RSS

Sakit itu tak selalu nampak



Aku hanya menceritakan tentang perasaan terdalam ku, sebagai cewek yang ditinggal teman terdekatnya. Ditinggal demi orang lain yang telah berkomitmen untuk masa depannya.

Aku kadang mbatin, jangan-jangan hanya aku yang mikir kayak gini. Ternyata beberapa teman dan sepupuku merasakan hal yang sama. Ketika aku menanyakan, "Apa yang sebenarnya kalian rasakan ketika satu teman dekat kalian nikah, padahal seharusnya kalian masih bisa menikmati hari menyenangkan bersama?"

Jawabannya sama. "Itu sangat menjengkelkan dan membuat jarak yang jauh secara tiba-tiba."

Ketika kami yang sedang bahagia-bahagianya mempunyai teman dekat, dan secara dini ada teman dekat menikah. Menikah di saat kami belum siap untuk menemukan teman baru... Itu terkadang yang membuat kami benci dengan pernikahan. Selain sebal, nggak jarang juga jadi bahan perbandingan di keluarga. "Itu si X udah nikah, kamu kapan?"

Yakk. Hal itu terjadi padaku.

Tp bukan kebencian ini yang akan aku bahas. Melainkan perasaan yang ditinggal nikah.
Aku sebagai pengamat yang baperan ini, telah merasakan rasa sakit hati yang sepedih ini setidaknya dua kali.
Pertama saat ada teman seangkatan wisuda lebih dulu (dan pamer toga di sosmed). Kedua, saat teman dekat menikah lebih dulu (yang kemudian pamer kemesraan di sosmed).

Kami (para teman yang ditinggal nikah) merasakan hal yang pedih bertubi-tubi. Pertama ketika mendengar rencana pernikahan, menerima undangan, dan kenyataan bahwa akan terjadi jarak di antara kita. (Cieee. Ups. Ini serius.)

Kata salah satu teman, "Aku paling nggak suka kalo ada temen yang udah nikah duluan. Semuanya pasti bakal beda. Misal diajak ngumpul, bilangnya pasti selalu 'sorry aku gak bisa, aku harus nunggu suami pulang' atau kalo enggak 'wah mau dong ikut, tapi istriku ikut ya.' Itu bikin maless."

Sepupuku bahkan bilang gini, "Dia sadar dia udah nikah duluan, sedangkan kami yang ngajak ngumpul belum pada nikah dan masih gini-gini aja. Dipikir kami gak cemburu? Kami sebel dan cemburu. Mana pake pamer suap-suapan pula. Nggak sopan!"

Aku nggak nyangka ternyata ada juga orang lain yang berpikiran sama denganku.

Jodoh memang sudah ditentukan. Tapi perasaan dan persahabatan bisa saja rusak karena adanya ikatan pernikahan.

Aku pernah dimarahi sama temen sendiri gara-gara aku menyakiti perasaan orang hamil. Dan memang orang yang udah nikah dan hamil atau punya anak itu pasti akan memiliki kehidupan barunya (juga lebih diperhatikan -- ya sama pasangan, sama teman, sodara, mertua, semua..).
Dan mereka sudah tidak mempedulikan kami yang merasa ditinggalkan, yang sebenarnya masih butuh seorang teman yang seperti mereka.
Teman yang sama, bukan teman yang tiba-tiba berubah jadi orang tua yang sok ngatur kayak yang ada di rumah.

Ada satu teman lagi bilang, "Emang ya, kalo udah emak-emak itu temennya ya sama emak-emak yang lain. Bukan sama kita yang masih ngunyah permen karet."

"Dan pemikiran orang yang udah kerja juga jadi beda, udah nggak seasik dulu lagi. Mereka jadi sok nasehati gitu." lanjutnya.

Umur udah tua, tapi jodoh ada yang ngatur. Maka sempurna lah kesakitan ini akan terus menggerus, karena semakin lama, akan semakin banyak teman-teman yang meninggalkanku.

Aku akan semakin jauh dengan mereka, dan aku cuma bisa ngomong sama tembok (lagi).

Aku bisa sangat memaklumi semua yang telah terjadi. Karena ini lah kenyataannya. Tapi aku sangat tidak terima jika, aku harus selalu memahami keadaan mereka sedangkan mereka tidak memahami keadaanku (keadaan kami untuk pada umumnya).
Mungkin mereka hanya menganggap kami sebagai pengacau dan pembuat onar di kehidupan rumah tangga teman kami sendiri. Tapi sebenarnya.... kami tak sudi teman kami direbut orang yang baru saja dikenalnya lalu diajak menikah lalu semena-mena menjauhkan kami dengan teman kami.

Kami juga punya hati.

#suarahatiyangditinggalpergi

Ini yang harus disiapkan kalo mau ganti kelas bpjs kesehatan

Yang butuh ganti kelas di bpjs, saya bakal kasih infonya.. Terutama di kota Jogja. Semoga di kota-kota lain juga sama.

