RSS
Tampilkan postingan dengan label pengalaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengalaman. Tampilkan semua postingan

Long Time No See..

 Ini sudah tahun 2026.

Aku sudah melewati banyak hal, pelajaran hidup, maupun pengalaman berharga.

Tahun 2019 aku menikah.

Tahun 2020 aku sibuk menata hidup saat Covid melanda.

Tahun 2020 pula aku positif hamil.

Tahun 2021 bapakku meninggal dunia, lalu anakku lahir, lalu bapak mertuaku juga meninggal dunia.

Tahun 2022 kucing kesayangan bapak (si Cimung) mati.

Tahun 2023 ibuku meninggal dunia. Dunia berubah. Aku harus belajar membuat keputusan, apapun masalahnya. Tidak ada lagi seseorang yang bisa membelaku saat aku tersudut.

Tahun 2024 gejolak kehidupan semaki nyata.

Tahun 2025 aku masih menata hidup dengan segala upaya. Semakin ke sini, biaya semakin mencekik. Status pekerjaan yang semakin di ujung tanduk juga menambah bumbu kepasrahan.

Tahun 2026. Tahun ini. Aku sedang memproses segalanya agar aku bisa melangkah tanpa beban.

Roller coaster yang aku rasakan.

...

Aku tak peduli dengan orang-orang yang menanyakan, "kapan punya anak kedua?"

Mereka mungkin tidak tahu apa yang aku alami, mereka pikir aku sudah cukup mampu untuk punya anak 5 sekalipun. Aku hanya mengamini. Tapi realitanya tidak. UMR Jogja sudah mulai di luar nalar dengan biaya hidup yang semakin menjulang.

Doaku hanyalah, semoga kami dimampukan dalam segala hal dan diberikan keikhlasan atas segala ketentuan-Nya.

...

Tahun ini anakku masuk TK.

Alhamdulillah aku punya hobi menabung sejak dari kecil. Anakku pun aku ajarkan menabung. Aku buatkan rekeningnya sendiri. Itu semua membantu. Kami terhindar dari hutang. Walau kami pas-pasan.

Mungkin mulai dari tahun ini, aku akan mulai aktif menulis blog ini lagi.

Temanya akan sedikit berbeda dari 8 tahun lalu.

...

Insya Allah aku akan lebih sering menulis tentang cara bertahan hidup di Jogja dengan gaji "cukup".

Cukup dalam menghidupi. Artinya tidak kurang dan tidak lebih, syukur bisa ditabung sedikit.


Bismillah..


See you next time :)

Cheers.

AKU STRESS...



Oke, tahun ini aku fix pingin kuliah lagi. Aku rencana mau ambil Psikologi Sains UGM. Padahal S1 ku itu Biologi, dan kenapa aku malah pilih Psikologi? Soalnya aku merasa itu lebih ke arah passion. Aku suka memperhatikan tingkah orang, dan aku sering menebak-nebak apa yang orang lain rasakan ketika ada sesuatu terjadi padanya. Yaa cuma dari situ sih alasannya, tapi apa salahnya kalau kebiasaan itu bisa dilandasi dengan ilmu yang sesuai. Oke kan??

Kalau kuliah di Psikologi Sains nanti akhirnya bukan jadi psikolog, tapi tetep jadi ilmuwan. Karena basisnya adalah penelitian. Bukan ke arah profesi psikolog. Mungkin kalau diterka ya semacam bikin kuisioner dan hasilnya ditelaah sesuai prosedur keilmuan yang ada. Sehingga bisa menghasilkan suatu teori baru mengenai permasalahan yang telah ada. Wediaaaaannn.. Omong opo aku.. Hahaa..

Oke!

- Niat buat kuliah udah ada.
- Semangat buat nyari persyaratan udah ada.
- Semangat buat nanya-nanya tentang yang tidak aku tahu, udah ada.

Kurang apa lagi?

Yak benar!! Duit!

Semuanya pasti ujung-ujungnya duit. Kemarin aku ke kampus Psikologi buat nanya-nanya tentang prosedur dan persyaratan. Ada matrikulasi dan sebagainya. 

"Untuk biaya pendaftaran berapa ya, Pak?"
"Pendaftaran Rp 750.000,00 dibayar lewat BNI. " 
"Lalu untuk biaya matrikulasi berapa ya, Pak?"
"Ya sama kayak biaya semester, Rp 9.000.000,00."
"Oh. Baiklah. Makasih Pak." (heavy breath) 

Emang sih, biaya kuliah S2 emang sekitaran segitu. Bahkan kalau S2 di Biologi pun mencapai 10 jeti.
Tapi kalau dipikir-pikir, dengan ekonomi yang kayak gini, mana tega aku minta dibayarin ortu segitu banyaknya. Gaji berapa bulan tuh segitu, masa iya cuma buat biayain aku kuliah. (heavy breath again)

Oke, mau nggak mau aku kudu nyari beasiswa. Semoga ada yang nyantol beasiswanya. Kalau enggak ada yang lolos, aku nggak jadi kuliah S2. Mungkin aku lebih milih kursus menjahit atau malah kuliah S1 lagi di tempat yang lain.

Tapi tetep disambi nyari kerja yang bener. Iya, bener!!


Bismillah. Semua ini udah jalannya. Mungkin emang harus gini dulu buat mencapai sukses dunia akhirat. Aamiin..

______________________---_____________

UPDATE

Aku gak jd S2. Beasiswa semakin susah syaratnya. Dan otakku udah mulai njeblug. Maka saya pilih bekerja saja. S1 saja cukup kok gaes. Aamiin. Wkwk.

Ini Tentang Balas Budi

Aku selama ini berusaha berbuat baik walaupun semuanya tidak berbalik padaku.
Aku pikir semua pasti ada hikmahnya.

Tapi semua berubah setelah kejadian kemarin.
Aku berteman dengan dua orang yang sedang merintis bisnis mereka. Kebetulan kami kenal lumayan baik.
Aku sangat iri dengan mereka.

Posisi kami ada di suatu stand pameran di kawasan Jogja. Stand kami jadi satu, sehingga kami bisa bercerita dengan sangat intens.

