RSS
Tampilkan postingan dengan label cerita hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita hidup. Tampilkan semua postingan

Long Time No See..

 Ini sudah tahun 2026.

Aku sudah melewati banyak hal, pelajaran hidup, maupun pengalaman berharga.

Tahun 2019 aku menikah.

Tahun 2020 aku sibuk menata hidup saat Covid melanda.

Tahun 2020 pula aku positif hamil.

Tahun 2021 bapakku meninggal dunia, lalu anakku lahir, lalu bapak mertuaku juga meninggal dunia.

Tahun 2022 kucing kesayangan bapak (si Cimung) mati.

Tahun 2023 ibuku meninggal dunia. Dunia berubah. Aku harus belajar membuat keputusan, apapun masalahnya. Tidak ada lagi seseorang yang bisa membelaku saat aku tersudut.

Tahun 2024 gejolak kehidupan semaki nyata.

Tahun 2025 aku masih menata hidup dengan segala upaya. Semakin ke sini, biaya semakin mencekik. Status pekerjaan yang semakin di ujung tanduk juga menambah bumbu kepasrahan.

Tahun 2026. Tahun ini. Aku sedang memproses segalanya agar aku bisa melangkah tanpa beban.

Roller coaster yang aku rasakan.

...

Aku tak peduli dengan orang-orang yang menanyakan, "kapan punya anak kedua?"

Mereka mungkin tidak tahu apa yang aku alami, mereka pikir aku sudah cukup mampu untuk punya anak 5 sekalipun. Aku hanya mengamini. Tapi realitanya tidak. UMR Jogja sudah mulai di luar nalar dengan biaya hidup yang semakin menjulang.

Doaku hanyalah, semoga kami dimampukan dalam segala hal dan diberikan keikhlasan atas segala ketentuan-Nya.

...

Tahun ini anakku masuk TK.

Alhamdulillah aku punya hobi menabung sejak dari kecil. Anakku pun aku ajarkan menabung. Aku buatkan rekeningnya sendiri. Itu semua membantu. Kami terhindar dari hutang. Walau kami pas-pasan.

Mungkin mulai dari tahun ini, aku akan mulai aktif menulis blog ini lagi.

Temanya akan sedikit berbeda dari 8 tahun lalu.

...

Insya Allah aku akan lebih sering menulis tentang cara bertahan hidup di Jogja dengan gaji "cukup".

Cukup dalam menghidupi. Artinya tidak kurang dan tidak lebih, syukur bisa ditabung sedikit.


Bismillah..


See you next time :)

Cheers.

You Know Nothing, Man...



Aku adalah cewek dengan pekerjaan biasa aja. Tidak ada yang dibanggakan. Hanya seorang pegawai kontrak di kantor pemerintah.

Beberapa orang menyayangkan hal itu.

"Kamu bisa kerja yang lebih tinggi lho. Lulusan S1 UGM jangan cuma sampai sini aja. Karirmu bisa lebih tinggi lagi. Gapai cita-citamu lebih tinggi."

Gitu.

Mereka pikir, kerjaan yang pantas buat aku itu adalah.. ya minimal PNS lah ya. Atau di perusahaan besar, jadi supervisor atau manajer blablabla.

Haha.

Mereka nggak tau aja apa yang sebenernya dicita-citakan olehku.

Dulu, aku punya kerjaan yang liburnya gak tentu. Bukan pas weekend, yang notabene aku gak bisa menikmati weekend ku bersama keluarga. Liburan panjang bagi banyak orang pun, gak bisa aku nikmati. Kakak mudik ke rumah pas liburan, dan aku malah kerja fulltime. Itu sungguh menyiksa.

Setelah aku "keluar" dari pekerjaanku itu, aku berdoa sungguh-sungguh.
"Ya Allah, Engkau tahu apa yang hamba butuhkan. Aamiin."

Alhamdulillah, 

Aku pingin kerja yang tidak membebani pikiran, tidak membuat badan lelah, jadi aku nggak merepotkan banyak orang. Aslinya aku cuma pingin bekerja dengan penghasilan yang minimal bisa nabung buat haji, kantor dekat rumah, dan libur tanggal merah sesuai orang pada umumnya.

Dan, terkabul.. Alhamdulillah..

Bekerja udah lebih dari setahun, dan aku nggak merasakan beban sedikitpun. Badanku gak capek, pikiran gak buyar, family time tercukupi, dan masih bisa nabung.

Ini sudah lebih dari cukup. Alhamdulillah.

Mereka yang berlomba-lomba memotivasiku, terima kasih. Tapi sebenarnya mereka tidak tau apa yang sebenarnya aku inginkan.

Hanya Allah yang paham tentang itu.

Bismillah...