Oiya, sebelumnya, udah tau kan kalo mulai april 2016 iuran bpjs mau naik? Naiknya jauh banget pulaa..
Tapi sebenernya saya mau ganti kelas bukan karena iuran yang naik, tapi karena di faskes saya itu kalopun saya pake bpjs kelas 1, nantinya saya tetep dapet kelas 2. Kenapa? Karena antri ruangan inapnya puanjangg..
Eee... Tapi kok ternyata ada berita bahwa iuran bakal naik, ya sekalian aja. Biar nggak terlalu kaget besoknya.


Syarat buat yang mau ganti kelas bpjs:

1. Masa aktif harus sudah 1 tahun. Cek di kartu bpjs mu, di bawah barcode itu ada tanggalnya. Biar gak sia-sia pas udah antri ke kantor bpjs, eee kok ternyata belum bisa diproses.. Ini lah yang terjadi padaku. Kurang seminggu doank padahal.

2. Bawa kartu bpjs. Buat jaga-jaga sekalian bawa fotokopiannya juga.

3. Bawa ktp dan fotokopinya.

4. Bawa kartu keluarga dan fotokopinya. Klo ini kyknya yg asli gak usah dibawa gak papa. Tapi apa salahnya jaga-jaga. Daripada bolak balik gt.

5. Bawa buku tabungan yang buat bayar iuran dan fotokopinya. Ini penting karena mengubah kelas itu kaitannya sama iuran alias duit. (Ini aku tadi lupa, jadi aku harus balik ke rumah lagi gt.)

6. Dateng ke kantor bpjs pagi-pagi, kalo perlu sebelum kantornya buka. Yakin deh, pasti udah banyak yang ngantri sebelum kamu dateng. Khusus kota Jogja: kalo yang bpjs mandiri, kantornya di utara balai kota. Kalo yang pns dan instansi, kantornya di gedongtengen.


Jangan kaget juga kalo pas ngantri, walaupun kamu dapet antrian nomor awal (nomor 3 misalnya), kamu bakal tetep nunggu lamaaa... Karena satu kostumer paling cepet dilayani selama 15 menit.

Dah itu aja deh ceritaku. Ini pengalamanku waktu pingin ganti kelas dari kelas 1 ke kelas 2. Semoga bermanfaat..

Mereka pikir aku....

Mereka pikir aku pengecut..
Mereka pikir aku nggak mau berubah..
Mereka pikir aku payah..
Mereka pikir aku penakut...

Dan semua kata-kata mereka tentang aku yang masih aja di Jogja sampai saat ini.
Bahkan mereka pikir aku terlalu menutup diri buat lingkungan baru.

Mereka tidak tahu betapa sulitnya menjadi aku yang tidak bisa sebebas mereka.

Tinggal lama di Jogja memang nyaman. Sekaligus membuatku menjadi kurang pengalaman di bidang perbolangan.
Cari kerja di Jogja sangat sulit, maka mereka yang bilang aku pengecut itu memilih untuk melenggang jauh dari Jogja. Demi materi.

Aku ingin seperti mereka, aku sangat mampu. Tapi aku tak bisa.
Ketidakbisaanku ini bukan tanpa alasan. Dan kebanyakan mereka tidak menerima alasanku.

Aku anak terakhir yang sangat sayang orang tua. Yang tidak tega meninggalkan orang tua sendiri di rumah.
Apa jadinya jika mereka tanpa aku. Yaa kurang lebih seperti itu.

Kalian yang sudah pergi keliling dunia itu pastilah telah mendapat ijin untuk pergi, berbuat yang membanggakan. Apa jadinya jika orang tua kalian tidak memberi ijin? Atau memberi ijin, tapi terpaksa. Dengan kata-kata khas orang tua, "Ya udah sana terserah."
Bagiku, itu bukan artinya memberi ijin. Itu sulit dimengerti. Dan itu yang membuatku akhirnya tetap tinggal di Jogja, dengan tumpukan lamaran kerja yang tak kunjung mendapat jawaban. Bahkan jika terjawab pun, hanya sampai di tahap wawancara, dan tidak lolos.

Aku nggak ngerti ya, mereka pikir aku harus kerja di luar Jogja dengan pendidikanku yang seperti ini. Tapi aku tidak ingin. Aku nggak mau menyia-nyiakan kebersamaanku dengan keluarga. Menurutku, kebahagiaan orang tua dan berpiknik bersama mereka itu melebihi dari semua materi yang ada. Aku nggak mau pergi dari rumah ini. Biarkan aku besar di rumah kecil ini, asalkan aku selalu bersama orang tua ku. Setelah kakakku satu-satunya berhijrah ke kota orang, tinggal lah aku di sini yang harus menjaga mereka.

Intinya mah... Why? Mengapa? Mengapa cari kerja di Jogja susah banget sihh...

BEGOO!!

Akhir-akhir ini aku merasa sangat sedih... Kenapa? Karena aku sangat bodoh tidak bisa menerima kebahagiaan orang lain.

Aku ngrasa ketika mereka bahagia dan aku sedang tidak bahagia, itu semuanya tidak adil. Apalagi mereka yang sering menunjukkan kebahagiaannya di sosmed atau apapun itu.

Aku masih ngrasa bodoh ketika semua kebaikanku yang kuberikan ke mereka, malah aku ungkit-ungkit demi feedback dari mereka. Kata Egha, temen seperjuanganku, mengharapkan feedback dari oranglain atas kebaikan kita adalah mitos.