Salah satunya (sebut saja Andin) cerita padaku kalau dia sedang sakit perut karena dismenore (nyeri haid).
Tapi dia bela-belain dateng karena dia tidak enak dengan partnernya (sebut saja Sofia).
Sofia telah susah payah mengurusi stand yang mereka sewa di suatu pameran.
Dan demi Andin yang sedang nyeri haid pun Sofia bela-belain datang awal membawa semua barang yang akan mereka jual di pameran itu. Padahal barangnya tidak sedikit. Itu saja masih harus membantu stand sebelah yang juga temannya.
Aku pikir Andin akan tidak datang. Tapi ternyata dia datang. Dengan perut yang nyeri, dia datang, merampungkan semuanya, membiarkan Sofia yang sudah riweuh dari tadi untuk istirahat.
Satu hal lagi yang membosankan di telingaku adalah, kata-kata "terimakasih" dan "maaf" nggak pernah lupa mereka ucapkan. Sampai tak terhitung kata-kata itu sampai berapa kali terucap.

Aku melihat feedback yang sempurna di persahabatan mereka.

Aku kulik lagi tentang mereka.

Aku mendapati cerita dari Andin, dia selalu memuji-muji Sofia dengan semua hal positif. "Dia itu baik banget mbak, untungnya dia pengertian. Kalau aku sedang riweuh, dia mau dateng ke tempatku. Padahal rumah kami berjarak sekitar 8 km."

Aku penasaran juga dengan pendapat Sofia, "Andin itu baik banget. Dia selalu ngerti kalau aku nggak selalu bisa ke tempatnya, jadi dia mau bela-belai dateng ke rumahku. Jemput aku. Gitu juga sebaliknya."

KLOP!

Ungkapan yang sama dan feedback yang sempurna.

Aku iri banget.

Walau berbuat baik itu harusnya tanpa pamrih, tapi alangkah indahnya jika feedback itu ada.
Tidak selalu ingin dimengerti, tapi juga berusaha mengerti orang lain.
Minimal jika tidak bisa melakukan hal itu untuk membalas, cobalah melakukan hal lain yang setara nilainya.

Tidak cuma dengan hal yang berbau "fisik" tapi juga "mental".
Ingat lah dulu siapa saja yang membuatmu jadi bahagia (misalnya) seperti sekarang ini. Ucapkan terima kasih, atau lakukan sesuatu untuk membalasnya walau dia tidak mau.

Paling tidak, agar tidak ada rasa "negative thinking" tentangmu yang bisa saja dicap "nggak tau diuntung".

Tapi kayaknya emang semuanya harus pelan-pelan. #sigh

Pertanyaannya: Pernahkah kamu membalas budi?

Ini yang harus disiapkan kalo mau ganti kelas bpjs kesehatan

Yang butuh ganti kelas di bpjs, saya bakal kasih infonya.. Terutama di kota Jogja. Semoga di kota-kota lain juga sama.

Oiya, sebelumnya, udah tau kan kalo mulai april 2016 iuran bpjs mau naik? Naiknya jauh banget pulaa..
Tapi sebenernya saya mau ganti kelas bukan karena iuran yang naik, tapi karena di faskes saya itu kalopun saya pake bpjs kelas 1, nantinya saya tetep dapet kelas 2. Kenapa? Karena antri ruangan inapnya puanjangg..
Eee... Tapi kok ternyata ada berita bahwa iuran bakal naik, ya sekalian aja. Biar nggak terlalu kaget besoknya.


Syarat buat yang mau ganti kelas bpjs:

1. Masa aktif harus sudah 1 tahun. Cek di kartu bpjs mu, di bawah barcode itu ada tanggalnya. Biar gak sia-sia pas udah antri ke kantor bpjs, eee kok ternyata belum bisa diproses.. Ini lah yang terjadi padaku. Kurang seminggu doank padahal.

2. Bawa kartu bpjs. Buat jaga-jaga sekalian bawa fotokopiannya juga.

3. Bawa ktp dan fotokopinya.

4. Bawa kartu keluarga dan fotokopinya. Klo ini kyknya yg asli gak usah dibawa gak papa. Tapi apa salahnya jaga-jaga. Daripada bolak balik gt.

5. Bawa buku tabungan yang buat bayar iuran dan fotokopinya. Ini penting karena mengubah kelas itu kaitannya sama iuran alias duit. (Ini aku tadi lupa, jadi aku harus balik ke rumah lagi gt.)

6. Dateng ke kantor bpjs pagi-pagi, kalo perlu sebelum kantornya buka. Yakin deh, pasti udah banyak yang ngantri sebelum kamu dateng. Khusus kota Jogja: kalo yang bpjs mandiri, kantornya di utara balai kota. Kalo yang pns dan instansi, kantornya di gedongtengen.


Jangan kaget juga kalo pas ngantri, walaupun kamu dapet antrian nomor awal (nomor 3 misalnya), kamu bakal tetep nunggu lamaaa... Karena satu kostumer paling cepet dilayani selama 15 menit.

Dah itu aja deh ceritaku. Ini pengalamanku waktu pingin ganti kelas dari kelas 1 ke kelas 2. Semoga bermanfaat..

Kegiatan sebelum Ramadhan di rumah: Desain Baju buat Lebaran (LOL)

Sudah bertahun-tahun rutinitas ini dilakukan aku dan ibuku.
Kami memang senang mendesain baju, terutama baju untuk diri sendiri.

Barusan bajuku yang buat lebaran nanti udah jadi. Hasil desainku sendiri dibantu oleh ibuku. Ibuku juga mendesain bajunya sendiri. (Tapi desainnya niruin desain baju yang aku buat khusus untuk aku dateng kondangan. :p) Kata penjahitnya, "Bagus ya jadinya.." Ahahaha.. Alhamdulillah.

Hampir semua baju kondangan dan baju lebaran kami, kami yang desain. Jadi kadang kala kembar gitu. Tapi ya tetep sesuai umur donk ya.. Ahahaha...

Jadi kalian kalo pernah liat aku pake baju kondangan, itu gue yang desain lhoh.. XD
Emang kata ibu bener, "Kalau mau pas, baju tu ya desain sendiri. Nggak beli jadi. Atau didesainin sama orang lain."
Padahal ibuku cuma punya kain batik harga murah bingit, terus kami modif dengan desain gila kami, akhirnya jadi deh baju yang pantas buat dipake ke kondangan :)


Mari kita ucapkan, Alhamdulillah :)))

Ketidaknyamanan itu terjadi lagi..

