RSS

Kunto Aji - Sudah Terlalu Lama Sendiri

Sudah terlalu lama sendiri
Sudah terlalu lama aku asyik sendiri
Lama tak ada yang menemani rasanya

Pagi ke malam hari tak pernah terlintas di hati
Bahkan di saat sendiri aku tak pernah merasa sepi
Sampai akhirnya kusadari aku tak bisa terus begini
Aku harus berusaha tapi mulai darimana

Sudah terlalu lama sendiri
Sudah terlalu lama aku asyik sendiri
Lama tak ada yang menemani rasanya

Sudah terlalu asyik sendiri
Sudah terlalu asyik dengan duniaku sendiri
Lama tak ada yang menemani rasanya

Teman-temanku berkata yang kau cari seperti apa
Ku hanya bisa tertawa nanti pasti ada waktunya
Walau jauh dilubuk hati aku tak ingin terus begini
Aku harus berusaha tapi mulai dari mana

Sudah terlalu lama sendiri
Sudah terlalu lama aku asyik sendiri
Lama tak ada yang menemani rasanya

Sudah terlalu asyik sendiri
Sudah terlalu asyik dengan duniaku sendiri
Lama tak ada yang menemani rasanya


Jauh di lubuk hati aku tak ingin sendiri


#lubukhatipalingdalam

Berburu Yotsuba



Pada tau nggak apa itu Yotsuba?
Itu lhooo.. Komik yang unyu banget...

Ya udah sih yaa... Gak usah dijelaskan apa itu Yotsuba, yang jelas aku disini mau cerita tentang perjuanganku mencari komik Yotsuba sampe lengkap.

Pada awal tau ada komik Yotsuba itu waktu aku di tempat rental komik deket rumah (yang sekarang udah tak terlihat keberadaannya). Pas direkomendasiin sama masnya yang jaga, aku jadi penasaran buat baca. Ternyata ini lucu banget dan aku enjoy banget pas baca.

Dan pada akhirnya kuputuskan untuk mengoleksinya.. (yeaaahh..!!)


Yotsuba 1 terbit saat aku SMA kelas 3 (2009), dan aku langsung membelinya. Untungnya masih belum banyak yang minat membelinya.

Yotsuba 2 terbit tidak jauh dari yang pertama. Masih aman, peminat masih dikit.

Dan di tahap ini usaha dalam hal "berburu koleksi" terhenti seketika karena UAN (belajar donk yaaa..)

UAN kelar, ada ujian masuk perguruan tinggi, les dan les dan bla bla bla.
Habis itu ospek dan lalalala..

Oke setelah kerempongan itu terlewati dengan lancar, aku melanjutkan perburuan. (yeeaaahh!!)

Jalan-jalan ke toko buku diskon terdekat, dan trerereng~~~ YOTSUBA UDAH SAMPE 7 !!!
Lalu, mana volume 3-6 nya? HABIS !!! T_____T
Oh my... aku kecolongan.. Yotsuba ku diambil orang! Tidak bisa kubiarkan..!!

Aku cari ke toko buku bukan diskon pun tak ada. Aku harus berbuat apa ini?
Oke baiklah...

Yotsuba 7 terbeli T_T ~~ dan aku nggak mau kecolongan lagi. Aku rutin ngecek di twitternya toko buku biar gak ketinggalan volume. Alhasil....

Yotsuba 8 sampe 12 kebeli dengan diskon dari toko buku diskon *bangga*

Aku harus bagaimana ini? Aku harus mencari kemana lagi Yotsuba 3-6 ? :'(

Kesabaran menjawab semuanya (halaaah~)



Awal tahun 2015 dikabarkan bahwa Yotsuba bakal terbit ulaaaaang!!! It's something!!

Mari berburu lagi~~~

Yotsuba 3 terbeli dengan mulus.

Yotsuba 4 terbeli dengan ihwaow.

Yotsuba 6 terbeli dengan beruntung.

Lalu Yotsuba 5 ?

KELEWAT LAGI ~~~ udah kehabisan T_T

Aku searching pake komputer pencarian di toko buku, ada stoknya tapi tinggal satu. Apakah ini dapat dipercaya? Apa salahnya dicari?
Aku mencari mencari dan mencari~

Akhirnya ketemu!! Tapiiii.... udah rusak T_T
Nggak mungkin aku beli harga baru tapi kondisi rusak :(

Baiklah, mungkin aku harus bersabar lagi.. :')

#ceritatidakpenting


[[UPDATE]]

Gue udah dapet Yotsuba 5 yeaaayy!!!
Beli di toko buku bukan diskon, tinggal satu juga tapi masih segelan.. Yesss!!!