Dan bodohnya lagi, ketika aku mengatakan pada orang bahwa hidup janganlah idealis. Nyatanya akulah orang paling idealis di kehidupanku sendiri. Menghadapi diri sendiri adalah hal terberat bagiku.

Seketika semua kebodohanku muncul, orang lain di sekitarku pun mengatakan hal yang sama. Bahwa aku BEGO!!

Sampai sini aku masih belum bisa menerima keadaan. Semua keadaan yang ada di hadapanku. Yang kurasa itu adalah malapetaka bagiku. Nggak bisa!

Aku sudah mulai gila sekarang. Dari dalam diriku mengolok-olokku, ditambah orang lain yang dengan semena-menanya menjatuhkanku. Kubenturkan kepala ke tembok. Aku berharap amnesia. Lupa dengan semua keadaan. Sehingga semua orang memaklumi keadaanku.


Oke. Ini titik paling berat dalam hidupku.

Dari semua yang terjadi, aku tak mendapatkan hikmah apapun KECUALI kesabaranku sedang diuji. Dengan sikap yang masih seperti ini, tidak mungkin Allah memberikan amanah apapun padaku.

Maka, aku harus lalui semua ini dengan tegar dan selalu berusaha. Aamiin..

Walau ketegaran itu tak selamanya menyenangkan.


NB: ngomong-ngomong mataku kok gini amat ya

(Nulis di tablet)

Kalut

Aku bakal menghindari hari dimana aku memasuki batas umur paling sensitif bagiku. Dan itu akan terjadi 12 hari lagi.

Beberapa hari lalu aku insomnia dan waktu menunjukkan pukul 00.30 WIB. Entah angin apa, ibuku bangun dan mengucapkan kalimat pematik kegalauan.
"Bentar lagi umurmu 25, gaji bapak dan mama bakal dipotong."

Oh my---

Aku masih belum ada kerjaan tetap, dan masih jomblo.

Ah sudah lah, nggak usah dibahas lebih jauh. Cukup! Cukup!

Kunto Aji - Sudah Terlalu Lama Sendiri

Sudah terlalu lama sendiri
Sudah terlalu lama aku asyik sendiri
Lama tak ada yang menemani rasanya

Pagi ke malam hari tak pernah terlintas di hati
Bahkan di saat sendiri aku tak pernah merasa sepi
Sampai akhirnya kusadari aku tak bisa terus begini
Aku harus berusaha tapi mulai darimana

Sudah terlalu lama sendiri
Sudah terlalu lama aku asyik sendiri
Lama tak ada yang menemani rasanya

Sudah terlalu asyik sendiri
Sudah terlalu asyik dengan duniaku sendiri
Lama tak ada yang menemani rasanya

Teman-temanku berkata yang kau cari seperti apa
Ku hanya bisa tertawa nanti pasti ada waktunya
Walau jauh dilubuk hati aku tak ingin terus begini
Aku harus berusaha tapi mulai dari mana

Sudah terlalu lama sendiri
Sudah terlalu lama aku asyik sendiri
Lama tak ada yang menemani rasanya

Sudah terlalu asyik sendiri
Sudah terlalu asyik dengan duniaku sendiri
Lama tak ada yang menemani rasanya


Jauh di lubuk hati aku tak ingin sendiri


#lubukhatipalingdalam

Berburu Yotsuba



Pada tau nggak apa itu Yotsuba?
Itu lhooo.. Komik yang unyu banget...

Ya udah sih yaa... Gak usah dijelaskan apa itu Yotsuba, yang jelas aku disini mau cerita tentang perjuanganku mencari komik Yotsuba sampe lengkap.

Pada awal tau ada komik Yotsuba itu waktu aku di tempat rental komik deket rumah (yang sekarang udah tak terlihat keberadaannya). Pas direkomendasiin sama masnya yang jaga, aku jadi penasaran buat baca. Ternyata ini lucu banget dan aku enjoy banget pas baca.

Dan pada akhirnya kuputuskan untuk mengoleksinya.. (yeaaahh..!!)


Yotsuba 1 terbit saat aku SMA kelas 3 (2009), dan aku langsung membelinya. Untungnya masih belum banyak yang minat membelinya.

Yotsuba 2 terbit tidak jauh dari yang pertama. Masih aman, peminat masih dikit.

Dan di tahap ini usaha dalam hal "berburu koleksi" terhenti seketika karena UAN (belajar donk yaaa..)

UAN kelar, ada ujian masuk perguruan tinggi, les dan les dan bla bla bla.
Habis itu ospek dan lalalala..

Oke setelah kerempongan itu terlewati dengan lancar, aku melanjutkan perburuan. (yeeaaahh!!)

Jalan-jalan ke toko buku diskon terdekat, dan trerereng~~~ YOTSUBA UDAH SAMPE 7 !!!
Lalu, mana volume 3-6 nya? HABIS !!! T_____T
Oh my... aku kecolongan.. Yotsuba ku diambil orang! Tidak bisa kubiarkan..!!

Aku cari ke toko buku bukan diskon pun tak ada. Aku harus berbuat apa ini?
Oke baiklah...