"Dan terjadi lagi.... kisah lama yang terulang kembali..."

Pernah baca tentang sifat-sifat berdasarkan golongan darah?
Oke, aku bergolongan darah A. Dan saya sangat suka dengan keteraturan dan kehati-hatian.

TAPI, ketika keteraturan yang kucanangkan ini telah dirusak oleh pihak-pihak yang bisanya cuma suka-suka doank, disitu kadang aku merasa sedih. Ini bisa saja terjadi di suatu kelompok.

Aku sudah lama berorganisasi di X (sebut saja begitu). Dan sekarang masih. Walaupun mulai mundur teratur. Ketika aku mulai masuk berkecimpung di X itu, aku sangat berusaha buat menjadi anggota yang dapat diandalkan dan dapat bertanggung jawab. Semua akan kulakukan setepat mungkin dan seakurat mungkin. Aku juga berusaha mengumpulkan tugas sebelum deadline. Demi kebaikanku dan pandangan senior terhadapku.

TAPI, ternyata anggota yang lain tidak begitu. Mereka yang notabene sudah lebih dulu berkecimpung, mereka sangat tidak menghargai usahaku. Mereka ternyata lebih santai dibanding ekspektasiku. Mereka belum ngapa-ngapain, sedangkan deadline sudah di depan mata.

Sunggu aku nggak suka banget suasana seperti ini.

Lalu, apa yang terjadi, aku yang harus menyesuaikan itu. Aku ikut-ikutan santai dan ikut-ikutan gak peduli.

Lalu, ketika aku datang pertemuan sebelum waktunya, tapi yang lain belum datang..... Aku sebel banget dalam kondisi ini. Aku pulang lagi, lalu balik lagi ke tempat pertemuan. Di sana sudah banyak orang, dan yang mereka tau, AKU TELAT. Serealistis apapun alasanku, mereka tidak menghargaiku. AKU JENGKEL sungguh. Tapi aku masih bertahan sampai sekarang.

Lagi, aku orangnya memang gak terlalu suka mengiyakan tawaran tugas. Aku takut PHP. Kenapa? Karena siapa tahu, aku tidak mampu di tengah-tengah nanti. Lalu semua bubrah hanya karena aku. Semua menyalahkanku. Aku nggak mau itu terjadi. Maka, aku terima tugas yang benar-benar aku mampu. TERNYATA mereka tidak menyukai sifatku yang ini. ARTINYA mereka tidak bisa melihatku dari sudut pandang yang lain. Dan kuulangi lagi, serealistis apapun alasanku, mereka tidak menghargaiku.

Rasa bersalahku selalu muncul ketika pandangan mereka sangat tidak ramah terhadapku. Aku salah apa, aku memang tidak bisa, aku memang tidak mampu, kan sudah kubilang aku tidak bisa tapi dipaksa, aku ini udah usaha tapi semuanya sudah terjadi..... begitu seterusnya. Ini mulai membuatku tidak nyaman.

Dan akhir-akhir ini aku tahu, entah ini kebetulan atau memang benar, golongan darah O mendominasi dalam organisasi ini. Dilanjutkan dengan golongan darah B. Lalu, yang bergolongan darah A? Hanya aku. WHAT THE----

Semacam aku nggak mau menghubung-hubungkannya, tapi kok ya sesuai dengan uraian sifat-sifat golongan darah dalam suatu web yang pernah kubaca.

Setahun ini, ada anak baru di organisasi, dia pendiam dan lebih sering pasif. Kupikir dia sangat hati-hati dalam berucap. Dan ku ketahui dia bergolongan darah A. Dengan kondisi ini, aku yakin dia sangat tidak nyaman. Benar saja, aku lihat dia sudah jarang muncul dalam pertemuan 'yang kebanyakan hanya mbanyol'.

Oke... semua terjadi lagi, dan akan terus terjadi.

Catatan Hati Seorang Guru Privat: Widi

Kali ini aku mau cerita tentang murid privatku yang paling besar, namanya Widi. Widi adalah seorang cewek kelas X (1 SMA). Konon katanya dia mengeluhkan penjurusan yang sudah harus ditentukan sejak kelas satu. Karena di kurikulum 2013 memang harus gitu. Dia memilih jurusa IPA. Yang dia pikirkan hanyalah, IPA adalah jurusan yang keren. Tapi sekarang dia agak menyesal. Karena setelah setahun, ternyata dia lebih tertarik dalam hal hapal menghapal seperti pada pelajaran IPS.

Widi memiliki tingkat logika yang menurutku kurang. Dia selalu minta didikte kalau belajar. Kalau ngapalin Biologi saklek, gue juga gak bisa kali, dek... Aku kan ngapalin Biologi dengan logika. Biar terus menancap. Yaaa walaupun nggak nancap-nancap amat sih.. hahaha.

Yang paling disayangkan dari anak satu ini adalah, dia punya banyak buku pelajaran, tapi nggak pernah dia baca. Jadi, tiap les, aku harus mendikte materi-materi yang ada di buku. Dengan bahasaku sendiri tentunya. Kupikir, dia akan pusing kalau harus mengubah bahasa buku menjadi bahasa hapalan. Ternyata, dia benar-benar menjiplak apa yang aku katakan di catatannya. Aigooo~

Positif dari anak ini, dia memiliki sosial yang bagus. Aktif di berbagai kegiatan sekolah dan aktif juga dengan kegiatan luar sekolah yang melibatkan banyak sekolah. Makanya temen-temennya banyak. Mungkin ini dipengaruhi banyaknya media sosial juga ya.. Hmm..