Mari kita ucapkan Alhamdulillah :)

Tumblr - Yotsuba, setelah nananina yang melelahkan

Ini tentang KEGALAUAN yang terus berulang



Gue nganggur dan gue jomblo... eh... bukan.. TAPI

"Gue produktif tanpa gaji dan gue belum dipertemukan dengan jodoh."

Bukan gue yang galau, tapi emak gue.


Aku sekarang udah nggak terlalu galau dengan masalah jodoh dan rejeki. Semua sudah diatur sama Allah. Jadi kita hanya berusaha saja sebisa mungkin. Tapi kayaknya emak nggak gitu.

Ibuku selalu menggalau kalo aku belum juga keterima kerja. Menggalau kalo ngeliat fakta bahwa aku masih jomblo. Kalo aku mah, mengganggap ini adalah suatu proses perjalanan hidup. Oke, aku jadi ikut galau ketika ibuku sedang galau. Ah sudahlah..

Yang paling kzl adalah ketika aku cerita tentang temenku yang udah nikah. Ibuku sangat amat membencinya. Ibuku sangat benci dengan temanku yang sudah nikah. Kemarin temenku ada yang dateng ke rumah dan bawa suaminya. Dan.. ibuku benci itu. Entah salah apa, tapi selalu kayak gitu. Ibuku juga sangat benci kalo aku cerita tentang keberhasilan temenku. Dia benci semua orang seumuranku yang bisa "lebih baik" dari aku. Awalnya aku nggak tau kenapa. Tapi sekarang aku tau kenapa.

Ibuku sudah terbiasa dengan kelancaran hidup kakakku, baik jodoh ataupun kerjaan. Ibuku juga sudah terbiasa dengan istilah "mencari kerja dari orang dalam". Yang notabene aku sangat tidak suka itu. Ibuku juga terbiasa dengan "kerja adalah duduk di kantor dengan berbagai macam rapat di dalamnya".

Mindset ini yang nggak bisa aku ubah. Dan aku serasa disetir harus mengikuti mindset semacam itu.

Nggak cuma itu, babeku pun kadangkala menambah runyam ide-ide indahku.

Ketika aku punya ide dahsyat untuk aku terapkan dalam kehidupanku, yang ide itu selalu tak wajar bagi orang awam, babe pasti menertawakan dengan tatapan mengejek. Itu sangat membuatku down. Babeku nggak menyadari bahwa anak ceweknya ini punya kelebihan dalam hal ide gila. Aku hanya ingin mereka (orangtuaku) saja yang tau. Tapi mereka sangat tidak menerimanya.

LALU dengan seenaknya, tadi ibuku menanyakan tentang CITA-CITAku. Aku dengan lemas menjawab, "nggak ada."

Kan dengan pikiran kolot mereka, aku nggak mungkin bilang kalau sebenarnya cita-citaku adalah "melakukan hobi dan digaji." Kan kerjaan paling enak kata Ridwan Kamil tuh.

Nggak gampang buat kerja yang sesuai dengan hobi. Harus dari nol. Tapi ya, aku harus jauh dari orang tua dulu. Biar nggak ada lagi yang menyetirku. Tapi apa daya, aku nggak bisa dilepas semudah itu. Istilahnya, gue telah tersegel.

Kalo masalah jodoh..... ah mbuh deh.


Kegiatan sebelum Ramadhan di rumah: Desain Baju buat Lebaran (LOL)

Sudah bertahun-tahun rutinitas ini dilakukan aku dan ibuku.
Kami memang senang mendesain baju, terutama baju untuk diri sendiri.

Barusan bajuku yang buat lebaran nanti udah jadi. Hasil desainku sendiri dibantu oleh ibuku. Ibuku juga mendesain bajunya sendiri. (Tapi desainnya niruin desain baju yang aku buat khusus untuk aku dateng kondangan. :p) Kata penjahitnya, "Bagus ya jadinya.." Ahahaha.. Alhamdulillah.

Hampir semua baju kondangan dan baju lebaran kami, kami yang desain. Jadi kadang kala kembar gitu. Tapi ya tetep sesuai umur donk ya.. Ahahaha...