Yotsuba 7 terbeli T_T ~~ dan aku nggak mau kecolongan lagi. Aku rutin ngecek di twitternya toko buku biar gak ketinggalan volume. Alhasil....

Yotsuba 8 sampe 12 kebeli dengan diskon dari toko buku diskon *bangga*

Aku harus bagaimana ini? Aku harus mencari kemana lagi Yotsuba 3-6 ? :'(

Kesabaran menjawab semuanya (halaaah~)



Awal tahun 2015 dikabarkan bahwa Yotsuba bakal terbit ulaaaaang!!! It's something!!

Mari berburu lagi~~~

Yotsuba 3 terbeli dengan mulus.

Yotsuba 4 terbeli dengan ihwaow.

Yotsuba 6 terbeli dengan beruntung.

Lalu Yotsuba 5 ?

KELEWAT LAGI ~~~ udah kehabisan T_T

Aku searching pake komputer pencarian di toko buku, ada stoknya tapi tinggal satu. Apakah ini dapat dipercaya? Apa salahnya dicari?
Aku mencari mencari dan mencari~

Akhirnya ketemu!! Tapiiii.... udah rusak T_T
Nggak mungkin aku beli harga baru tapi kondisi rusak :(

Baiklah, mungkin aku harus bersabar lagi.. :')

#ceritatidakpenting


[[UPDATE]]

Gue udah dapet Yotsuba 5 yeaaayy!!!
Beli di toko buku bukan diskon, tinggal satu juga tapi masih segelan.. Yesss!!!

Mari kita ucapkan Alhamdulillah :)

Tumblr - Yotsuba, setelah nananina yang melelahkan

Ini tentang KEGALAUAN yang terus berulang



Gue nganggur dan gue jomblo... eh... bukan.. TAPI

"Gue produktif tanpa gaji dan gue belum dipertemukan dengan jodoh."

Bukan gue yang galau, tapi emak gue.


Aku sekarang udah nggak terlalu galau dengan masalah jodoh dan rejeki. Semua sudah diatur sama Allah. Jadi kita hanya berusaha saja sebisa mungkin. Tapi kayaknya emak nggak gitu.

Ibuku selalu menggalau kalo aku belum juga keterima kerja. Menggalau kalo ngeliat fakta bahwa aku masih jomblo. Kalo aku mah, mengganggap ini adalah suatu proses perjalanan hidup. Oke, aku jadi ikut galau ketika ibuku sedang galau. Ah sudahlah..

Yang paling kzl adalah ketika aku cerita tentang temenku yang udah nikah. Ibuku sangat amat membencinya. Ibuku sangat benci dengan temanku yang sudah nikah. Kemarin temenku ada yang dateng ke rumah dan bawa suaminya. Dan.. ibuku benci itu. Entah salah apa, tapi selalu kayak gitu. Ibuku juga sangat benci kalo aku cerita tentang keberhasilan temenku. Dia benci semua orang seumuranku yang bisa "lebih baik" dari aku. Awalnya aku nggak tau kenapa. Tapi sekarang aku tau kenapa.

Ibuku sudah terbiasa dengan kelancaran hidup kakakku, baik jodoh ataupun kerjaan. Ibuku juga sudah terbiasa dengan istilah "mencari kerja dari orang dalam". Yang notabene aku sangat tidak suka itu. Ibuku juga terbiasa dengan "kerja adalah duduk di kantor dengan berbagai macam rapat di dalamnya".

Mindset ini yang nggak bisa aku ubah. Dan aku serasa disetir harus mengikuti mindset semacam itu.

Nggak cuma itu, babeku pun kadangkala menambah runyam ide-ide indahku.

Ketika aku punya ide dahsyat untuk aku terapkan dalam kehidupanku, yang ide itu selalu tak wajar bagi orang awam, babe pasti menertawakan dengan tatapan mengejek. Itu sangat membuatku down. Babeku nggak menyadari bahwa anak ceweknya ini punya kelebihan dalam hal ide gila. Aku hanya ingin mereka (orangtuaku) saja yang tau. Tapi mereka sangat tidak menerimanya.

LALU dengan seenaknya, tadi ibuku menanyakan tentang CITA-CITAku. Aku dengan lemas menjawab, "nggak ada."

Kan dengan pikiran kolot mereka, aku nggak mungkin bilang kalau sebenarnya cita-citaku adalah "melakukan hobi dan digaji." Kan kerjaan paling enak kata Ridwan Kamil tuh.

Nggak gampang buat kerja yang sesuai dengan hobi. Harus dari nol. Tapi ya, aku harus jauh dari orang tua dulu. Biar nggak ada lagi yang menyetirku. Tapi apa daya, aku nggak bisa dilepas semudah itu. Istilahnya, gue telah tersegel.

Kalo masalah jodoh..... ah mbuh deh.


Kegiatan sebelum Ramadhan di rumah: Desain Baju buat Lebaran (LOL)

Sudah bertahun-tahun rutinitas ini dilakukan aku dan ibuku.
Kami memang senang mendesain baju, terutama baju untuk diri sendiri.