Memulai Kembali :)

Matahari sudah di penghujung petang
Kulepas hari dan sebuah kisah
Tentang angan pilu yang dahulu melingkupiku
Sejak saat itu langit senja tak lagi sama

Sebuah janji terbentang di langit biru
Janji yang datang bersama pelangi
Angan-angan pilupun perlahan-lahan menghilang
Dan kabut sendu pun berganti menjadi rindu

Aku mencari
Aku berjalan
Aku menunggu
Aku melangkah pergi
Kaupun tak lagi kembali

Sebuah janji terbentang di langit biru
Janji yang datang bersama pelangi
Angan-angan pilupun perlahan-lahan menghilang
Dan kabut sendupun berganti menjadi rindu
Sejak saat itu langit senja
Tak lagi sama

Angan-angan pilupun perlahan-lahan menghilang
Dan kabut sendupun berganti menjadi rindu
Sejak saat itu langit senja
Tak lagi sama

Aku mencari
Aku berjalan
Aku menunggu
whoo ooh
Aku melangkah pergi
Kaupun tak lagi

Aku mencari
Aku berjalan
Aku menunggu
whoo ooh
Aku melangkah pergi
Kaupun tak lagi
Dan ku kan memulai kembali


Monita Tahalea - Memulai Kembali :)

Welcome to My Lyfe

Do you ever feel like breaking down?
Do you ever feel out of place?
Like somehow you just don't belong
And no one understands you
Do you ever want to run away?
Do you lock yourself in your room?
With the radio on turned up so loud
That no one hears you screaming

No you don't know what its like
When nothing feels alright
You don't know what its like to be like me
To be hurt, to feel lost
To be left out in the dark
To be kicked when you're down
To feel like you've been pushed around
To be on the edge of breaking down
And no one there to save you
No you don't know what its like
Welcome to my life

Do you want to be somebody else?
Are you sick of feeling so left out?
Are you desperate to find something more
Before your life is over

Are you stuck inside a world you hate?
Are you sick of everyone around?
With the big fake smiles and stupid lies
But deep inside you're bleeding

No you don't know what its like
When nothing feels alright
You don't know what its like to be like me
To be hurt
To feel lost
To be left out in the dark
To be kicked when you're down
To feel like you've been pushed around
To be on the edge of breaking down
And no one there to save you
No you don't know what its like
Welcome to my life

No one ever lied straight to your face
And no one ever stabbed you in the back
You might think I'm happy
But I'm not gonna be okay
Everybody always gave you what you wanted
You never had to work it was always there
You don't know what its like
What its like To be hurt
To feel lost
To be left out in the dark
To be kicked when you're down
To feel like you've been pushed around
To be on the edge of breaking down
And no one there to save you
No you don't know what its like
What its like

To be hurt
To feel lost
To be left out in the dark
To be kicked when you're down
To feel like you've been pushed around
To be on the edge of breaking down
And no one's there to save you
No you don't know what its like
Welcome to my life
Welcome to my life
Welcome to my life

What the lyfe!!

Blah.. Blah.. 

Teman? Apa itu teman?

Kamu pasti pernah punya teman diskusi kan? Yang bisa diajak bertukar pikiran, dan waow, ternyata pemikiran kalian benar2 sama. Bahkan kalian menganggap diri kalian soulmate.

Teman diskusi akan selalu berubah sepanjang waktu.

Ketika si A yg jd temanmu sudah menikah, dia akan mencari teman diskusi bukan lagi kepadamu, tapi pada teman yg sudah menikah juga.

Ketika si B sudah punya anak, makan dia akan mencari teman diskusi yg sesama punya anak.

Begitu seterusnya.

Dan ketika kamu masih dalam tahap ini karena takdirmu belum datang, maka yg terjadi adalah kamu akan melihat teman2 diskusimu yg dulu akan lebih antusias berdiskusi dgn orang baru yg "senasib".

Orang lama sepertimu ini apa? Cuma masa lalu yg gak berkembang. Yg gitu2 aja tanpa ada kemajuan.

Coba liat mereka, dulu sebelum nikah, mana ada mereka ngobrol satu sama lain. Sekarang? Wiih.. Udah kayak saudara kandung obrolannya. Karena apa? Karena mereka senasib.

Lalu ketika kamu masih jalan pelan2 demi menanti takdir, akhirnya mencari teman yg sama2 jalan pelan2. Yg senasib.

Tapi kenyataannya, yg senasib itu jarang yg seumuran denganmu. Mereka jauh lebih muda. Hahahahaha. Yg mau nggak mau, kamu harus menjadi orang paling kolot di antara mereka. Memaksamu harus menjadi "kekinian". Superb!

Mulai lelah??

Lelah terjebak dalam situasi seperti ini?

Akhirnya kamu menarik diri dari kedua kubu. Kubu teman lama dan kubu teman baru. Lalu kamu merasa kesepian. Dan mencoba kembali ke salah satu kubu, kubu mana pun itu, tapi perubahan terjadi sangat cepat.

.....


Kini kamu lebih menikmati kesendirian dengan segala imajinasi. Hidup dengan hobimu yang orang terdekatmu tdk paham. Mengeksklusifkan diri. Mengabaikan kehidupan orang. Mencoba tak peduli dengan orang. Mengurangi kuantitas dlm mengumbar kehidupan pribadi. Hanya bisa duduk, nonton video YouTube, ketawa2 sendiri, bahagia sendiri. Lalu kamu merasa sia2 kalau kebahagiaan ini dirasakan kamu sendiri. Kamu coba bagi ke orang lain tapi ternyata orang lain tidak paham juga. Hahahaha...



What the lyfe!!