Jadi kalian kalo pernah liat aku pake baju kondangan, itu gue yang desain lhoh.. XD
Emang kata ibu bener, "Kalau mau pas, baju tu ya desain sendiri. Nggak beli jadi. Atau didesainin sama orang lain."
Padahal ibuku cuma punya kain batik harga murah bingit, terus kami modif dengan desain gila kami, akhirnya jadi deh baju yang pantas buat dipake ke kondangan :)


Mari kita ucapkan, Alhamdulillah :)))

Ketidaknyamanan itu terjadi lagi..

"Dan terjadi lagi.... kisah lama yang terulang kembali..."

Pernah baca tentang sifat-sifat berdasarkan golongan darah?
Oke, aku bergolongan darah A. Dan saya sangat suka dengan keteraturan dan kehati-hatian.

TAPI, ketika keteraturan yang kucanangkan ini telah dirusak oleh pihak-pihak yang bisanya cuma suka-suka doank, disitu kadang aku merasa sedih. Ini bisa saja terjadi di suatu kelompok.

Aku sudah lama berorganisasi di X (sebut saja begitu). Dan sekarang masih. Walaupun mulai mundur teratur. Ketika aku mulai masuk berkecimpung di X itu, aku sangat berusaha buat menjadi anggota yang dapat diandalkan dan dapat bertanggung jawab. Semua akan kulakukan setepat mungkin dan seakurat mungkin. Aku juga berusaha mengumpulkan tugas sebelum deadline. Demi kebaikanku dan pandangan senior terhadapku.

TAPI, ternyata anggota yang lain tidak begitu. Mereka yang notabene sudah lebih dulu berkecimpung, mereka sangat tidak menghargai usahaku. Mereka ternyata lebih santai dibanding ekspektasiku. Mereka belum ngapa-ngapain, sedangkan deadline sudah di depan mata.

Sunggu aku nggak suka banget suasana seperti ini.

Lalu, apa yang terjadi, aku yang harus menyesuaikan itu. Aku ikut-ikutan santai dan ikut-ikutan gak peduli.

Lalu, ketika aku datang pertemuan sebelum waktunya, tapi yang lain belum datang..... Aku sebel banget dalam kondisi ini. Aku pulang lagi, lalu balik lagi ke tempat pertemuan. Di sana sudah banyak orang, dan yang mereka tau, AKU TELAT. Serealistis apapun alasanku, mereka tidak menghargaiku. AKU JENGKEL sungguh. Tapi aku masih bertahan sampai sekarang.

Lagi, aku orangnya memang gak terlalu suka mengiyakan tawaran tugas. Aku takut PHP. Kenapa? Karena siapa tahu, aku tidak mampu di tengah-tengah nanti. Lalu semua bubrah hanya karena aku. Semua menyalahkanku. Aku nggak mau itu terjadi. Maka, aku terima tugas yang benar-benar aku mampu. TERNYATA mereka tidak menyukai sifatku yang ini. ARTINYA mereka tidak bisa melihatku dari sudut pandang yang lain. Dan kuulangi lagi, serealistis apapun alasanku, mereka tidak menghargaiku.

Rasa bersalahku selalu muncul ketika pandangan mereka sangat tidak ramah terhadapku. Aku salah apa, aku memang tidak bisa, aku memang tidak mampu, kan sudah kubilang aku tidak bisa tapi dipaksa, aku ini udah usaha tapi semuanya sudah terjadi..... begitu seterusnya. Ini mulai membuatku tidak nyaman.

Dan akhir-akhir ini aku tahu, entah ini kebetulan atau memang benar, golongan darah O mendominasi dalam organisasi ini. Dilanjutkan dengan golongan darah B. Lalu, yang bergolongan darah A? Hanya aku. WHAT THE----

Semacam aku nggak mau menghubung-hubungkannya, tapi kok ya sesuai dengan uraian sifat-sifat golongan darah dalam suatu web yang pernah kubaca.

Setahun ini, ada anak baru di organisasi, dia pendiam dan lebih sering pasif. Kupikir dia sangat hati-hati dalam berucap. Dan ku ketahui dia bergolongan darah A. Dengan kondisi ini, aku yakin dia sangat tidak nyaman. Benar saja, aku lihat dia sudah jarang muncul dalam pertemuan 'yang kebanyakan hanya mbanyol'.

Oke... semua terjadi lagi, dan akan terus terjadi.