Barusan bajuku yang buat lebaran nanti udah jadi. Hasil desainku sendiri dibantu oleh ibuku. Ibuku juga mendesain bajunya sendiri. (Tapi desainnya niruin desain baju yang aku buat khusus untuk aku dateng kondangan. :p) Kata penjahitnya, "Bagus ya jadinya.." Ahahaha.. Alhamdulillah.

Hampir semua baju kondangan dan baju lebaran kami, kami yang desain. Jadi kadang kala kembar gitu. Tapi ya tetep sesuai umur donk ya.. Ahahaha...

Jadi kalian kalo pernah liat aku pake baju kondangan, itu gue yang desain lhoh.. XD
Emang kata ibu bener, "Kalau mau pas, baju tu ya desain sendiri. Nggak beli jadi. Atau didesainin sama orang lain."
Padahal ibuku cuma punya kain batik harga murah bingit, terus kami modif dengan desain gila kami, akhirnya jadi deh baju yang pantas buat dipake ke kondangan :)


Mari kita ucapkan, Alhamdulillah :)))

Ketidaknyamanan itu terjadi lagi..

"Dan terjadi lagi.... kisah lama yang terulang kembali..."

Pernah baca tentang sifat-sifat berdasarkan golongan darah?
Oke, aku bergolongan darah A. Dan saya sangat suka dengan keteraturan dan kehati-hatian.

TAPI, ketika keteraturan yang kucanangkan ini telah dirusak oleh pihak-pihak yang bisanya cuma suka-suka doank, disitu kadang aku merasa sedih. Ini bisa saja terjadi di suatu kelompok.

Aku sudah lama berorganisasi di X (sebut saja begitu). Dan sekarang masih. Walaupun mulai mundur teratur. Ketika aku mulai masuk berkecimpung di X itu, aku sangat berusaha buat menjadi anggota yang dapat diandalkan dan dapat bertanggung jawab. Semua akan kulakukan setepat mungkin dan seakurat mungkin. Aku juga berusaha mengumpulkan tugas sebelum deadline. Demi kebaikanku dan pandangan senior terhadapku.

TAPI, ternyata anggota yang lain tidak begitu. Mereka yang notabene sudah lebih dulu berkecimpung, mereka sangat tidak menghargai usahaku. Mereka ternyata lebih santai dibanding ekspektasiku. Mereka belum ngapa-ngapain, sedangkan deadline sudah di depan mata.

Sunggu aku nggak suka banget suasana seperti ini.

Lalu, apa yang terjadi, aku yang harus menyesuaikan itu. Aku ikut-ikutan santai dan ikut-ikutan gak peduli.

Lalu, ketika aku datang pertemuan sebelum waktunya, tapi yang lain belum datang..... Aku sebel banget dalam kondisi ini. Aku pulang lagi, lalu balik lagi ke tempat pertemuan. Di sana sudah banyak orang, dan yang mereka tau, AKU TELAT. Serealistis apapun alasanku, mereka tidak menghargaiku. AKU JENGKEL sungguh. Tapi aku masih bertahan sampai sekarang.

Lagi, aku orangnya memang gak terlalu suka mengiyakan tawaran tugas. Aku takut PHP. Kenapa? Karena siapa tahu, aku tidak mampu di tengah-tengah nanti. Lalu semua bubrah hanya karena aku. Semua menyalahkanku. Aku nggak mau itu terjadi. Maka, aku terima tugas yang benar-benar aku mampu. TERNYATA mereka tidak menyukai sifatku yang ini. ARTINYA mereka tidak bisa melihatku dari sudut pandang yang lain. Dan kuulangi lagi, serealistis apapun alasanku, mereka tidak menghargaiku.

Rasa bersalahku selalu muncul ketika pandangan mereka sangat tidak ramah terhadapku. Aku salah apa, aku memang tidak bisa, aku memang tidak mampu, kan sudah kubilang aku tidak bisa tapi dipaksa, aku ini udah usaha tapi semuanya sudah terjadi..... begitu seterusnya. Ini mulai membuatku tidak nyaman.

Dan akhir-akhir ini aku tahu, entah ini kebetulan atau memang benar, golongan darah O mendominasi dalam organisasi ini. Dilanjutkan dengan golongan darah B. Lalu, yang bergolongan darah A? Hanya aku. WHAT THE----

Semacam aku nggak mau menghubung-hubungkannya, tapi kok ya sesuai dengan uraian sifat-sifat golongan darah dalam suatu web yang pernah kubaca.

Setahun ini, ada anak baru di organisasi, dia pendiam dan lebih sering pasif. Kupikir dia sangat hati-hati dalam berucap. Dan ku ketahui dia bergolongan darah A. Dengan kondisi ini, aku yakin dia sangat tidak nyaman. Benar saja, aku lihat dia sudah jarang muncul dalam pertemuan 'yang kebanyakan hanya mbanyol'.

Oke... semua terjadi lagi, dan akan terus terjadi.

Catatan Hati Seorang Guru Privat: Widi

Kali ini aku mau cerita tentang murid privatku yang paling besar, namanya Widi. Widi adalah seorang cewek kelas X (1 SMA). Konon katanya dia mengeluhkan penjurusan yang sudah harus ditentukan sejak kelas satu. Karena di kurikulum 2013 memang harus gitu. Dia memilih jurusa IPA. Yang dia pikirkan hanyalah, IPA adalah jurusan yang keren. Tapi sekarang dia agak menyesal. Karena setelah setahun, ternyata dia lebih tertarik dalam hal hapal menghapal seperti pada pelajaran IPS.