Independent Girl


Independent Girl


Istilah itu aku dapet pas jaman KKN. Ella, temen se KKN ku selalu bangga mencanangkan bahwa dirinya seorang Independent Girl.

Aku heran aja, apa yg dibanggakan dgn sebutan itu. Hidup sendiri dan tidak ingin menggantungkan apapun ke orang lain. Bergerak sendiri tanpa ada teman di kanan kiri.

Setelah sekian lama, ternyata aku menyadari bahwa kini aku juga berubah jadi Independent Girl.

Rasanya?

Bebas dan tak terkekang oleh aturan "musuhku adalah musuhmu juga". Yang ada, aku bisa pilih berteman sama siapa aja. Musuhnya temen, bisa jadi temenku juga. Karena pada dasarnya, aku gak pingin punya musuh.

Yg penting memposisikan diri dengan bijak.

:) :) :)

AKU STRESS...



Oke, tahun ini aku fix pingin kuliah lagi. Aku rencana mau ambil Psikologi Sains UGM. Padahal S1 ku itu Biologi, dan kenapa aku malah pilih Psikologi? Soalnya aku merasa itu lebih ke arah passion. Aku suka memperhatikan tingkah orang, dan aku sering menebak-nebak apa yang orang lain rasakan ketika ada sesuatu terjadi padanya. Yaa cuma dari situ sih alasannya, tapi apa salahnya kalau kebiasaan itu bisa dilandasi dengan ilmu yang sesuai. Oke kan??

Kalau kuliah di Psikologi Sains nanti akhirnya bukan jadi psikolog, tapi tetep jadi ilmuwan. Karena basisnya adalah penelitian. Bukan ke arah profesi psikolog. Mungkin kalau diterka ya semacam bikin kuisioner dan hasilnya ditelaah sesuai prosedur keilmuan yang ada. Sehingga bisa menghasilkan suatu teori baru mengenai permasalahan yang telah ada. Wediaaaaannn.. Omong opo aku.. Hahaa..

Oke!

- Niat buat kuliah udah ada.
- Semangat buat nyari persyaratan udah ada.
- Semangat buat nanya-nanya tentang yang tidak aku tahu, udah ada.

Kurang apa lagi?

Yak benar!! Duit!

Semuanya pasti ujung-ujungnya duit. Kemarin aku ke kampus Psikologi buat nanya-nanya tentang prosedur dan persyaratan. Ada matrikulasi dan sebagainya. 

"Untuk biaya pendaftaran berapa ya, Pak?"
"Pendaftaran Rp 750.000,00 dibayar lewat BNI. " 
"Lalu untuk biaya matrikulasi berapa ya, Pak?"
"Ya sama kayak biaya semester, Rp 9.000.000,00."
"Oh. Baiklah. Makasih Pak." (heavy breath) 

Emang sih, biaya kuliah S2 emang sekitaran segitu. Bahkan kalau S2 di Biologi pun mencapai 10 jeti.
Tapi kalau dipikir-pikir, dengan ekonomi yang kayak gini, mana tega aku minta dibayarin ortu segitu banyaknya. Gaji berapa bulan tuh segitu, masa iya cuma buat biayain aku kuliah. (heavy breath again)

Oke, mau nggak mau aku kudu nyari beasiswa. Semoga ada yang nyantol beasiswanya. Kalau enggak ada yang lolos, aku nggak jadi kuliah S2. Mungkin aku lebih milih kursus menjahit atau malah kuliah S1 lagi di tempat yang lain.

Tapi tetep disambi nyari kerja yang bener. Iya, bener!!


Bismillah. Semua ini udah jalannya. Mungkin emang harus gini dulu buat mencapai sukses dunia akhirat. Aamiin..

______________________---_____________

UPDATE

Aku gak jd S2. Beasiswa semakin susah syaratnya. Dan otakku udah mulai njeblug. Maka saya pilih bekerja saja. S1 saja cukup kok gaes. Aamiin. Wkwk.

H-3 Huff Huff Huff..

Udah 3 tahun belakangan ini aku sangat tidak menikmati bulan November. Banyak dilema dan pertimbangan. Bahkan carut marut pikiran jadi tambah kacau.

Di bulan November, usiaku bertambah secara numerik. Bukan bahagia yang aku rasakan. Mungkin bersyukur karena masih diberikan kesehatan dan lingkungan yang baik. Alhamdulillah. Tapi di sisi lain, aku merasa aku adalah makhluk paling nggak berguna selama ini. Di kala yang lainnya sibuk meningkatkan karirnya, dan yang lainnya sibuk menimang baby nya. Aku?

Ya, kau lihat sendiri lah.

Tapi semoga semua ini ada hikmahnya. Rencana kita tak akan selalu mulus jika tidak diijabah oleh Allah. Insya Allah dengan semua rencana indah-Nya, aku bisa menjalani kehidupan dengan lebih baik.

Bismillah buat kuliah lagi.

Belajar dari pelajaran dan pemahaman hidup.

Semoga tahun 2017 aku udah menemukan jalan yang sesuai dengan rencana Allah. Aamiin.

Dilema ulang tahun (mother of deadline)



Kemarin, temenku ultah dan aku sengaja nggak ngucapin met ultah. Karena aku gak menganut itu. Nyatanya temen2nya udah banyak yg ngucapin ke dia kok.