Catatan Hati Seorang Guru Privat: Widi

Kali ini aku mau cerita tentang murid privatku yang paling besar, namanya Widi. Widi adalah seorang cewek kelas X (1 SMA). Konon katanya dia mengeluhkan penjurusan yang sudah harus ditentukan sejak kelas satu. Karena di kurikulum 2013 memang harus gitu. Dia memilih jurusa IPA. Yang dia pikirkan hanyalah, IPA adalah jurusan yang keren. Tapi sekarang dia agak menyesal. Karena setelah setahun, ternyata dia lebih tertarik dalam hal hapal menghapal seperti pada pelajaran IPS.

Widi memiliki tingkat logika yang menurutku kurang. Dia selalu minta didikte kalau belajar. Kalau ngapalin Biologi saklek, gue juga gak bisa kali, dek... Aku kan ngapalin Biologi dengan logika. Biar terus menancap. Yaaa walaupun nggak nancap-nancap amat sih.. hahaha.

Yang paling disayangkan dari anak satu ini adalah, dia punya banyak buku pelajaran, tapi nggak pernah dia baca. Jadi, tiap les, aku harus mendikte materi-materi yang ada di buku. Dengan bahasaku sendiri tentunya. Kupikir, dia akan pusing kalau harus mengubah bahasa buku menjadi bahasa hapalan. Ternyata, dia benar-benar menjiplak apa yang aku katakan di catatannya. Aigooo~

Positif dari anak ini, dia memiliki sosial yang bagus. Aktif di berbagai kegiatan sekolah dan aktif juga dengan kegiatan luar sekolah yang melibatkan banyak sekolah. Makanya temen-temennya banyak. Mungkin ini dipengaruhi banyaknya media sosial juga ya.. Hmm..

Dari sifat positifnya ini, saya kadang kena imbas negatifnya. Dia sering membatalkan sepihak di jadwal les yang sudah ditentukan. Alasannya konyol.
1. Maaf kak, sore ini aku mau buka puasa di luar, jadi mulainya jam 7 aja ya. (Di sms terus sampe jam 8, ternyata belum kelar juga. Untung masih di rumah, jadi gak sia-sia gitu. Hahaha...)
2. Maaf kak, sore ini nggak les dulu, aku lagi nyuporterin tim sepak bola sekolahku. (Okelah baiklah. Cukup tau).
3. Maaf kak, malam ini lesnya pindah hari lain ya, aku capek banget habis ngasih surprise ultah temenku. (Ohh...)
4. Maaf kak, lesnya ganti pagi ya, libur kok besok. Soalnya malemnya aku jadi panitia acara blablabla. (Oke deh, dimaklumkan.)

Yaaa... semacam itu lah...

Dan lucunya lagi, dia kalo disuruh nyari jawaban tugas sendiri, lebih milih nyontek temennya daripada buka buku. Yaaa gak usah buka buku laahh.. minimal searching di google kan sekarang udah gampang.

Duh, remaja jaman sekarang.. Ckckck...

#CHSGP

Berat juga ya bawa nama almamater

Kalo gini jadinya, aku nyesel jadi mahasiswa UGM. Eh, nggak boleh gitu dink. Aku seneng kok di UGM. UGM mengajarkan banyak hal. Tapi, berat jadi alumni UGM. Harus keren dan kece setelah lulus. Padahal, aku yang klomoh-klomoh ini, kece aja enggak, apalagi keren. Hahaha.

Aku paling sebel kalo ada yang bilang, "Lulusan UGM kok gitu. Lulusan UGM kok gini. Lulusan UGM kok jomblo.." ehm.. abaikan yang terakhir.

UGM udah punya nama dimana-mana. Nah, kalau aku jadi orang biasa-biasa aja, emangnya salah? Yang penting kan aku masih di jalan yang benar kan? Apa penilaian derajat manusia di mata Allah itu dari pekerjaan dan gajinya? (nah nah dah mulai ceramah. hahaha)

Ah, intinya, aku sebel aja kalo harus dikaitkan dengan UGM. Lama-lama gue pake ijazah SMA aja lah -_-

#edisimalesnulis

Sebenernya, rencana indah apa yang udah disiapkan Allah padaku?

Hari ini aku sedih. Gak tau kenapa.

Aku bertanya-tanya terus dari kemarin. Sebenernya, rencana indah apa yang udah disiapkan Allah padaku?

Aku yang kini 24 tahun hampir 25, merasa tua. Memang benar aku tua, tapi aku nggak sedewasa umurku. Umurku masih serasa 18 tahun. Ini bukan semata-mata buat sok muda atau gimana. Tapi emang kayak gitu rasanya. Sebagai cewek, aku harusnya peka dengan segala hal yang berkaitan dengan "pekerjaan rumah". Aku harus banyak belajar. Dengan secepat kilat. Istilahnya, umur mentalku yang 18 harus bener-bener disejajarin dengan umur fisikku. Malu sama umur yang tercantum di KTP kan.