Dari sifat positifnya ini, saya kadang kena imbas negatifnya. Dia sering membatalkan sepihak di jadwal les yang sudah ditentukan. Alasannya konyol.
1. Maaf kak, sore ini aku mau buka puasa di luar, jadi mulainya jam 7 aja ya. (Di sms terus sampe jam 8, ternyata belum kelar juga. Untung masih di rumah, jadi gak sia-sia gitu. Hahaha...)
2. Maaf kak, sore ini nggak les dulu, aku lagi nyuporterin tim sepak bola sekolahku. (Okelah baiklah. Cukup tau).
3. Maaf kak, malam ini lesnya pindah hari lain ya, aku capek banget habis ngasih surprise ultah temenku. (Ohh...)
4. Maaf kak, lesnya ganti pagi ya, libur kok besok. Soalnya malemnya aku jadi panitia acara blablabla. (Oke deh, dimaklumkan.)

Yaaa... semacam itu lah...

Dan lucunya lagi, dia kalo disuruh nyari jawaban tugas sendiri, lebih milih nyontek temennya daripada buka buku. Yaaa gak usah buka buku laahh.. minimal searching di google kan sekarang udah gampang.

Duh, remaja jaman sekarang.. Ckckck...

#CHSGP

Berat juga ya bawa nama almamater

Kalo gini jadinya, aku nyesel jadi mahasiswa UGM. Eh, nggak boleh gitu dink. Aku seneng kok di UGM. UGM mengajarkan banyak hal. Tapi, berat jadi alumni UGM. Harus keren dan kece setelah lulus. Padahal, aku yang klomoh-klomoh ini, kece aja enggak, apalagi keren. Hahaha.

Aku paling sebel kalo ada yang bilang, "Lulusan UGM kok gitu. Lulusan UGM kok gini. Lulusan UGM kok jomblo.." ehm.. abaikan yang terakhir.

UGM udah punya nama dimana-mana. Nah, kalau aku jadi orang biasa-biasa aja, emangnya salah? Yang penting kan aku masih di jalan yang benar kan? Apa penilaian derajat manusia di mata Allah itu dari pekerjaan dan gajinya? (nah nah dah mulai ceramah. hahaha)

Ah, intinya, aku sebel aja kalo harus dikaitkan dengan UGM. Lama-lama gue pake ijazah SMA aja lah -_-

#edisimalesnulis

Catatan Hati Seorang Guru Privat: Jupan

Kini aku ingin bercerita tentang murid les ku yang bernama Jupan (bukan nama sebenarnya). Dia anak cowok kelas 2 SD. Keluarganya dahsyat semua. Bapak ibunya dokter lulusan S3. Jupan ini anak bungsu dari tiga bersaudara. Kakak pertamanya kelas 6 SD (cewek) dan kakak keduanya kelas 4 SD (cowok).

Jupan ini terobsesi dengan robot dan persenjataan. Walaupun orang tuanya dokter, dia bersikukuh pingin jadi tentara. Tiap les dimulai, bahkan sedang berlangsung, dia selalu berlakon seperti robot yang membawa senjata. "Deziuuu deziuuu!!!" Kepolosan anak ini kadang membuatku bingung sendiri.

Bukan itu yang ingin aku ceritakan sekarang. Aku ingin cerita tentang rasa keingintahuannya yang sangat tinggi. Dia tertarik banget sama pelajaran Agama Islam. Pertanyaan-pertanyaannya sering sekali berkaitan dengan nabi-nabi. Tak jarang pula menanyakan tentang tuntunan agama yang benar. Antara baik dan benar, dosa atau tidak, sampai dengan kenapa hal haram itu bisa jadi haram. Kayaknya habis selesai ngelesi bocah satu ini, aku bakal jadi filsuf sejati. Hahahaha...

Di sela-sela mengerjakan tugasnya, banyak pertanyaan yang membuatku jadi berkaca. Contohnya adalah mengenai aurat.

"Mbak, aurat perempuan itu kan seluruh tubuh kan? Kecuali muka dan telapak tangan. Iya kan?"
Aku: "Iya."
Jupan: "Berarti yang nggak pake kerudung itu dosa?"
Aku: "Menurutmu gimana?"
Jupan: "Dosa donk."
Aku: "Itu tau..."
Jupan: "Kaki juga nggak boleh kelihatan donk."
Aku: "Iyaa.. Harusnya gitu."
Jupan: "Berarti harus pakai kaos kaki kan?" (sambil ngeliatin kakiku)
Aku: "Iyaa.." (untung aku pakai kaos kaki. fyuuhh...)

Pertanyaan berlanjut.

Jupan: "Kalau aurat laki-laki itu mana aja mbak?"
Aku: "Dari pusar sampai lutut." (sambil menunjuk bagian pusar dan lutut)
Jupan: "Ooooh, tapi yang wajib menutupi aurat itu yang udah gede kan mbak?"
Aku: "Iya, yang udah dewasa. Namanya baligh. Kalau udah baligh, wajib menutup aurat."
(lalu hening)

Jupan: "Pemain bola itu kan pakai celana pendek. Lututnya keliatan. Berarti dosa donk?"
Aku: "Hmmmm... menurutmu gimana?"
Jupan: "Dosa donk." (diam sejenak) "Weeeeeee.... Dosa??? Aku nggak bisa jadi pemain bola donk??"
Aku: "Eh? Jupan boleh donk jadi pemain bola."
Jupan: "Tapi ntar lututku keliatan. Aku dosa donk.."
Aku: "Ya pake penutup lutut donk. Kan ada."
Jupan: "Oiyaa.. Tapi berarti pemain bola yang gak pake penututp lutut dosa donk."
Aku: "Hmmm... gini. Kalau ada perempuan nggak pake kerudung, dosa nggak?"
Jupan: "Dosa."
Aku: "Tapi boleh nggak?"
Jupan: "Boleh."
Aku: "Nah itu sama aja dengan pemain bola itu. Boleh aja kayak gitu, tapi dosa ditanggung sendiri sama mereka. Jupan ngerti?"
Jupan: "Iya iya... Hmmm.. gitu yaa.."


FYUHH~~

#CHSGP

Catatan Hati Seorang Guru Privat: Ara

Aku nggak punya adik kandung. Tapi aku punya kewajiban buat ngajarin anak kecil usia SD.
Sementara ini, aku adalah seorang guru privat di suatu lembaga bimbel. Yaa ini semacam freelance. Selagi aku belum mendapat pekerjaan tetap, aku memanfaatkan ini sebagai kesibukanku.