Selain itu, karena aku juga gak mau diucapin met ultah. Justru aku malah khawatir.

Ketika yang lain ulang taun dan seneng2 aja diucapin selamat ultah, aku malah khawatir ketika aku ulang tahun. Kenapa?

Hal-hal yang bikin aku khawatir saat aku ulang tahun:

1. Umurku tambah banyak, artinya syarat kerja udah semakin banyak yang gak masuk di aku. Aku harus lebih giat lagi nyari kerja dan gak boleh idealis sama kemauan sendiri.

2. Deadline nikah, artinya semakin aku tua, akan semakin banyak yang menuntutku buat nikah. Ya salaam.. :(

3. Menyadari bahwa aku udah tua. Ini  jelas. Aku harus lebih bijak menyikapi segala hal. Gak bisa lagi manja2an ala anak kecil. Walaupun aku tetep pgn manja ke mama. Hahaa.

4. Udah mulai masuk generasi gak nyambung. Ini maksudnya, dibandingkan dengan anak2 jaman sekarang, aku pasti udah mulai dianggap generasi jadul. Dan pastinya aku udah bener2 nggak nyambung sama trend saat ini.

5. Harus mulai sadar diri. Sadar diri terhadap fashion yang gak bisa teenlit2an lagi. Biar aku bisa berpakaian sesuai umurku, padahal aku paling gak bisa kalo harus terlihat kelewat dewasa. Haha.

6. Dan banyak lagi.

Entah kenapa aku paling sedih saat aku masuk di umur baruku.

Dan ini akan terjadi bulan depan. Dan plis, tolong jangan ucapin selamat ketika aku ultah nanti. Tolong doakan saja semoga jodoh dan rejeki bisa lancar. Dan tolong selalu ingatkan aku untuk selalu berdoa dan ingat Allah SWT ya..

Aamiin.

#muhasabah

Ini Tentang Balas Budi

Aku selama ini berusaha berbuat baik walaupun semuanya tidak berbalik padaku.
Aku pikir semua pasti ada hikmahnya.

Tapi semua berubah setelah kejadian kemarin.
Aku berteman dengan dua orang yang sedang merintis bisnis mereka. Kebetulan kami kenal lumayan baik.
Aku sangat iri dengan mereka.

Posisi kami ada di suatu stand pameran di kawasan Jogja. Stand kami jadi satu, sehingga kami bisa bercerita dengan sangat intens.

Salah satunya (sebut saja Andin) cerita padaku kalau dia sedang sakit perut karena dismenore (nyeri haid).
Tapi dia bela-belain dateng karena dia tidak enak dengan partnernya (sebut saja Sofia).
Sofia telah susah payah mengurusi stand yang mereka sewa di suatu pameran.
Dan demi Andin yang sedang nyeri haid pun Sofia bela-belain datang awal membawa semua barang yang akan mereka jual di pameran itu. Padahal barangnya tidak sedikit. Itu saja masih harus membantu stand sebelah yang juga temannya.
Aku pikir Andin akan tidak datang. Tapi ternyata dia datang. Dengan perut yang nyeri, dia datang, merampungkan semuanya, membiarkan Sofia yang sudah riweuh dari tadi untuk istirahat.
Satu hal lagi yang membosankan di telingaku adalah, kata-kata "terimakasih" dan "maaf" nggak pernah lupa mereka ucapkan. Sampai tak terhitung kata-kata itu sampai berapa kali terucap.

Aku melihat feedback yang sempurna di persahabatan mereka.

Aku kulik lagi tentang mereka.

Aku mendapati cerita dari Andin, dia selalu memuji-muji Sofia dengan semua hal positif. "Dia itu baik banget mbak, untungnya dia pengertian. Kalau aku sedang riweuh, dia mau dateng ke tempatku. Padahal rumah kami berjarak sekitar 8 km."

Aku penasaran juga dengan pendapat Sofia, "Andin itu baik banget. Dia selalu ngerti kalau aku nggak selalu bisa ke tempatnya, jadi dia mau bela-belai dateng ke rumahku. Jemput aku. Gitu juga sebaliknya."

KLOP!

Ungkapan yang sama dan feedback yang sempurna.

Aku iri banget.

Walau berbuat baik itu harusnya tanpa pamrih, tapi alangkah indahnya jika feedback itu ada.
Tidak selalu ingin dimengerti, tapi juga berusaha mengerti orang lain.
Minimal jika tidak bisa melakukan hal itu untuk membalas, cobalah melakukan hal lain yang setara nilainya.

Tidak cuma dengan hal yang berbau "fisik" tapi juga "mental".
Ingat lah dulu siapa saja yang membuatmu jadi bahagia (misalnya) seperti sekarang ini. Ucapkan terima kasih, atau lakukan sesuatu untuk membalasnya walau dia tidak mau.

Paling tidak, agar tidak ada rasa "negative thinking" tentangmu yang bisa saja dicap "nggak tau diuntung".

Tapi kayaknya emang semuanya harus pelan-pelan. #sigh

Pertanyaannya: Pernahkah kamu membalas budi?