Aku nggak tau harus ngapain. Teman-temanku yang notabene lebih muda dari aku, malah menambah aku jadi semakin childish. Pastinya orangtuaku berharap aku dewasa, sesuai umurku yang sebenarnya. Tapi mereka hanya sekedar berharap dan berharap. Tanpa ada pengertian dan pembelajaran berarti buatku. Mereka malah menambahku menjadi takut dengan kedewasaan. Aku ngerasa aku pingin jadi anak kecil terus yang tiap hari nggak perlu bicara serius. Jadi aku nggak perlu repot ngurusi keuangan, atau cekcok masalah keluarga, atau perdebatan yang nggak masuk akal.

Di saat yang lain mulai berumah tangga, aku masih aja mainan gunting kertas di rumah. Bikin kamarku jadi kayak kelas di TK. Aku masih berpikir bahwa aku adalah seorang "anak". Aku sama sekali nggak melihat potensi diriku seperti apa. Aku udah pasrah sama hidupku. Aku udah nggak bisa lagi ngayal kayak dulu lagi. Yang ada aku cuma nangis tiap malam. Kenapa hidupku gak selancar kakakku? Kenapa aku gini-gini amat? Depresi tiap hari. Berat badan turun lagi, turun lagi. Senyumku udah tinggal senyum palsu. Nggak ada lagi kebahagiaan yang sebenarnya. Hanya kebahagiaan sederhana yang tersisa.

Pertanyaan yang selalu bergulir ketika aku sendirian di kamar, kenapa aku masih saja belum dipertemukan jodoh? Padahal harusnya umur segini aku udah ada calon. Kenapa juga aku belum diberi rezeki melalui pekerjaan yang tetap? Padahal aku udah lulus dari tahun kemarin. Usahaku yang gak santai ini juga harusnya diperhitungkan. Lagi-lagi, sebenarnya rencana indah apa yang udah disiapkan Allah padaku?

Dengan keadaan dimana aku jomblo, dimana aku nganggur, ini membuat orangtuaku bertanya-tanya. Aku ini sebenernya niat nggak sih? Seniat-niatnya aku, kalau ini belum ketentuan Allah buat aku menikah dan bekerja, aku nggak bisa mengelak lagi kan?

Aku nggak punya banyak kemampuan yang bisa dijadikan modal bekerja. Aku cemen dalam hal keberanian, aku payah dalam hal usaha. Aku yang lulusan biologi ini nggak punya keahlian berarti di bidang biologi. Bahkan bahasa inggris aja aku nggak lancar. Aku nggak mungkin berani daftar di perusahaan gedhe. Aku nggak bisa pinter ngomong, aku nggak mungkin bisa jadi pebisnis yang harus pinter marketing. Kata temenku, bekerjalah sesuai hobimu. Tapi hobiku aja nggak jelas. Aku cuma bisa ngeluh ngeluh dan ngeluh lewat blog ini. Ini sama sekali nggak membanggakan.

Oke, aku nggak tau aku harus nulis hal kayak gini sampai kapan.

Biarin aku nulis kejelekanku di blogku ini... Biar bisa jadi kaca di masa depan. Kalau saja aku besok bisa sukses dengan caraku sendiri. Aku pasti akan tertawa jika membaca tulisan ini. Iya kalau aku masih hidup sampai besok. Semoga aku masih bisa bermimpi dan menggapainya.

Catatan Hati Seorang Guru Privat: Jupan

Kini aku ingin bercerita tentang murid les ku yang bernama Jupan (bukan nama sebenarnya). Dia anak cowok kelas 2 SD. Keluarganya dahsyat semua. Bapak ibunya dokter lulusan S3. Jupan ini anak bungsu dari tiga bersaudara. Kakak pertamanya kelas 6 SD (cewek) dan kakak keduanya kelas 4 SD (cowok).

Jupan ini terobsesi dengan robot dan persenjataan. Walaupun orang tuanya dokter, dia bersikukuh pingin jadi tentara. Tiap les dimulai, bahkan sedang berlangsung, dia selalu berlakon seperti robot yang membawa senjata. "Deziuuu deziuuu!!!" Kepolosan anak ini kadang membuatku bingung sendiri.