Ada beberapa kesulitan saat mengajari anak SD yang notabene itu bukan adik kandung kita.
Terutama jika dia adalah anak cewek yang susah diajari.

Saya punya 4 murid. Murid dengan usia SD ada 3, dua cowok dan satu cewek. Sisanya anak cewek tapi SMA. Anak SMA lebih mudah diajak kerjasama.

Kali ini aku ingin cerita tentang anak cewek kelas 4 SD yang jadi muridku. Sebut saja dia Ara.

Ara ini susah banget diajak belajar. Dia sukanya cuma cerita dan cerita. Padahal dulunya dia pernah juara perlombaan matematika antar SD. Tapi sekarang, semakin kesini dia semakin malas belajar. Aku curiga, mungkin ini dikarenakan gadget yang ada di genggamannya. Tapi ternyata tidak.

Dia nggak banyak pegang gadget ketika di rumah. Dia lebih suka mainan tanah di halaman. Tapi kenapa dia sulit diajak belajar ya?

Hobinya yang banyak cerita dan cerewetnya minta ampun itu bikin aku kewalahan buat meluruskannya kembali ke jalan yang benar (belajar maksudku). Dia suka banget cerita panjang lebar.

Apalagi setelah dia diajari guru pengganti sementara selama 3 minggu. Guru itu menggantikanku selama aku opname sampai pasca operasi beberapa waktu lalu. Guru itu mengubah sistem yang telah aku buat selama aku mengajari anak ini. Sistem apa?

Aku memiliki aturan khusus untuk Ara ini. Aku akan memberikan hadiah stiker penghargaan jika dia berhasil mengerjakan soal sampai nomor terakhir. Dan jika jawabannya 80% benar, aku memberinya stiker tambahan. Itu membuatnya bersemangat dalam belajar.

Tapi si guru pengganti itu telah merusak sistem dan mengubah cara pikir si anak.
Guru pengganti (sebut saja Mbak Ani) memberikan hadiah sebelum belajar dimulai, dan dia menuruti semua kemauan Ara. Ara paling sulit belajar matematika. Maka jika Ara tidak meminta belajar matematika, Mbak Ani tidak akan mengajarinya matematika. Pejalaran yang diberikan kebanyakan hanya Bahasa Inggris, yang padahal di sekolahnya tidak ada pelajaran Bahasa Inggris. Ara memang suka Bahasa Inggris. Bagus jika itu hanya untuk selingan dan tambahan pelajaran. Tidak bagus jika itu dijadikan pelajaran pokok saat les. Karena kelemahan anak ini adalah di matematika.

Perubahan drastis ku lihat setelah 3 minggu tidak bertemu. Nilainya anjlok lagi.
Awal pertemuan, kutemukan nilai matematika nya 40. Setelah ku beri treatment award kemarin, nilainya mulai meningkat menjadi 80, bahkan ada satu yang mendapat 100. Tiga minggu ku lepas, nilainya kembali ke 40.

Kesedihan apa yang kualami?

Air susu rusak karena nila setitik.

Aku hanya bisa menghela napas dan menceritakan keluhanku kepada orang tuanya. Orang tuanya memang menyayangkan hal ini. Tapi usut punya usut, si orang tua tidak pernah menemani Ara belajar. Seharusnya, pendampingan utama saat anak belajar di rumah adalah orang tuanya. Guru les semacam aku hanya memberikan pengertian kepada anak mengenai kesulitan yang didapat di sekolah.

Ah entahlah...

#CHSGP

Niatnya bantu tapi malah galau~

.....tidak mau sebagian dari kehidupannya tenggelam dalam lautan masa lalu.

Semalem, ada yang curhat.

Temenku, sebut saja namanya Thole, dia galau gara-gara mau pergi merantau buat kerja. Yang dia galaukan bukan masalah apa-apa, cuma perihal hewan piaraan, yaitu seekor kelinci (padahal bukan kelinci).

Dia bingung mau digimanain si kelinci itu. Mau dibuang tapi kasian. Jadi aku sarankan buat memindahtangankan si kelinci ke orang lain yang mau melihara.

Makaaa... aku bantulah dia...

Aku bantu nge-share ke banyak grup Whatsapp.
Intinya cuma ngasih tau, siapa yang mau piara kelinci. Dan sengaja aku nggak sebut nama pemilik, biar nggak usah pake ngenal-ngenalin. Ribet.

Dan pada akhirnya ada satu yang mau melihara. Bukannya senang, tapi aku malah bingung. Kenapa?? Karena... yang mau melihara adalah.... mantan si Thole.

OH MY GOD !!



Sontak aku terkaget-kaget. Dan kulaporkan ke Thole bahwa si Denok (mantan Thole) yang mau melihara si kelinci. Thole pun panas dingin. Bingung deh.

Ah ya sudahlah yaaa~

Daripada saya ikut-ikutan ngurusin masalah orang lain, mending aku bilang aja kalo kelincinya udah ada yang mau melihara. Hahaha...

Jadi sebenarnya apa susahnya si Thole buat menyerahkan kelinci peliharaannya itu ke Denok?

Aku yakin... Si Thole tidak mau sebagian dari kehidupannya tenggelam dalam lautan masa lalu. #tsaaaah


Wis bro~ Dadah~

#edisi-males-nulis

I'm spiderwoman~~

Bukan apa-apa dan sebenarnya emang bukan apa-apa.

Aku opname lima hari empat malam hanya gara-gara digigit laba-laba.

Padahal aku sih nggak tau yang nyengat aku sebenernya apa.

Tapi kata tetanggaku, aku disengat "onjo-onjo".

Apa sih tu?

Kata babe, itu semacam laba-laba kecil.


Ada yang nanya, "Kamu sakit apa?"
Aku jawab, "Nggak sakit, cuma lagi transformasi jadi spiderwoman."

Nah gara-gara itulah, aku sekarang jadi spiderwoman.

Udah lah itu aja.

Lagi males aku -__-"

#edisi-males-nulis

Semakin Takut untuk Merantau

"I am a gadget technician, a consultant writer, and a private secretary.... at home."

Beberapa waktu yang lalu, aku mencetuskan bahwa aku pingin merantau ke luar Jogja. Hey, kau tau lah, aku udah di Jogja lebih dari 24 tahun. It's something!!


