apa yang aku katakan di catatannya. Aigooo~

Positif dari anak ini, dia memiliki sosial yang bagus. Aktif di berbagai kegiatan sekolah dan aktif juga dengan kegiatan luar sekolah yang melibatkan banyak sekolah. Makanya temen-temennya banyak. Mungkin ini dipengaruhi banyaknya media sosial juga ya.. Hmm..

Dari sifat positifnya ini, saya kadang kena imbas negatifnya. Dia sering membatalkan sepihak di jadwal les yang sudah ditentukan. Alasannya konyol.
1. Maaf kak, sore ini aku mau buka puasa di luar, jadi mulainya jam 7 aja ya. (Di sms terus sampe jam 8, ternyata belum kelar juga. Untung masih di rumah, jadi gak sia-sia gitu. Hahaha...)
2. Maaf kak, sore ini nggak les dulu, aku lagi nyuporterin tim sepak bola sekolahku. (Okelah baiklah. Cukup tau).
3. Maaf kak, malam ini lesnya pindah hari lain ya, aku capek banget habis ngasih surprise ultah temenku. (Ohh...)
4. Maaf kak, lesnya ganti pagi ya, libur kok besok. Soalnya malemnya aku jadi panitia acara blablabla. (Oke deh, dimaklumkan.)

Yaaa... semacam itu lah...

Dan lucunya lagi, dia kalo disuruh nyari jawaban tugas sendiri, lebih milih nyontek temennya daripada buka buku. Yaaa gak usah buka buku laahh.. minimal searching di google kan sekarang udah gampang.

Duh, remaja jaman sekarang.. Ckckck...

#CHSGP

Catatan Hati Seorang Guru Privat: Jupan

Kini aku ingin bercerita tentang murid les ku yang bernama Jupan (bukan nama sebenarnya). Dia anak cowok kelas 2 SD. Keluarganya dahsyat semua. Bapak ibunya dokter lulusan S3. Jupan ini anak bungsu dari tiga bersaudara. Kakak pertamanya kelas 6 SD (cewek) dan kakak keduanya kelas 4 SD (cowok).

Jupan ini terobsesi dengan robot dan persenjataan. Walaupun orang tuanya dokter, dia bersikukuh pingin jadi tentara. Tiap les dimulai, bahkan sedang berlangsung, dia selalu berlakon seperti robot yang membawa senjata. "Deziuuu deziuuu!!!" Kepolosan anak ini kadang membuatku bingung sendiri.

Bukan itu yang ingin aku ceritakan sekarang. Aku ingin cerita tentang rasa keingintahuannya yang sangat tinggi. Dia tertarik banget sama pelajaran Agama Islam. Pertanyaan-pertanyaannya sering sekali berkaitan dengan nabi-nabi. Tak jarang pula menanyakan tentang tuntunan agama yang benar. Antara baik dan benar, dosa atau tidak, sampai dengan kenapa hal haram itu bisa jadi haram. Kayaknya habis selesai ngelesi bocah satu ini, aku bakal jadi filsuf sejati. Hahahaha...

Di sela-sela mengerjakan tugasnya, banyak pertanyaan yang membuatku jadi berkaca. Contohnya adalah mengenai aurat.

"Mbak, aurat perempuan itu kan seluruh tubuh kan? Kecuali muka dan telapak tangan. Iya kan?"
Aku: "Iya."
Jupan: "Berarti yang nggak pake kerudung itu dosa?"
Aku: "Menurutmu gimana?"
Jupan: "Dosa donk."
Aku: "Itu tau..."
Jupan: "Kaki juga nggak boleh kelihatan donk."
Aku: "Iyaa.. Harusnya gitu."
Jupan: "Berarti harus pakai kaos kaki kan?" (sambil ngeliatin kakiku)
Aku: "Iyaa.." (untung aku pakai kaos kaki. fyuuhh...)

Pertanyaan berlanjut.

Jupan: "Kalau aurat laki-laki itu mana aja mbak?"
Aku: "Dari pusar sampai lutut." (sambil menunjuk bagian pusar dan lutut)
Jupan: "Ooooh, tapi yang wajib menutupi aurat itu yang udah gede kan mbak?"
Aku: "Iya, yang udah dewasa. Namanya baligh. Kalau udah baligh, wajib menutup aurat."
(lalu hening)

Jupan: "Pemain bola itu kan pakai celana pendek. Lututnya keliatan. Berarti dosa donk?"
Aku: "Hmmmm... menurutmu gimana?"
Jupan: "Dosa donk." (diam sejenak) "Weeeeeee.... Dosa??? Aku nggak bisa jadi pemain bola donk??"
Aku: "Eh? Jupan boleh donk jadi pemain bola."
Jupan: "Tapi ntar lututku keliatan. Aku dosa donk.."
Aku: "Ya pake penutup lutut donk. Kan ada."
Jupan: "Oiyaa.. Tapi berarti pemain bola yang gak pake penututp lutut dosa donk."
Aku: "Hmmm... gini. Kalau ada perempuan nggak pake kerudung, dosa nggak?"
Jupan: "Dosa."
Aku: "Tapi boleh nggak?"
Jupan: "Boleh."
Aku: "Nah itu sama aja dengan pemain bola itu. Boleh aja kayak gitu, tapi dosa ditanggung sendiri sama mereka. Jupan ngerti?"
Jupan: "Iya iya... Hmmm.. gitu yaa.."