Sakit itu tak selalu nampak



Aku hanya menceritakan tentang perasaan terdalam ku, sebagai cewek yang ditinggal teman terdekatnya. Ditinggal demi orang lain yang telah berkomitmen untuk masa depannya.

Aku kadang mbatin, jangan-jangan hanya aku yang mikir kayak gini. Ternyata beberapa teman dan sepupuku merasakan hal yang sama. Ketika aku menanyakan, "Apa yang sebenarnya kalian rasakan ketika satu teman dekat kalian nikah, padahal seharusnya kalian masih bisa menikmati hari menyenangkan bersama?"

Jawabannya sama. "Itu sangat menjengkelkan dan membuat jarak yang jauh secara tiba-tiba."

Ketika kami yang sedang bahagia-bahagianya mempunyai teman dekat, dan secara dini ada teman dekat menikah. Menikah di saat kami belum siap untuk menemukan teman baru... Itu terkadang yang membuat kami benci dengan pernikahan. Selain sebal, nggak jarang juga jadi bahan perbandingan di keluarga. "Itu si X udah nikah, kamu kapan?"

Yakk. Hal itu terjadi padaku.

Tp bukan kebencian ini yang akan aku bahas. Melainkan perasaan yang ditinggal nikah.
Aku sebagai pengamat yang baperan ini, telah merasakan rasa sakit hati yang sepedih ini setidaknya dua kali.
Pertama saat ada teman seangkatan wisuda lebih dulu (dan pamer toga di sosmed). Kedua, saat teman dekat menikah lebih dulu (yang kemudian pamer kemesraan di sosmed).

Kami (para teman yang ditinggal nikah) merasakan hal yang pedih bertubi-tubi. Pertama ketika mendengar rencana pernikahan, menerima undangan, dan kenyataan bahwa akan terjadi jarak di antara kita. (Cieee. Ups. Ini serius.)

Kata salah satu teman, "Aku paling nggak suka kalo ada temen yang udah nikah duluan. Semuanya pasti bakal beda. Misal diajak ngumpul, bilangnya pasti selalu 'sorry aku gak bisa, aku harus nunggu suami pulang' atau kalo enggak 'wah mau dong ikut, tapi istriku ikut ya.' Itu bikin maless."

Sepupuku bahkan bilang gini, "Dia sadar dia udah nikah duluan, sedangkan kami yang ngajak ngumpul belum pada nikah dan masih gini-gini aja. Dipikir kami gak cemburu? Kami sebel dan cemburu. Mana pake pamer suap-suapan pula. Nggak sopan!"

Aku nggak nyangka ternyata ada juga orang lain yang berpikiran sama denganku.

Jodoh memang sudah ditentukan. Tapi perasaan dan persahabatan bisa saja rusak karena adanya ikatan pernikahan.

Aku pernah dimarahi sama temen sendiri gara-gara aku menyakiti perasaan orang hamil. Dan memang orang yang udah nikah dan hamil atau punya anak itu pasti akan memiliki kehidupan barunya (juga lebih diperhatikan -- ya sama pasangan, sama teman, sodara, mertua, semua..).
Dan mereka sudah tidak mempedulikan kami yang merasa ditinggalkan, yang sebenarnya masih butuh seorang teman yang seperti mereka.
Teman yang sama, bukan teman yang tiba-tiba berubah jadi orang tua yang sok ngatur kayak yang ada di rumah.

Ada satu teman lagi bilang, "Emang ya, kalo udah emak-emak itu temennya ya sama emak-emak yang lain. Bukan sama kita yang masih ngunyah permen karet."

"Dan pemikiran orang yang udah kerja juga jadi beda, udah nggak seasik dulu lagi. Mereka jadi sok nasehati gitu." lanjutnya.

Umur udah tua, tapi jodoh ada yang ngatur. Maka sempurna lah kesakitan ini akan terus menggerus, karena semakin lama, akan semakin banyak teman-teman yang meninggalkanku.

Aku akan semakin jauh dengan mereka, dan aku cuma bisa ngomong sama tembok (lagi).

Aku bisa sangat memaklumi semua yang telah terjadi. Karena ini lah kenyataannya. Tapi aku sangat tidak terima jika, aku harus selalu memahami keadaan mereka sedangkan mereka tidak memahami keadaanku (keadaan kami untuk pada umumnya).
Mungkin mereka hanya menganggap kami sebagai pengacau dan pembuat onar di kehidupan rumah tangga teman kami sendiri. Tapi sebenarnya.... kami tak sudi teman kami direbut orang yang baru saja dikenalnya lalu diajak menikah lalu semena-mena menjauhkan kami dengan teman kami.

Kami juga punya hati.

#suarahatiyangditinggalpergi

Ini tentang KEGALAUAN yang terus berulang



Gue nganggur dan gue jomblo... eh... bukan.. TAPI

"Gue produktif tanpa gaji dan gue belum dipertemukan dengan jodoh."

Bukan gue yang galau, tapi emak gue.


Aku sekarang udah nggak terlalu galau dengan masalah jodoh dan rejeki. Semua sudah diatur sama Allah. Jadi kita hanya berusaha saja sebisa mungkin. Tapi kayaknya emak nggak gitu.