Satu sisi, aku merasa takut untuk merantau. Bukan karena ragu dengan kemampuanku, aku malah lebih memikirkan orang tuaku.

Dulu ketika kakakku masih di Jogja, aku sangat bergantung padanya, terutama masalah gadget dan teknis-teknis penggunaan berbagai macam alat elektronik. Aku sangat nggak bisa membayangkan kalo kakakku itu nantinya gak ada di rumah. Orang tuaku yang sudah terlewat gapteknya, otomatis akan bergantung ke satu-satunya anak yang tesisa di rumah ini. Dan akhirnya itu benar terjadi.

Awalnya kelabakan karena kakakku sudah mulai merantau jauh. Aku selalu telpon kakakku buat tanya hal-hal teknis, bahkan tanya tentang PR. Semakin lama, aku semakin terbiasa dengan ke-otodidak-an. Semua yang baru, aku lakukan dengan otodidak. Ini jadi tahap awalku menjadi otodidaker (apa pula tu otodidaker. hahaha).

Semua-semuanya yang bapak/ibuku merasa kesulitan, pasti ditanyakan ke aku. Bahkan suatu saat pas aku KKN di Kebumen, ibuku telpon hanya karena ada yang error di laptopnya (kayaknya cuma salah pencet). Bikin ppt buat bahan ajar juga aku yang bikin. Ngetik soal yang notabene penuh dengan rumus matematika dan reaksi kimia juga aku yang ngetik. Aku sering ditelpon buat buruan pulang buat mbantuin ngetik, ngeprin, dan lain-lain yang berbau gadget. HP error pun aku yang urus. Duh duh.

Dari pengalaman-pengalaman ini, aku semakin nggak yakin buat merantau. Mungkin aku akan kerja di Jogja saja. :(

aku rapopo kok

#DILEMAPENGANGGURAN ditambah #DILEMAJOMBLO

Muka gue pas bikin pos ini =D

Gabungan antara pengangguran dan jomblo bisa disebut juga double attack!!

Gimana enggak, lha wong yang ditanyain semua orang kepada kita (baca: sarjana) ya cuma bab itu-itu doank. Kapan kerja? Kerja apa? Kapan nikah? Kapan punya anak? Kapan punya cucu? Kapan punya cicit? Kapan bikin klan sendiri? Kapan bikin dormitory? Kapan mbangun kingdom? #ahsudahlah

Kadang kita jadi merasa kecil ketika kita ditanya kapan kapan dan kapan. Jawaban mentok adalah: "tunggu waktunya saja, semua sudah ada yang ngatur." Hahaha... Pencitraan biar nggak keliatan bego bego amat, paling enggak ada usaha buat jawab.

Tapi, kalo disebut pengangguran, aku sebenernya nggak nganggur-nganggur amat. Masih mending aku punya kerjaan jadi tentor privat. Yaaa, walaupun masih gak cukup buat hidup di jurang perjuangan yang sebenarnya. Untungnya aku masih ada rumah yang di dalamnya ada kasur, makanan, TV, internet, air melimpah dan lain-lain (bukan sombong lho. ini kenyataan. haha).

Tapi jujur aja aku pingin segera punya kerjaan yang bisa dibilang sebagai kerjaan. Ya paling enggak KTP ku biar nggak selamanya bo'ong. Pas perpanjangan KTP kemarin, aku ngisi kolom pekerjaan sebagai : karyawan swasta. Pffftt~ Ye lah, tentor privat termasuk karyawan swasta lah yaaa.. Anggap saja gitu.
Habisnya, nggak ada kolom fresh graduated sih.. Apa boleh buat. Daripada aku tulis jadi Dokter, malah berabe ntar. Bisa-bisa aku nyuntik orang lewat njus njus njus.

Dan sampai berita ini diturunkan, saya masih jomblo. Umur segini dengan kualitas super gini (narsis dikit gapapa lah ya), aku masih jomblo. Sedangkan teman-teman saya kebanyakan sudah menggaet calonnya masing-masing. Dan bahkan banyak yang sudah mengarungi bahtera rumah tangga. Lha gue? Masih asik aja mainan POU di hape, sama scrolling web lowongan kerja. Ahahaha.. Nasib nasib.

Tapi aku akui, bahwa aku termasuk cewek tangguh. Ketika cewek-cewek yang lain belanja dengan didampingi nganu-nya, belanjaannya pada dibawain. Aku? Bawa box segede gaban sendirian, belanjanya bareng emak, aku yang bawa semua belanjaannya. Sendirian keliling-keliling supermarket, bawa list belanjaan. Seabreg kantong kresek menggelantung di motor. I will be a strong wife. Aih.

Oke teman, ambil positifnya saja dari semua dilema-dilema ini..

Positifnya adalah..... Selama mencari, tingkatkan kualitas diri, dan TETAP BERJUANG!!! #mukajones HAHAHAHA

Mungkin selama ini aku grogi

Ini masih tentang wawancara kerja. Aku berusaha mencari solusi agar aku tak lagi phobia interview. Aku udah mencoba minta saran pada teman-temanku, tapi mereka tak pernah memberi solusi. Ya, menurutku seperti itu, walaupun mereka punya maksud baik. Tapi, mereka nggak merasakan apa yang kurasakan. JAdi kadang aku nggak setuju dengan sarannya. Aku pikir, aku harus mencari solusi atas masalahku dengan kemampuanku sendiri. Kan yang tau kekurangan kita, ya kita sendiri kan. Lalu aku menemukan artikel yang berhubungan dengan phobia ku ini. Mungkin aku hanya grogi.

Judul artikel yang di lansir di tipskarir.com ini bertajuk "Atasi Rasa Grogi Saat Wawancara Kerja". Mari kita ulas, sebenarnya apa yang salah pada diriku, sampai-sampai aku begitu takutnya dengan wawancara. Karena, misi pertamaku adalah harus mengatasi masalah 'yang satu ini' sebelum aku daftar kerja.

1. Sebelum wawancara di esok hari, kita harus punya waktu tidur yang cukup.

Waktu tidurnya sekitar 7-9 jam paling tidak 3 hari sebelum wawancara. Gile aje.. Tapi, bener juga sih. Dengan begitu kan badan bisa lebih fresh dan nggak grogi.