Widi memiliki tingkat logika yang menurutku kurang. Dia selalu minta didikte kalau belajar. Kalau ngapalin Biologi saklek, gue juga gak bisa kali, dek... Aku kan ngapalin Biologi dengan logika. Biar terus menancap. Yaaa walaupun nggak nancap-nancap amat sih.. hahaha.

Yang paling disayangkan dari anak satu ini adalah, dia punya banyak buku pelajaran, tapi nggak pernah dia baca. Jadi, tiap les, aku harus mendikte materi-materi yang ada di buku. Dengan bahasaku sendiri tentunya. Kupikir, dia akan pusing kalau harus mengubah bahasa buku menjadi bahasa hapalan. Ternyata, dia benar-benar menjiplak apa yang aku katakan di catatannya. Aigooo~

Positif dari anak ini, dia memiliki sosial yang bagus. Aktif di berbagai kegiatan sekolah dan aktif juga dengan kegiatan luar sekolah yang melibatkan banyak sekolah. Makanya temen-temennya banyak. Mungkin ini dipengaruhi banyaknya media sosial juga ya.. Hmm..

Dari sifat positifnya ini, saya kadang kena imbas negatifnya. Dia sering membatalkan sepihak di jadwal les yang sudah ditentukan. Alasannya konyol.
1. Maaf kak, sore ini aku mau buka puasa di luar, jadi mulainya jam 7 aja ya. (Di sms terus sampe jam 8, ternyata belum kelar juga. Untung masih di rumah, jadi gak sia-sia gitu. Hahaha...)
2. Maaf kak, sore ini nggak les dulu, aku lagi nyuporterin tim sepak bola sekolahku. (Okelah baiklah. Cukup tau).
3. Maaf kak, malam ini lesnya pindah hari lain ya, aku capek banget habis ngasih surprise ultah temenku. (Ohh...)
4. Maaf kak, lesnya ganti pagi ya, libur kok besok. Soalnya malemnya aku jadi panitia acara blablabla. (Oke deh, dimaklumkan.)

Yaaa... semacam itu lah...

Dan lucunya lagi, dia kalo disuruh nyari jawaban tugas sendiri, lebih milih nyontek temennya daripada buka buku. Yaaa gak usah buka buku laahh.. minimal searching di google kan sekarang udah gampang.

Duh, remaja jaman sekarang.. Ckckck...

#CHSGP

Berat juga ya bawa nama almamater

Kalo gini jadinya, aku nyesel jadi mahasiswa UGM. Eh, nggak boleh gitu dink. Aku seneng kok di UGM. UGM mengajarkan banyak hal. Tapi, berat jadi alumni UGM. Harus keren dan kece setelah lulus. Padahal, aku yang klomoh-klomoh ini, kece aja enggak, apalagi keren. Hahaha.

Aku paling sebel kalo ada yang bilang, "Lulusan UGM kok gitu. Lulusan UGM kok gini. Lulusan UGM kok jomblo.." ehm.. abaikan yang terakhir.

UGM udah punya nama dimana-mana. Nah, kalau aku jadi orang biasa-biasa aja, emangnya salah? Yang penting kan aku masih di jalan yang benar kan? Apa penilaian derajat manusia di mata Allah itu dari pekerjaan dan gajinya? (nah nah dah mulai ceramah. hahaha)

Ah, intinya, aku sebel aja kalo harus dikaitkan dengan UGM. Lama-lama gue pake ijazah SMA aja lah -_-

#edisimalesnulis

Sebenernya, rencana indah apa yang udah disiapkan Allah padaku?

Hari ini aku sedih. Gak tau kenapa.

Aku bertanya-tanya terus dari kemarin. Sebenernya, rencana indah apa yang udah disiapkan Allah padaku?

Aku yang kini 24 tahun hampir 25, merasa tua. Memang benar aku tua, tapi aku nggak sedewasa umurku. Umurku masih serasa 18 tahun. Ini bukan semata-mata buat sok muda atau gimana. Tapi emang kayak gitu rasanya. Sebagai cewek, aku harusnya peka dengan segala hal yang berkaitan dengan "pekerjaan rumah". Aku harus banyak belajar. Dengan secepat kilat. Istilahnya, umur mentalku yang 18 harus bener-bener disejajarin dengan umur fisikku. Malu sama umur yang tercantum di KTP kan.

Aku nggak tau harus ngapain. Teman-temanku yang notabene lebih muda dari aku, malah menambah aku jadi semakin childish. Pastinya orangtuaku berharap aku dewasa, sesuai umurku yang sebenarnya. Tapi mereka hanya sekedar berharap dan berharap. Tanpa ada pengertian dan pembelajaran berarti buatku. Mereka malah menambahku menjadi takut dengan kedewasaan. Aku ngerasa aku pingin jadi anak kecil terus yang tiap hari nggak perlu bicara serius. Jadi aku nggak perlu repot ngurusi keuangan, atau cekcok masalah keluarga, atau perdebatan yang nggak masuk akal.