Ibuku selalu menggalau kalo aku belum juga keterima kerja. Menggalau kalo ngeliat fakta bahwa aku masih jomblo. Kalo aku mah, mengganggap ini adalah suatu proses perjalanan hidup. Oke, aku jadi ikut galau ketika ibuku sedang galau. Ah sudahlah..

Yang paling kzl adalah ketika aku cerita tentang temenku yang udah nikah. Ibuku sangat amat membencinya. Ibuku sangat benci dengan temanku yang sudah nikah. Kemarin temenku ada yang dateng ke rumah dan bawa suaminya. Dan.. ibuku benci itu. Entah salah apa, tapi selalu kayak gitu. Ibuku juga sangat benci kalo aku cerita tentang keberhasilan temenku. Dia benci semua orang seumuranku yang bisa "lebih baik" dari aku. Awalnya aku nggak tau kenapa. Tapi sekarang aku tau kenapa.

Ibuku sudah terbiasa dengan kelancaran hidup kakakku, baik jodoh ataupun kerjaan. Ibuku juga sudah terbiasa dengan istilah "mencari kerja dari orang dalam". Yang notabene aku sangat tidak suka itu. Ibuku juga terbiasa dengan "kerja adalah duduk di kantor dengan berbagai macam rapat di dalamnya".

Mindset ini yang nggak bisa aku ubah. Dan aku serasa disetir harus mengikuti mindset semacam itu.

Nggak cuma itu, babeku pun kadangkala menambah runyam ide-ide indahku.

Ketika aku punya ide dahsyat untuk aku terapkan dalam kehidupanku, yang ide itu selalu tak wajar bagi orang awam, babe pasti menertawakan dengan tatapan mengejek. Itu sangat membuatku down. Babeku nggak menyadari bahwa anak ceweknya ini punya kelebihan dalam hal ide gila. Aku hanya ingin mereka (orangtuaku) saja yang tau. Tapi mereka sangat tidak menerimanya.

LALU dengan seenaknya, tadi ibuku menanyakan tentang CITA-CITAku. Aku dengan lemas menjawab, "nggak ada."

Kan dengan pikiran kolot mereka, aku nggak mungkin bilang kalau sebenarnya cita-citaku adalah "melakukan hobi dan digaji." Kan kerjaan paling enak kata Ridwan Kamil tuh.

Nggak gampang buat kerja yang sesuai dengan hobi. Harus dari nol. Tapi ya, aku harus jauh dari orang tua dulu. Biar nggak ada lagi yang menyetirku. Tapi apa daya, aku nggak bisa dilepas semudah itu. Istilahnya, gue telah tersegel.

Kalo masalah jodoh..... ah mbuh deh.


Ketidaknyamanan itu terjadi lagi..

"Dan terjadi lagi.... kisah lama yang terulang kembali..."

Pernah baca tentang sifat-sifat berdasarkan golongan darah?
Oke, aku bergolongan darah A. Dan saya sangat suka dengan keteraturan dan kehati-hatian.

TAPI, ketika keteraturan yang kucanangkan ini telah dirusak oleh pihak-pihak yang bisanya cuma suka-suka doank, disitu kadang aku merasa sedih. Ini bisa saja terjadi di suatu kelompok.

Aku sudah lama berorganisasi di X (sebut saja begitu). Dan sekarang masih. Walaupun mulai mundur teratur. Ketika aku mulai masuk berkecimpung di X itu, aku sangat berusaha buat menjadi anggota yang dapat diandalkan dan dapat bertanggung jawab. Semua akan kulakukan setepat mungkin dan seakurat mungkin. Aku juga berusaha mengumpulkan tugas sebelum deadline. Demi kebaikanku dan pandangan senior terhadapku.

TAPI, ternyata anggota yang lain tidak begitu. Mereka yang notabene sudah lebih dulu berkecimpung, mereka sangat tidak menghargai usahaku. Mereka ternyata lebih santai dibanding ekspektasiku. Mereka belum ngapa-ngapain, sedangkan deadline sudah di depan mata.

Sunggu aku nggak suka banget suasana seperti ini.

Lalu, apa yang terjadi, aku yang harus menyesuaikan itu. Aku ikut-ikutan santai dan ikut-ikutan gak peduli.

Lalu, ketika aku datang pertemuan sebelum waktunya, tapi yang lain belum datang..... Aku sebel banget dalam kondisi ini. Aku pulang lagi, lalu balik lagi ke tempat pertemuan. Di sana sudah banyak orang, dan yang mereka tau, AKU TELAT. Serealistis apapun alasanku, mereka tidak menghargaiku. AKU JENGKEL sungguh. Tapi aku masih bertahan sampai sekarang.

Lagi, aku orangnya memang gak terlalu suka mengiyakan tawaran tugas. Aku takut PHP. Kenapa? Karena siapa tahu, aku tidak mampu di tengah-tengah nanti. Lalu semua bubrah hanya karena aku. Semua menyalahkanku. Aku nggak mau itu terjadi. Maka, aku terima tugas yang benar-benar aku mampu. TERNYATA mereka tidak menyukai sifatku yang ini. ARTINYA mereka tidak bisa melihatku dari sudut pandang yang lain. Dan kuulangi lagi, serealistis apapun alasanku, mereka tidak menghargaiku.