"...berdasarkan hasil pengamatan dari pakar kesehatan, ketika anda memiliki waktu yang cukup untuk tidur, akan sangat membantu anda dalam meningkatkan konsentrasi serta rasa percaya diri saat proses wawancara kerja berlangsung."

Ahahaha... Mungkin ini penyebabnya, aku selalu insomnia kalau sudah tau bakal ada wawancara kerja. Saking stressnya, aku harus berulang-ulang baca buku petunjuk interview, sampai terbawa mimpi. Dan aku jadi nggak mau tidur, takut mimpi lagi. #tepokjidat

2. Persiapkan wawancara.

Katanya, kita harus pelajari dulu posisi yang diinginkan dalam pekerjaan itu. Terus, kita seharusnya juga sering meluangkan waktu untuk belajar lebih banyak ke orang-orang yang pernah bekerja di bidang itu. Tapi, apa yang kulakukan? Saking groginya, aku sampe takut buat cari tau tentang kerjaan yang aku lamar nanti. Duh duh. Ini gak boleh diulangi!! Maka, aku harus belajar! :)

3. Melatih berbicara dan kontak mata.

Dalam hal wawancara dengan bahasa indonesia, aku sudah sering berlatih. Tapi tidak untuk bahasa inggris. Di keluargaku yang jago bahasa inggris cuma kakakku yang di luar kota sana. Bapak-ibuku cetakan orang dulu, jadi nggak paham bahasa inggris, apalagi grammar. Dari segi lingkungan, bahasa inggrisku sangat minim untuk bisa dipraktekkan. Sedangkan di lingkungan teman-teman, aku sangat minder, karena mereka kelewat ekspert. Apalagi aku seorang yang bullyable, jadi, aku takut salah. Kalau salah, aku (pasti) dibully. Parno doank sih. Tapi beneran takut. #ngelespanjanglebar #haha #tukangngelesbutuhles

Mengenai kontak mata, hahahahaha, mungkin aku memang payah untuk hal ini. Ketika aku latihan menjawab wawancara dengan sedemikian rupa saat di rumah, semua akan berubah ketika aku kontak mata. Semacam ctrl+a > del > ctrl+s (ditambah wajah yang melongo). Dan setelah beberapa detik, aku pasti tanya, "Bisa diulangi?" #bodoh #bakayarou #stupid #begopakebanget

4. Sebelum wawancara, harus sarapan dulu.

Selama ini, gara-gara aku takut telat, dan deg-degan berkepanjangan, aku sering melupakan sarapan. Apalagi saat detik-detik menjelang wawancara. Terkadang malah jadi kebelet pipis (efek grogi kali ya..)
Ah sudahlah...

5. Tarik napas dalam-dalam.

Ah, kalo ini mah, tarik napasku udah kelewat dalam. Selalu sangat amat dalam. Jadi sepertinya sudah kulakukan dengan (kelewat) baik. Ini dilakukan supaya denyut jantungnya teratur.

6. Persiapkan jawaban

Perlu saya ulangi lagi?
Ketika aku latihan menjawab wawancara dengan sedemikian rupa saat di rumah, semua akan berubah ketika aku kontak mata. Semacam ctrl+a > del > ctrl+s (ditambah wajah yang melongo). Dan setelah beberapa detik, aku pasti tanya, "Bisa diulangi?"

Oke, saya ulangi lagi...
Ketika aku latihan menjawab wawancara dengan sedemikian rupa saat di rumah, semua akan berubah ketika aku kontak mata. Semacam ctrl+a > del > ctrl+s (ditambah wajah yang melongo). Dan setelah beberapa detik, aku pasti tanya, "Bisa diulangi?"

Minta diulangi lagi? ----- SUDAH CUKUP ! Hahaha~

"Sebelum anda akan memberikan setiap jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh pihak pewawancara, ada baiknya jika anda dapat mencerna setiap pertanyaan tersebut kurang dari 10 detik dan setelah itu baru anda menjawab pertanyaan tersebut. Anda harus mengusahakan menjawab setiap pertanyaan tidak dengan terbata-bata, karena hal tersebut dapat mengesankan kalau anda memang tidak siap untuk wawancara kerja yang anda jalankan."

----

Oke, sekarang aku tau (banyak) kekuranganku. Aku harus lebih berlatih lagi.
PR-nya adalah banyak-banyak istirahat, biasakan sarapan, belajar banyak tentang pekerjaan, latihan kontak mata, dan latihan wawancara. #duhbanyak

SEMANGAT BARENG-BARENG YA PARA JOBSEEKER !!! :) :) :)

Zona (tidak) Nyaman

Statusku saat itu

Seperti postingan-postingan sebelumnya, aku pernah mengungkapkan bahwa aku sebenernya nggak ingin melalui jalanku yang seperti ini. Inilah namanya takdir. Semua sudah ada yang mengatur. Dan aku telah lama bersyukur dengan semua yang telah terjadi. Tentu saja ini baik untukku.

Tapi aku sangat terusik ketika ada beberapa orang yang menyarankanku untuk keluar dari zona nyaman. Mereka sudah mulai sok tau. Aku harus keluar dari mana? Padahal selama ini aku nggak menemukan zona nyamanku.

Sudah berkali-kali aku ungkapkan di blog pribadiku ini. Aku sangat pandai menyugesti pikiranku. Aku tahu ini adala zona tidak nyamanku, maka aku yakinkan diriku bahwa aku bisa mengubahnya jadi zona nyaman. Dan itu berhasil. Sekarang aku mulai bertanya-tanya, jangan-jangan zona nyamanku yang sebenarnya telah menjadi zona tidak nyamanku untuk saat ini?

Ini bukan hari kebalikan. Tapi hidupku benar-benar sudah terbalik. Bahkan aku mulai tidak siap dengan kenyamanan yang ada. Tapi aku bisa mengubah zona tidak nyaman menjadi nyaman bagiku hanya saat aku mulai terdesak. Ketika tidak ada pilihan lain.

Saat ini sejujurnya aku ingin kembali ke zona nyamanku. Entah yang mana. Aku hanya ingin kembali ke zona nyamanku. Dan mungkin inilah tantangannya!!