Di saat yang lain mulai berumah tangga, aku masih aja mainan gunting kertas di rumah. Bikin kamarku jadi kayak kelas di TK. Aku masih berpikir bahwa aku adalah seorang "anak". Aku sama sekali nggak melihat potensi diriku seperti apa. Aku udah pasrah sama hidupku. Aku udah nggak bisa lagi ngayal kayak dulu lagi. Yang ada aku cuma nangis tiap malam. Kenapa hidupku gak selancar kakakku? Kenapa aku gini-gini amat? Depresi tiap hari. Berat badan turun lagi, turun lagi. Senyumku udah tinggal senyum palsu. Nggak ada lagi kebahagiaan yang sebenarnya. Hanya kebahagiaan sederhana yang tersisa.

Pertanyaan yang selalu bergulir ketika aku sendirian di kamar, kenapa aku masih saja belum dipertemukan jodoh? Padahal harusnya umur segini aku udah ada calon. Kenapa juga aku belum diberi rezeki melalui pekerjaan yang tetap? Padahal aku udah lulus dari tahun kemarin. Usahaku yang gak santai ini juga harusnya diperhitungkan. Lagi-lagi, sebenarnya rencana indah apa yang udah disiapkan Allah padaku?

Dengan keadaan dimana aku jomblo, dimana aku nganggur, ini membuat orangtuaku bertanya-tanya. Aku ini sebenernya niat nggak sih? Seniat-niatnya aku, kalau ini belum ketentuan Allah buat aku menikah dan bekerja, aku nggak bisa mengelak lagi kan?

Aku nggak punya banyak kemampuan yang bisa dijadikan modal bekerja. Aku cemen dalam hal keberanian, aku payah dalam hal usaha. Aku yang lulusan biologi ini nggak punya keahlian berarti di bidang biologi. Bahkan bahasa inggris aja aku nggak lancar. Aku nggak mungkin berani daftar di perusahaan gedhe. Aku nggak bisa pinter ngomong, aku nggak mungkin bisa jadi pebisnis yang harus pinter marketing. Kata temenku, bekerjalah sesuai hobimu. Tapi hobiku aja nggak jelas. Aku cuma bisa ngeluh ngeluh dan ngeluh lewat blog ini. Ini sama sekali nggak membanggakan.

Oke, aku nggak tau aku harus nulis hal kayak gini sampai kapan.

Biarin aku nulis kejelekanku di blogku ini... Biar bisa jadi kaca di masa depan. Kalau saja aku besok bisa sukses dengan caraku sendiri. Aku pasti akan tertawa jika membaca tulisan ini. Iya kalau aku masih hidup sampai besok. Semoga aku masih bisa bermimpi dan menggapainya.

Catatan Hati Seorang Guru Privat: Jupan

Kini aku ingin bercerita tentang murid les ku yang bernama Jupan (bukan nama sebenarnya). Dia anak cowok kelas 2 SD. Keluarganya dahsyat semua. Bapak ibunya dokter lulusan S3. Jupan ini anak bungsu dari tiga bersaudara. Kakak pertamanya kelas 6 SD (cewek) dan kakak keduanya kelas 4 SD (cowok).

Jupan ini terobsesi dengan robot dan persenjataan. Walaupun orang tuanya dokter, dia bersikukuh pingin jadi tentara. Tiap les dimulai, bahkan sedang berlangsung, dia selalu berlakon seperti robot yang membawa senjata. "Deziuuu deziuuu!!!" Kepolosan anak ini kadang membuatku bingung sendiri.

Bukan itu yang ingin aku ceritakan sekarang. Aku ingin cerita tentang rasa keingintahuannya yang sangat tinggi. Dia tertarik banget sama pelajaran Agama Islam. Pertanyaan-pertanyaannya sering sekali berkaitan dengan nabi-nabi. Tak jarang pula menanyakan tentang tuntunan agama yang benar. Antara baik dan benar, dosa atau tidak, sampai dengan kenapa hal haram itu bisa jadi haram. Kayaknya habis selesai ngelesi bocah satu ini, aku bakal jadi filsuf sejati. Hahahaha...

Di sela-sela mengerjakan tugasnya, banyak pertanyaan yang membuatku jadi berkaca. Contohnya adalah mengenai aurat.

"Mbak, aurat perempuan itu kan seluruh tubuh kan? Kecuali muka dan telapak tangan. Iya kan?"
Aku: "Iya."
Jupan: "Berarti yang nggak pake kerudung itu dosa?"
Aku: "Menurutmu gimana?"
Jupan: "Dosa donk."
Aku: "Itu tau..."
Jupan: "Kaki juga nggak boleh kelihatan donk."
Aku: "Iyaa.. Harusnya gitu."
Jupan: "Berarti harus pakai kaos kaki kan?" (sambil ngeliatin kakiku)
Aku: "Iyaa.." (untung aku pakai kaos kaki. fyuuhh...)

Pertanyaan berlanjut.