Rasa bersalahku selalu muncul ketika pandangan mereka sangat tidak ramah terhadapku. Aku salah apa, aku memang tidak bisa, aku memang tidak mampu, kan sudah kubilang aku tidak bisa tapi dipaksa, aku ini udah usaha tapi semuanya sudah terjadi..... begitu seterusnya. Ini mulai membuatku tidak nyaman.

Dan akhir-akhir ini aku tahu, entah ini kebetulan atau memang benar, golongan darah O mendominasi dalam organisasi ini. Dilanjutkan dengan golongan darah B. Lalu, yang bergolongan darah A? Hanya aku. WHAT THE----

Semacam aku nggak mau menghubung-hubungkannya, tapi kok ya sesuai dengan uraian sifat-sifat golongan darah dalam suatu web yang pernah kubaca.

Setahun ini, ada anak baru di organisasi, dia pendiam dan lebih sering pasif. Kupikir dia sangat hati-hati dalam berucap. Dan ku ketahui dia bergolongan darah A. Dengan kondisi ini, aku yakin dia sangat tidak nyaman. Benar saja, aku lihat dia sudah jarang muncul dalam pertemuan 'yang kebanyakan hanya mbanyol'.

Oke... semua terjadi lagi, dan akan terus terjadi.

Berat juga ya bawa nama almamater

Kalo gini jadinya, aku nyesel jadi mahasiswa UGM. Eh, nggak boleh gitu dink. Aku seneng kok di UGM. UGM mengajarkan banyak hal. Tapi, berat jadi alumni UGM. Harus keren dan kece setelah lulus. Padahal, aku yang klomoh-klomoh ini, kece aja enggak, apalagi keren. Hahaha.

Aku paling sebel kalo ada yang bilang, "Lulusan UGM kok gitu. Lulusan UGM kok gini. Lulusan UGM kok jomblo.." ehm.. abaikan yang terakhir.

UGM udah punya nama dimana-mana. Nah, kalau aku jadi orang biasa-biasa aja, emangnya salah? Yang penting kan aku masih di jalan yang benar kan? Apa penilaian derajat manusia di mata Allah itu dari pekerjaan dan gajinya? (nah nah dah mulai ceramah. hahaha)

Ah, intinya, aku sebel aja kalo harus dikaitkan dengan UGM. Lama-lama gue pake ijazah SMA aja lah -_-

#edisimalesnulis

Semakin Takut untuk Merantau

"I am a gadget technician, a consultant writer, and a private secretary.... at home."

Beberapa waktu yang lalu, aku mencetuskan bahwa aku pingin merantau ke luar Jogja. Hey, kau tau lah, aku udah di Jogja lebih dari 24 tahun. It's something!!


Satu sisi, aku merasa takut untuk merantau. Bukan karena ragu dengan kemampuanku, aku malah lebih memikirkan orang tuaku.

Dulu ketika kakakku masih di Jogja, aku sangat bergantung padanya, terutama masalah gadget dan teknis-teknis penggunaan berbagai macam alat elektronik. Aku sangat nggak bisa membayangkan kalo kakakku itu nantinya gak ada di rumah. Orang tuaku yang sudah terlewat gapteknya, otomatis akan bergantung ke satu-satunya anak yang tesisa di rumah ini. Dan akhirnya itu benar terjadi.

Awalnya kelabakan karena kakakku sudah mulai merantau jauh. Aku selalu telpon kakakku buat tanya hal-hal teknis, bahkan tanya tentang PR. Semakin lama, aku semakin terbiasa dengan ke-otodidak-an. Semua yang baru, aku lakukan dengan otodidak. Ini jadi tahap awalku menjadi otodidaker (apa pula tu otodidaker. hahaha).

Semua-semuanya yang bapak/ibuku merasa kesulitan, pasti ditanyakan ke aku. Bahkan suatu saat pas aku KKN di Kebumen, ibuku telpon hanya karena ada yang error di laptopnya (kayaknya cuma salah pencet). Bikin ppt buat bahan ajar juga aku yang bikin. Ngetik soal yang notabene penuh dengan rumus matematika dan reaksi kimia juga aku yang ngetik. Aku sering ditelpon buat buruan pulang buat mbantuin ngetik, ngeprin, dan lain-lain yang berbau gadget. HP error pun aku yang urus. Duh duh.

Dari pengalaman-pengalaman ini, aku semakin nggak yakin buat merantau. Mungkin aku akan kerja di Jogja saja. :(

aku rapopo kok

#DILEMAPENGANGGURAN ditambah #DILEMAJOMBLO

Muka gue pas bikin pos ini =D

Gabungan antara pengangguran dan jomblo bisa disebut juga double attack!!

Gimana enggak, lha wong yang ditanyain semua orang kepada kita (baca: sarjana) ya cuma bab itu-itu doank. Kapan kerja? Kerja apa? Kapan nikah? Kapan punya anak? Kapan punya cucu? Kapan punya cicit? Kapan bikin klan sendiri? Kapan bikin dormitory? Kapan mbangun kingdom? #ahsudahlah

Kadang kita jadi merasa kecil ketika kita ditanya kapan kapan dan kapan. Jawaban mentok adalah: "tunggu waktunya saja, semua sudah ada yang ngatur." Hahaha... Pencitraan biar nggak keliatan bego bego amat, paling enggak ada usaha buat jawab.