Bukan itu yang ingin aku ceritakan sekarang. Aku ingin cerita tentang rasa keingintahuannya yang sangat tinggi. Dia tertarik banget sama pelajaran Agama Islam. Pertanyaan-pertanyaannya sering sekali berkaitan dengan nabi-nabi. Tak jarang pula menanyakan tentang tuntunan agama yang benar. Antara baik dan benar, dosa atau tidak, sampai dengan kenapa hal haram itu bisa jadi haram. Kayaknya habis selesai ngelesi bocah satu ini, aku bakal jadi filsuf sejati. Hahahaha...

Di sela-sela mengerjakan tugasnya, banyak pertanyaan yang membuatku jadi berkaca. Contohnya adalah mengenai aurat.

"Mbak, aurat perempuan itu kan seluruh tubuh kan? Kecuali muka dan telapak tangan. Iya kan?"
Aku: "Iya."
Jupan: "Berarti yang nggak pake kerudung itu dosa?"
Aku: "Menurutmu gimana?"
Jupan: "Dosa donk."
Aku: "Itu tau..."
Jupan: "Kaki juga nggak boleh kelihatan donk."
Aku: "Iyaa.. Harusnya gitu."
Jupan: "Berarti harus pakai kaos kaki kan?" (sambil ngeliatin kakiku)
Aku: "Iyaa.." (untung aku pakai kaos kaki. fyuuhh...)

Pertanyaan berlanjut.

Jupan: "Kalau aurat laki-laki itu mana aja mbak?"
Aku: "Dari pusar sampai lutut." (sambil menunjuk bagian pusar dan lutut)
Jupan: "Ooooh, tapi yang wajib menutupi aurat itu yang udah gede kan mbak?"
Aku: "Iya, yang udah dewasa. Namanya baligh. Kalau udah baligh, wajib menutup aurat."
(lalu hening)

Jupan: "Pemain bola itu kan pakai celana pendek. Lututnya keliatan. Berarti dosa donk?"
Aku: "Hmmmm... menurutmu gimana?"
Jupan: "Dosa donk." (diam sejenak) "Weeeeeee.... Dosa??? Aku nggak bisa jadi pemain bola donk??"
Aku: "Eh? Jupan boleh donk jadi pemain bola."
Jupan: "Tapi ntar lututku keliatan. Aku dosa donk.."
Aku: "Ya pake penutup lutut donk. Kan ada."
Jupan: "Oiyaa.. Tapi berarti pemain bola yang gak pake penututp lutut dosa donk."
Aku: "Hmmm... gini. Kalau ada perempuan nggak pake kerudung, dosa nggak?"
Jupan: "Dosa."
Aku: "Tapi boleh nggak?"
Jupan: "Boleh."
Aku: "Nah itu sama aja dengan pemain bola itu. Boleh aja kayak gitu, tapi dosa ditanggung sendiri sama mereka. Jupan ngerti?"
Jupan: "Iya iya... Hmmm.. gitu yaa.."


FYUHH~~

#CHSGP

Catatan Hati Seorang Guru Privat: Ara

Aku nggak punya adik kandung. Tapi aku punya kewajiban buat ngajarin anak kecil usia SD.
Sementara ini, aku adalah seorang guru privat di suatu lembaga bimbel. Yaa ini semacam freelance. Selagi aku belum mendapat pekerjaan tetap, aku memanfaatkan ini sebagai kesibukanku.

Ada beberapa kesulitan saat mengajari anak SD yang notabene itu bukan adik kandung kita.
Terutama jika dia adalah anak cewek yang susah diajari.

Saya punya 4 murid. Murid dengan usia SD ada 3, dua cowok dan satu cewek. Sisanya anak cewek tapi SMA. Anak SMA lebih mudah diajak kerjasama.

Kali ini aku ingin cerita tentang anak cewek kelas 4 SD yang jadi muridku. Sebut saja dia Ara.

Ara ini susah banget diajak belajar. Dia sukanya cuma cerita dan cerita. Padahal dulunya dia pernah juara perlombaan matematika antar SD. Tapi sekarang, semakin kesini dia semakin malas belajar. Aku curiga, mungkin ini dikarenakan gadget yang ada di genggamannya. Tapi ternyata tidak.

Dia nggak banyak pegang gadget ketika di rumah. Dia lebih suka mainan tanah di halaman. Tapi kenapa dia sulit diajak belajar ya?

Hobinya yang banyak cerita dan cerewetnya minta ampun itu bikin aku kewalahan buat meluruskannya kembali ke jalan yang benar (belajar maksudku). Dia suka banget cerita panjang lebar.