Jupan: "Kalau aurat laki-laki itu mana aja mbak?"
Aku: "Dari pusar sampai lutut." (sambil menunjuk bagian pusar dan lutut)
Jupan: "Ooooh, tapi yang wajib menutupi aurat itu yang udah gede kan mbak?"
Aku: "Iya, yang udah dewasa. Namanya baligh. Kalau udah baligh, wajib menutup aurat."
(lalu hening)

Jupan: "Pemain bola itu kan pakai celana pendek. Lututnya keliatan. Berarti dosa donk?"
Aku: "Hmmmm... menurutmu gimana?"
Jupan: "Dosa donk." (diam sejenak) "Weeeeeee.... Dosa??? Aku nggak bisa jadi pemain bola donk??"
Aku: "Eh? Jupan boleh donk jadi pemain bola."
Jupan: "Tapi ntar lututku keliatan. Aku dosa donk.."
Aku: "Ya pake penutup lutut donk. Kan ada."
Jupan: "Oiyaa.. Tapi berarti pemain bola yang gak pake penututp lutut dosa donk."
Aku: "Hmmm... gini. Kalau ada perempuan nggak pake kerudung, dosa nggak?"
Jupan: "Dosa."
Aku: "Tapi boleh nggak?"
Jupan: "Boleh."
Aku: "Nah itu sama aja dengan pemain bola itu. Boleh aja kayak gitu, tapi dosa ditanggung sendiri sama mereka. Jupan ngerti?"
Jupan: "Iya iya... Hmmm.. gitu yaa.."


FYUHH~~

#CHSGP

Catatan Hati Seorang Guru Privat: Ara

Aku nggak punya adik kandung. Tapi aku punya kewajiban buat ngajarin anak kecil usia SD.
Sementara ini, aku adalah seorang guru privat di suatu lembaga bimbel. Yaa ini semacam freelance. Selagi aku belum mendapat pekerjaan tetap, aku memanfaatkan ini sebagai kesibukanku.

Ada beberapa kesulitan saat mengajari anak SD yang notabene itu bukan adik kandung kita.
Terutama jika dia adalah anak cewek yang susah diajari.

Saya punya 4 murid. Murid dengan usia SD ada 3, dua cowok dan satu cewek. Sisanya anak cewek tapi SMA. Anak SMA lebih mudah diajak kerjasama.

Kali ini aku ingin cerita tentang anak cewek kelas 4 SD yang jadi muridku. Sebut saja dia Ara.

Ara ini susah banget diajak belajar. Dia sukanya cuma cerita dan cerita. Padahal dulunya dia pernah juara perlombaan matematika antar SD. Tapi sekarang, semakin kesini dia semakin malas belajar. Aku curiga, mungkin ini dikarenakan gadget yang ada di genggamannya. Tapi ternyata tidak.

Dia nggak banyak pegang gadget ketika di rumah. Dia lebih suka mainan tanah di halaman. Tapi kenapa dia sulit diajak belajar ya?

Hobinya yang banyak cerita dan cerewetnya minta ampun itu bikin aku kewalahan buat meluruskannya kembali ke jalan yang benar (belajar maksudku). Dia suka banget cerita panjang lebar.

Apalagi setelah dia diajari guru pengganti sementara selama 3 minggu. Guru itu menggantikanku selama aku opname sampai pasca operasi beberapa waktu lalu. Guru itu mengubah sistem yang telah aku buat selama aku mengajari anak ini. Sistem apa?

Aku memiliki aturan khusus untuk Ara ini. Aku akan memberikan hadiah stiker penghargaan jika dia berhasil mengerjakan soal sampai nomor terakhir. Dan jika jawabannya 80% benar, aku memberinya stiker tambahan. Itu membuatnya bersemangat dalam belajar.

Tapi si guru pengganti itu telah merusak sistem dan mengubah cara pikir si anak.
Guru pengganti (sebut saja Mbak Ani) memberikan hadiah sebelum belajar dimulai, dan dia menuruti semua kemauan Ara. Ara paling sulit belajar matematika. Maka jika Ara tidak meminta belajar matematika, Mbak Ani tidak akan mengajarinya matematika. Pejalaran yang diberikan kebanyakan hanya Bahasa Inggris, yang padahal di sekolahnya tidak ada pelajaran Bahasa Inggris. Ara memang suka Bahasa Inggris. Bagus jika itu hanya untuk selingan dan tambahan pelajaran. Tidak bagus jika itu dijadikan pelajaran pokok saat les. Karena kelemahan anak ini adalah di matematika.

Perubahan drastis ku lihat setelah 3 minggu tidak bertemu. Nilainya anjlok lagi.
Awal pertemuan, kutemukan nilai matematika nya 40. Setelah ku beri treatment award kemarin, nilainya mulai meningkat menjadi 80, bahkan ada satu yang mendapat 100. Tiga minggu ku lepas, nilainya kembali ke 40.

Kesedihan apa yang kualami?

Air susu rusak karena nila setitik.

Aku hanya bisa menghela napas dan menceritakan keluhanku kepada orang tuanya. Orang tuanya memang menyayangkan hal ini. Tapi usut punya usut, si orang tua tidak pernah menemani Ara belajar. Seharusnya, pendampingan utama saat anak belajar di rumah adalah orang tuanya. Guru les semacam aku hanya memberikan pengertian kepada anak mengenai kesulitan yang didapat di sekolah.

Ah entahlah...

#CHSGP