Tapi, kalo disebut pengangguran, aku sebenernya nggak nganggur-nganggur amat. Masih mending aku punya kerjaan jadi tentor privat. Yaaa, walaupun masih gak cukup buat hidup di jurang perjuangan yang sebenarnya. Untungnya aku masih ada rumah yang di dalamnya ada kasur, makanan, TV, internet, air melimpah dan lain-lain (bukan sombong lho. ini kenyataan. haha).

Tapi jujur aja aku pingin segera punya kerjaan yang bisa dibilang sebagai kerjaan. Ya paling enggak KTP ku biar nggak selamanya bo'ong. Pas perpanjangan KTP kemarin, aku ngisi kolom pekerjaan sebagai : karyawan swasta. Pffftt~ Ye lah, tentor privat termasuk karyawan swasta lah yaaa.. Anggap saja gitu.
Habisnya, nggak ada kolom fresh graduated sih.. Apa boleh buat. Daripada aku tulis jadi Dokter, malah berabe ntar. Bisa-bisa aku nyuntik orang lewat njus njus njus.

Dan sampai berita ini diturunkan, saya masih jomblo. Umur segini dengan kualitas super gini (narsis dikit gapapa lah ya), aku masih jomblo. Sedangkan teman-teman saya kebanyakan sudah menggaet calonnya masing-masing. Dan bahkan banyak yang sudah mengarungi bahtera rumah tangga. Lha gue? Masih asik aja mainan POU di hape, sama scrolling web lowongan kerja. Ahahaha.. Nasib nasib.

Tapi aku akui, bahwa aku termasuk cewek tangguh. Ketika cewek-cewek yang lain belanja dengan didampingi nganu-nya, belanjaannya pada dibawain. Aku? Bawa box segede gaban sendirian, belanjanya bareng emak, aku yang bawa semua belanjaannya. Sendirian keliling-keliling supermarket, bawa list belanjaan. Seabreg kantong kresek menggelantung di motor. I will be a strong wife. Aih.

Oke teman, ambil positifnya saja dari semua dilema-dilema ini..

Positifnya adalah..... Selama mencari, tingkatkan kualitas diri, dan TETAP BERJUANG!!! #mukajones HAHAHAHA

Galaunya orang nganggur yang keren #wkwkwk

Kegalauan meningkat ketika aku sudah mulai "berumur". #lagiserius

Ya, baru agustus kemarin aku berhasil di wisuda (liat sini). Dan entah kenapa aku nggak terlalu bangga.
Sekarang, aku pingin kerja yang sesuai sama hobiku.
Apa aja hobiku? Ya ngeblog ini, nyoret-nyoret keras, jalan-jalan, narsis, foto-foto... Ya semacam itu lah..

Kenapa aku ngebet banget pingin kerja yang sesuai sama hobiku?

Late post: Ujung kuliah

Bulan Berkah.... Puasa Ramadhan kemarin rasanya terlewat begitu saja. Kurang greget gitu. Mungkin karena aku sibuk mengurus yang namanya skripsi. Semoga semua yang ku lakukan itu dihitung ibadah. Aamiin..

Dan setelah sekian lama..... Akhirnya sampai ujung juga.
Rasanya aku puas banget. Akhirnya dan akhirnya aku bisa menyelesaikan tantangan yang kubuat sendiri. Karena kesalahanku sendiri pula tantangan itu ada. Sudah cukup menyesakkan dada di awalnya, di pertengahan sudah mulai merasakan kejenuhan, tapi akhirnya aku bisa juga!!!

laboratorium dan laboratorium

Ada-Ada Aja


Ini membahas tentang lika-liku skripsi. Belum selesai betul sih. Tapi...
Aku, manusia yang kebetulan cewek, sedang risau dengan skripsi, ditambah aku udah angkatan semester dua digit. #tua

Awal mulanya aku pingin skripsi tentang reptil terutama kura-kura. Kenapa? Karena aku ikut suatu organisasi tentang Herpetologi. Tapi apa yang kudapat? Aku skripsi tentang ikan. #meh

Kini, aku bingung, aku sebenernya mau apa?

Akhir-akhir ini aku terus aja iseng nanya-nanya ke temen-temen deketku, tentang "Mau ngapain habis lulus?"

Kebanyakan dari mereka bisa menjawab dengan lancar, ada pula beberapa yang masih mikir-mikir tapi udah jelas arahnya ke mana. Keisenganku berbuah motivasi bagi mereka, tapi tidak buat aku. Semakin banyak aku bertanya, semakin rancu pula arahku berjalan.

Sebenernya, yang melatari aku iseng nanya tentang itu adalah karena aku tak tau mau ngapain setelah lulus. Sekedar cari inspirasi, siapa tau rencana mereka bisa cocok. Atau bisa jadi cari teman yang sama-sama bingung. Sejauh ini, rencanaku hanya menjadi seseorang yang sukses. Jadi apa? Entahlah. Tak terpikirkan. Kalau dipikir-pikir, malah jadi buyar. Malah jadi membabibuta buat mengungkap, sebenernya aku tuh bisa apa sih di dunia kerja nanti?