Apalagi setelah dia diajari guru pengganti sementara selama 3 minggu. Guru itu menggantikanku selama aku opname sampai pasca operasi beberapa waktu lalu. Guru itu mengubah sistem yang telah aku buat selama aku mengajari anak ini. Sistem apa?

Aku memiliki aturan khusus untuk Ara ini. Aku akan memberikan hadiah stiker penghargaan jika dia berhasil mengerjakan soal sampai nomor terakhir. Dan jika jawabannya 80% benar, aku memberinya stiker tambahan. Itu membuatnya bersemangat dalam belajar.

Tapi si guru pengganti itu telah merusak sistem dan mengubah cara pikir si anak.
Guru pengganti (sebut saja Mbak Ani) memberikan hadiah sebelum belajar dimulai, dan dia menuruti semua kemauan Ara. Ara paling sulit belajar matematika. Maka jika Ara tidak meminta belajar matematika, Mbak Ani tidak akan mengajarinya matematika. Pejalaran yang diberikan kebanyakan hanya Bahasa Inggris, yang padahal di sekolahnya tidak ada pelajaran Bahasa Inggris. Ara memang suka Bahasa Inggris. Bagus jika itu hanya untuk selingan dan tambahan pelajaran. Tidak bagus jika itu dijadikan pelajaran pokok saat les. Karena kelemahan anak ini adalah di matematika.

Perubahan drastis ku lihat setelah 3 minggu tidak bertemu. Nilainya anjlok lagi.
Awal pertemuan, kutemukan nilai matematika nya 40. Setelah ku beri treatment award kemarin, nilainya mulai meningkat menjadi 80, bahkan ada satu yang mendapat 100. Tiga minggu ku lepas, nilainya kembali ke 40.

Kesedihan apa yang kualami?

Air susu rusak karena nila setitik.

Aku hanya bisa menghela napas dan menceritakan keluhanku kepada orang tuanya. Orang tuanya memang menyayangkan hal ini. Tapi usut punya usut, si orang tua tidak pernah menemani Ara belajar. Seharusnya, pendampingan utama saat anak belajar di rumah adalah orang tuanya. Guru les semacam aku hanya memberikan pengertian kepada anak mengenai kesulitan yang didapat di sekolah.

Ah entahlah...

#CHSGP

Selalu Saja Begitu: Terlalu Lama Ngobrol

Kemarin aku diajak sama temen-temenku buat nongkrong di suatu kafe.
Aku emang lagi kangen sama coklat panasnya. Nomnomnom....

Janjian jam 11 siang. Okai, berarti jam 3 sore bisa kelar lah (begitu pikir temenku).
Dan ternyata kelarnya habis maghrib. Hahahaha~~

Tadinya emang nongkrong di kafe Legend, tapi berhubung mereka lapar (aku sih enggak terlalu), kami pindah ke SS (Spesial Sambel) buat makan besar~~ Hahaha..

Ngobrol morat-marit kesana kemari. Sampe hujan deras gak reda-reda. Sampe tambah minum berkali-kali.
Dari yang ngobrol soal cewek, cowok, temen lama, kerjaan, bisnis, dan lain sebagainya...

Selalu mudah ditebak kalo pasti pulangnya bakal malem -_-

Ah sudahlah~

#edisi-males-nulis

Niatnya bantu tapi malah galau~

.....tidak mau sebagian dari kehidupannya tenggelam dalam lautan masa lalu.

Semalem, ada yang curhat.

Temenku, sebut saja namanya Thole, dia galau gara-gara mau pergi merantau buat kerja. Yang dia galaukan bukan masalah apa-apa, cuma perihal hewan piaraan, yaitu seekor kelinci (padahal bukan kelinci).

Dia bingung mau digimanain si kelinci itu. Mau dibuang tapi kasian. Jadi aku sarankan buat memindahtangankan si kelinci ke orang lain yang mau melihara.

Makaaa... aku bantulah dia...

Aku bantu nge-share ke banyak grup Whatsapp.
Intinya cuma ngasih tau, siapa yang mau piara kelinci. Dan sengaja aku nggak sebut nama pemilik, biar nggak usah pake ngenal-ngenalin. Ribet.

Dan pada akhirnya ada satu yang mau melihara. Bukannya senang, tapi aku malah bingung. Kenapa?? Karena... yang mau melihara adalah.... mantan si Thole.

OH MY GOD !!