FYUHH~~

#CHSGP

Catatan Hati Seorang Guru Privat: Ara

Aku nggak punya adik kandung. Tapi aku punya kewajiban buat ngajarin anak kecil usia SD.
Sementara ini, aku adalah seorang guru privat di suatu lembaga bimbel. Yaa ini semacam freelance. Selagi aku belum mendapat pekerjaan tetap, aku memanfaatkan ini sebagai kesibukanku.

Ada beberapa kesulitan saat mengajari anak SD yang notabene itu bukan adik kandung kita.
Terutama jika dia adalah anak cewek yang susah diajari.

Saya punya 4 murid. Murid dengan usia SD ada 3, dua cowok dan satu cewek. Sisanya anak cewek tapi SMA. Anak SMA lebih mudah diajak kerjasama.

Kali ini aku ingin cerita tentang anak cewek kelas 4 SD yang jadi muridku. Sebut saja dia Ara.

Ara ini susah banget diajak belajar. Dia sukanya cuma cerita dan cerita. Padahal dulunya dia pernah juara perlombaan matematika antar SD. Tapi sekarang, semakin kesini dia semakin malas belajar. Aku curiga, mungkin ini dikarenakan gadget yang ada di genggamannya. Tapi ternyata tidak.

Dia nggak banyak pegang gadget ketika di rumah. Dia lebih suka mainan tanah di halaman. Tapi kenapa dia sulit diajak belajar ya?

Hobinya yang banyak cerita dan cerewetnya minta ampun itu bikin aku kewalahan buat meluruskannya kembali ke jalan yang benar (belajar maksudku). Dia suka banget cerita panjang lebar.

Apalagi setelah dia diajari guru pengganti sementara selama 3 minggu. Guru itu menggantikanku selama aku opname sampai pasca operasi beberapa waktu lalu. Guru itu mengubah sistem yang telah aku buat selama aku mengajari anak ini. Sistem apa?

Aku memiliki aturan khusus untuk Ara ini. Aku akan memberikan hadiah stiker penghargaan jika dia berhasil mengerjakan soal sampai nomor terakhir. Dan jika jawabannya 80% benar, aku memberinya stiker tambahan. Itu membuatnya bersemangat dalam belajar.

Tapi si guru pengganti itu telah merusak sistem dan mengubah cara pikir si anak.
Guru pengganti (sebut saja Mbak Ani) memberikan hadiah sebelum belajar dimulai, dan dia menuruti semua kemauan Ara. Ara paling sulit belajar matematika. Maka jika Ara tidak meminta belajar matematika, Mbak Ani tidak akan mengajarinya matematika. Pejalaran yang diberikan kebanyakan hanya Bahasa Inggris, yang padahal di sekolahnya tidak ada pelajaran Bahasa Inggris. Ara memang suka Bahasa Inggris. Bagus jika itu hanya untuk selingan dan tambahan pelajaran. Tidak bagus jika itu dijadikan pelajaran pokok saat les. Karena kelemahan anak ini adalah di matematika.

Perubahan drastis ku lihat setelah 3 minggu tidak bertemu. Nilainya anjlok lagi.
Awal pertemuan, kutemukan nilai matematika nya 40. Setelah ku beri treatment award kemarin, nilainya mulai meningkat menjadi 80, bahkan ada satu yang mendapat 100. Tiga minggu ku lepas, nilainya kembali ke 40.

Kesedihan apa yang kualami?

Air susu rusak karena nila setitik.

Aku hanya bisa menghela napas dan menceritakan keluhanku kepada orang tuanya. Orang tuanya memang menyayangkan hal ini. Tapi usut punya usut, si orang tua tidak pernah menemani Ara belajar. Seharusnya, pendampingan utama saat anak belajar di rumah adalah orang tuanya. Guru les semacam aku hanya memberikan pengertian kepada anak mengenai kesulitan yang didapat di sekolah.

Ah entahlah...

#CHSGP

Late post: Ujung kuliah

Bulan Berkah.... Puasa Ramadhan kemarin rasanya terlewat begitu saja. Kurang greget gitu. Mungkin karena aku sibuk mengurus yang namanya skripsi. Semoga semua yang ku lakukan itu dihitung ibadah. Aamiin..