Perjalanan belum berakhir. Selama ini aku terbiasa diarahkan (read: tidak dipaksa diarahkan), sekarang aku harus bisa mengarahkan diriku sendiri.

Ra urus karo omongan uwong sing teng tlecek ra nggenah.... :)

English Logic : Kemana-mana pinginnya diakui

Statusku di suatu hari... Liker sengaja nggak ditunjukkan. Hahaha..
Mungkin ini disebabkan karena aku nggak terlalu jago bahasa inggris, jadi aku bisa men-judge seperti ini.

Awalnya aku terlalu antusias belajar bahasa jepang karena berharap bisa kuliah di sastra jepang. Kalian tau sendiri kan, bagaimana orang jepang susah sekali menerima bahasa inggris. Begitu pula denganku. Aku sudah terlalu lama bergelut dengan bahasa jepang (walaupun nggak ekspert-ekspert amat). Kurang lebih 10 tahun belakangan ini. Dan ditambah lagi kehidupanku yang kental dengan bahasa jawa, semakin membuat aku tidak terlalu peka dengan bahasa inggris.

Lalu apa yang ingin ku bicarakan saat ini?

Aku heran aja ya. Memang benar sih, bahasa inggris adalah bahasa internasional. Tapi di jepang dan korea, mereka tidak terlalu mahir bahasa internasional yang kita cintai itu #hoek. Hal itu menyebabkan semua pendatang yang akan tinggal di jepang atau korea, selalu (minimal sebagian besar) menjalani masa belajar bahasa jepang atau korea selama 6 bulan. Lalu, kenapa di indonesia tidak?

Jikalau ya, kami berkunjung ke amerika (misal), wajar jika kami belajar bahasa inggris, karena mayoritas bahasa mereka adalah inggris. Sebagai tamu, wajib untuk mempelajarinya. Tapi ketika para bule itu datang ke indonesia, kenapa mereka nggak sedikitnya belajar bahasa indonesia.

*Bagi bule yang telah bersusah payah belajar bahasa indonesia, bahkan bahasa daerah, aku beri penghargaan tertinggi untuk kaum bule yang aku kenal. #plokplok

Aku masih nggak habis pikir, kenapa ketika orang nggak bisa bahasa inggris, selalu dipandang sebelah mata. Dan mau nggak mau harus dibuat bisa bahasa inggris. Ini gila! Dulu ketika bahasa indonesia pernah jadi bahasa internasional, nggak gitu-gitu amat. Ah, aku ngrasa kurang adil dengan semua ini. (INI TIDAK ADILLL!!!) #lebaydikitlah

Oiya, sekali lagi. Ini hanya opini gamblangku. Hanya pikiran bodohku. Karena ini blogku, jadi sesukaku mau nulis apa. Hahahaha... Mungkin ada beberapa orang yang setuju dengan opiniku ini.


Sesuatu yang kutakutkan ketika melamar pekerjaan: Wawancara

Bisa dibilang aku phobia interview / wawancara. Semacam ada yang mengusik pikiran aja kalo aku harus diwawancarai. Apapun kepentingannya.

Dari dulu, aku benci diwawancara. Kenapa? Karena wawancara itu selalu mengungkit-ungkit masa lalu yang tak ingin kuingat. Itu memancingku buat meneteskan air mata dan mendadak melow. Padahal seharusnya aku lebih bahagia agar orang-orang yang mewawancaraiku lebih mengenalku sebagai orang yang ceria. Tapi semua hancur gara-gara ingatan masa lalu.

Wawancara / interview yang dulu-dulu itu kebanyakan menanyakan, "Apa motivasimu untuk mengikuti ini?"

Selalu dan pasti ada yang semacam itu, apapun jenis wawancaranya. Pertanyaan itu sangat sensitif bagiku. Karena keinginan mengikuti suatu kegiatan dengan senang hati (bahkan kerjaan), tidak selalu lebih kuat dibanding keinginanku untuk mengalihkan semua kegalauan yang sering muncul di pikiran.

Jadi, aku nggak pernah bisa menjawab sesuai dengan keinginan pewawancara. Mungkin aku bisa berbohong demi kelancaran wawancara, tapi pasti selalu dibarengi tetesan air mata. Kenapa? Karena aku takut bohong.

Dan..... sekarang aku mengalami phobia wawancara. Apapun jenis wawancaranya. Sebagai narasumber atau kepentingan interview kerja, aku selalu merasa takut. Takut kenapa? Entahlah. Aku hanya tidak ingin kejadian yang sama terjadi. Apalagi kalau pertanyaannya mengenai prinsip. Susah rasanya berbohong hanya demi kepentingan materi atau apalah namanya.

Jadi, mungkin aku milih-milih kerjaan karena aku nggak mau diwawancara.
Tapi demi kerjaan, itu harus dihadapi. Nggak boleh terlalu idealis. Tapi... Huh!
Kenapa harus ada wawancara sih? *menangis*

Late post: Ujung kuliah

Bulan Berkah.... Puasa Ramadhan kemarin rasanya terlewat begitu saja. Kurang greget gitu. Mungkin karena aku sibuk mengurus yang namanya skripsi. Semoga semua yang ku lakukan itu dihitung ibadah. Aamiin..

Dan setelah sekian lama..... Akhirnya sampai ujung juga.
Rasanya aku puas banget. Akhirnya dan akhirnya aku bisa menyelesaikan tantangan yang kubuat sendiri. Karena kesalahanku sendiri pula tantangan itu ada. Sudah cukup menyesakkan dada di awalnya, di pertengahan sudah mulai merasakan kejenuhan, tapi akhirnya aku bisa juga!!!

laboratorium dan laboratorium

Ada-Ada Aja


Ini membahas tentang lika-liku skripsi. Belum selesai betul sih. Tapi...
Aku, manusia yang kebetulan cewek, sedang risau dengan skripsi, ditambah aku udah angkatan semester dua digit. #tua

Awal mulanya aku pingin skripsi tentang reptil terutama kura-kura. Kenapa? Karena aku ikut suatu organisasi tentang Herpetologi. Tapi apa yang kudapat? Aku skripsi tentang ikan. #meh