Sontak aku terkaget-kaget. Dan kulaporkan ke Thole bahwa si Denok (mantan Thole) yang mau melihara si kelinci. Thole pun panas dingin. Bingung deh.

Ah ya sudahlah yaaa~

Daripada saya ikut-ikutan ngurusin masalah orang lain, mending aku bilang aja kalo kelincinya udah ada yang mau melihara. Hahaha...

Jadi sebenarnya apa susahnya si Thole buat menyerahkan kelinci peliharaannya itu ke Denok?

Aku yakin... Si Thole tidak mau sebagian dari kehidupannya tenggelam dalam lautan masa lalu. #tsaaaah


Wis bro~ Dadah~

#edisi-males-nulis

Melirik ke blog sebelah~

Aku udah lama gak update blog ku yang satunya..

Agak teronggok sepertinya.

Aku sekarang lagi pingin "iyik dewe" sama kehidupanku..

Jadi biarlah teronggok sesaat..


Besok kalo udah moodnya ngumpul, barulah beres-beres lagi di blog itu..

Bosen juga kalo nulis hal-hal yang berbau serius. Padahal blog itu ya nggak serius-serius juga... hahahaa...

Habis opname, perasaanku jadi kayak nggak nyaman gitu.
Kenapa ya?

Apa karena nggak bisa kluyuran?
Gak bisa naik motor sendiri?
Atau gara-gara ke mana-mana cuma bisa dianter sama orang tua?

Huahhh... sebenernya aku tu spiderwoman atau lady sih? hahahahaha...

Oiya, kemarin aku ketemu cowok ganteng di RS. hahaha..



Baik, sudahlah~

#edisi-males-nulis

I'm spiderwoman~~

Bukan apa-apa dan sebenarnya emang bukan apa-apa.

Aku opname lima hari empat malam hanya gara-gara digigit laba-laba.

Padahal aku sih nggak tau yang nyengat aku sebenernya apa.

Tapi kata tetanggaku, aku disengat "onjo-onjo".

Apa sih tu?

Kata babe, itu semacam laba-laba kecil.


Ada yang nanya, "Kamu sakit apa?"
Aku jawab, "Nggak sakit, cuma lagi transformasi jadi spiderwoman."

Nah gara-gara itulah, aku sekarang jadi spiderwoman.

Udah lah itu aja.

Lagi males aku -__-"

#edisi-males-nulis

Semakin Takut untuk Merantau

"I am a gadget technician, a consultant writer, and a private secretary.... at home."

Beberapa waktu yang lalu, aku mencetuskan bahwa aku pingin merantau ke luar Jogja. Hey, kau tau lah, aku udah di Jogja lebih dari 24 tahun. It's something!!


Satu sisi, aku merasa takut untuk merantau. Bukan karena ragu dengan kemampuanku, aku malah lebih memikirkan orang tuaku.

Dulu ketika kakakku masih di Jogja, aku sangat bergantung padanya, terutama masalah gadget dan teknis-teknis penggunaan berbagai macam alat elektronik. Aku sangat nggak bisa membayangkan kalo kakakku itu nantinya gak ada di rumah. Orang tuaku yang sudah terlewat gapteknya, otomatis akan bergantung ke satu-satunya anak yang tesisa di rumah ini. Dan akhirnya itu benar terjadi.

Awalnya kelabakan karena kakakku sudah mulai merantau jauh. Aku selalu telpon kakakku buat tanya hal-hal teknis, bahkan tanya tentang PR. Semakin lama, aku semakin terbiasa dengan ke-otodidak-an. Semua yang baru, aku lakukan dengan otodidak. Ini jadi tahap awalku menjadi otodidaker (apa pula tu otodidaker. hahaha).

Semua-semuanya yang bapak/ibuku merasa kesulitan, pasti ditanyakan ke aku. Bahkan suatu saat pas aku KKN di Kebumen, ibuku telpon hanya karena ada yang error di laptopnya (kayaknya cuma salah pencet). Bikin ppt buat bahan ajar juga aku yang bikin. Ngetik soal yang notabene penuh dengan rumus matematika dan reaksi kimia juga aku yang ngetik. Aku sering ditelpon buat buruan pulang buat mbantuin ngetik, ngeprin, dan lain-lain yang berbau gadget. HP error pun aku yang urus. Duh duh.

Dari pengalaman-pengalaman ini, aku semakin nggak yakin buat merantau. Mungkin aku akan kerja di Jogja saja. :(

aku rapopo kok