Dan setelah sekian lama..... Akhirnya sampai ujung juga.
Rasanya aku puas banget. Akhirnya dan akhirnya aku bisa menyelesaikan tantangan yang kubuat sendiri. Karena kesalahanku sendiri pula tantangan itu ada. Sudah cukup menyesakkan dada di awalnya, di pertengahan sudah mulai merasakan kejenuhan, tapi akhirnya aku bisa juga!!!

laboratorium dan laboratorium

Seperti menusuk ulu hati


Selama aku di Biologi, selalu aja para dosen mengingatkan, "Kalau menemukan hal-hal yang menarik, diamati saja. Siapa tau bisa ditanyakan dan menambah pengetahuan kalian."

:Saat aku kuliah tentang hewan, mereka bilang:

"Coba amati hewan di sekitar kalian, seperti cicak rumah. Cicak rumah tidak cuma satu spesies. Ada perbedaannya masing-masing."

ATAU

"Saat kalian jalan-jalan ke pantai dan makan seafood, sekalian aja mengamati, ini kepiting jantan atau betina.."

:Saat aku kuliah tentang tumbuhan, mereka bilang:

"Misalnya pas kalian berdua dengan pacar kalian (maaf pak, saya belum punya pacar -red), dan memberikan bunga mawar, sekalian aja dijelasin, yang ini mahkota, duri ini adalah..."

ATAU

"Pasti kalian punya beberapa tanaman di rumah, coba amati duduk daun masing-masing. Dan apakah daunnya merupakan daun tunggal atau majemuk."


Ini menyenangkan bagiku (oh ya??). Seperti laboratorium ada di sekitarku. Semua sudut dunia ini adalah tempat belajarku. Benar kulakukan itu semua. Aku sedikit demi sedikit tau. Tapi apa yang dipikirkan orang-orang terdekatku (yg jelas mereka bukan orang biologi -red) ???

:: nia tu orang autis ternyata ::

=_________=

Bunga Sakura??

(Bunga Sakura)

Dari judul ini pasti langsung teringat Jepang kan??
Nah, sekarang aku pingin sharing tentang bunga Sakura ini. Sekaligus sharing kebingunganku tentang siklus bunga unik berwarna pink ini.
Tadi, aku kuliah tentang tumbuhan, dan membahas sedikit bunga Sakura.
Sakura ini berbunga saat musim semi kan? Yang suka film atau anime Jepang pasti tau betul. Dan kalo diliat-liat, bunga Sakura bermekaran tanpa ada daunnya, ya kan? (sepenglihatanku sih seperti itu :P)
Ternyata munculnya bunga dan daun Sakura ini tidak pernah bersamaan. Saat musim dingin, pohon Sakura akan terlihat 'plontos' tanpa daun dan bunga. Dan saat musim semi, bunga mulai bermekaran (hanami). Saat inilah orang-orang pada piknik di bawah pohon Sakura dihiasi bunga-bunga pink yang indah. Hohoho.. Trus habis musim semi selesai, tibalah musim panas, bunga Sakura gugur dan tumbuh kuncup daun untuk menggantikannya. Di musim panas, yang ada adalah daun Sakura tumbuh lebat menghiasi tangkai-tangkainya. Selanjutnya musim berganti menjadi musim gugur, daun berguguran, jalan-jalan dihiasi daun yang menguning... dan pada akhirnya kembali ke musim dingin, pohon jadi 'plontos' lagi.. :D

Keren yaa??

Ehmm.. itu sih sepenangkapku dari kuliah tadi, kalo keliru ya maap. Yang jelas, di tiap musimnya, Sakura ini sangat menyesuaikan keadaan. Bukan hanya Sakura, semua tumbuhan juga punya tipe beradaptasinya sendiri-sendiri :)

Kisah tentang Neuron dan badannya


Namaku Neuron.
Di dalam badanku (soma) ini terdapat jiwa bernama inti sel dengan sitoplasma di sekelilingnya.
Saya punya dua jenis tangan bernama dendrit dan akson.
Dendrit hanya mau menerima hadiah (impuls) dan menyerahkan ke dalam tubuhku. Sedangkan akson ku hanya mau memberi hadiah (impuls) ke orang (neuron) lain.
Karena tangan bernama akson ini sangat baik dan hangat, selubung myelin senantiasa menyelubunginya.
Selubung myelin yang dilengkapi sel Schwann ini tak menutupi dengan maksimal alias putus putus. Nodus Ranvier selalu ada di antara selubung myelin satu dengan lainnya.
Walaupun kehangatan myelin sangat membantu, namun dia tidak mau menerima hadiah dari tubuhku. Untung ranvier satu dan lainnya mau menghantarkannya ke yang lainnya.
Ujung akson akan bersalaman dengan memberikan hadiah ke dendrit neuron lain lewat salam tempel (sinapsis).

Sekian cerita dariku. Tanpa aku, kalian tak dapat merespon tulisanku ini :)

=tulisan ini efek dari stress ujian anatomi hewan=